Kehidupan Aril

Cerita

Friday, September 18, 2026

JENIS-JENIS PENELITIAN

 JENIS-JENIS PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Berdasarkan Tujuan

1. Penelitian Eksploratif

Penelitian eksploratif merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang baru yang sebelumnya belum pernah diketahui atau diteliti. Penelitian ini bersifat penjajakan atau studi pendahuluan yang mencoba menyediakan jawaban dari pertanyaan yang telah dirumuskan dalam masalah yang akan dijadikan prioritas dalam penelitian selanjutnya (Hardani dkk, 2020:64). Penelitian eksploratif dilakukan ketika peneliti belum memiliki gambaran yang jelas mengenai fenomena yang akan diteliti, sehingga penelitian ini berfungsi sebagai langkah awal untuk mendeskripsikan fenomena tersebut secara lebih jelas dan tuntas. Ciri utama penelitian eksploratif adalah terbatasnya sampel yang digunakan, sifatnya yang merupakan penjajakan, serta instrumen yang dipakai harus mampu mengungkapkan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan sesuai tujuan penelitian (Tamaulina dkk, 2023:65). Bentuk pertanyaan yang digunakan dalam penelitian eksploratif lebih banyak bersifat terbuka daripada terstruktur, sehingga mampu menampung atau mendeteksi sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan. Sumber informasi dalam penelitian ini dapat berupa sumber primer dan sekunder yang saling melengkapi dan menjelaskan. Penelitian eksploratif umumnya memakan waktu dan biaya yang cukup besar karena peneliti harus benar-benar menggali fenomena yang belum dikenal. Hasil dari penelitian eksploratif sering dianggap tidak memuaskan karena terkait dengan masalah sampling yang kurang representatif, namun penelitian ini tetap penting sebagai pembuka jalan bagi penelitian yang lebih mendalam. Dengan demikian, penelitian eksploratif berperan sebagai fondasi awal dalam rangkaian kegiatan ilmiah yang lebih komprehensif.

2. Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gambaran atau mendeskripsikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Hardani dkk, 2020:59). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai kondisi, situasi, atau variabel yang timbul di masyarakat berdasarkan apa yang terjadi, sehingga data yang dikumpulkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang fenomena yang diteliti (Ma'ruf Abdullah, 2015:29). Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak berupaya untuk menguji hubungan antarfakta, baik hubungan korelasional maupun hubungan kausalitas, sehingga rumusan hipotesis jarang ditemukan dalam penelitian jenis ini (Ma'ruf Abdullah, 2015:30). Penelitian deskriptif memusatkan pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang atau masalah yang aktual, dan data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif seperti persentase, rata-rata, median, dan modus. Menurut Sugiyono (2013), penelitian deskriptif dapat dilakukan terhadap variabel mandiri, baik satu variabel maupun lebih, tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain (Tamaulina dkk, 2023:6). Penelitian deskriptif juga dapat digunakan untuk menentukan frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk meminimalisasi bias dan memaksimumkan reliabilitas (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:62). Langkah-langkah dalam penelitian deskriptif biasanya mengikuti prosedur penelitian pada umumnya, yaitu merumuskan masalah, merumuskan tujuan, mengkaji pustaka, menetapkan populasi dan sampel, menyusun instrumen, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, serta menarik kesimpulan. Meskipun sering dianggap sederhana, penelitian deskriptif tetap memerlukan ketelitian dan kecermatan agar hasilnya dapat menggambarkan fenomena secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, penelitian deskriptif menjadi salah satu jenis penelitian yang paling banyak digunakan dalam berbagai bidang ilmu karena kegunaannya yang praktis dan aplikatif.

3. Penelitian Eksplanatif

Penelitian eksplanatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu generalisasi sampel terhadap populasinya atau menjelaskan hubungan, perbedaan, atau pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain (Ma'ruf Abdullah, 2015:80). Penelitian ini menggunakan sampel dan hipotesis dalam pelaksanaannya, serta menganalisis data menggunakan statistik inferensial untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan (Ma'ruf Abdullah, 2015:81). Penelitian eksplanatif berupaya mengkaji hubungan sebab-akibat di antara dua fenomena atau lebih, dan digunakan untuk menentukan apakah suatu eksplanasi valid atau tidak, atau menentukan mana yang lebih valid di antara dua eksplanasi yang saling bersaing (Siyoto & Sodik, 2015:17). Tujuan utama penelitian eksplanatif adalah untuk menguji teori yang sudah ada dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif, sehingga hasilnya dapat digunakan untuk memprediksi situasi yang sama pada populasi lain (Tamaulina dkk, 2023:62). Penelitian eksplanatif dapat dilakukan melalui survei dan eksperimen, di mana dalam eksplanasi survei peneliti diwajibkan membangun hipotesis dan mengujinya di lapangan, sedangkan dalam eksplanasi eksperimen peneliti memanipulasi variabel untuk mengamati efeknya (Ma'ruf Abdullah, 2015:81). Metode kuantitatif digunakan dalam penelitian eksplanatif untuk membuktikan hipotesis terhadap populasi atau sampel tertentu, menggambarkan fakta-fakta yang ada, dan menjelaskan hubungan antar variabel dengan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data statistik. Kesimpulan dalam penelitian eksplanatif bersifat deduktif, yaitu dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus, karena berangkat dari teori-teori yang membangunnya. Dengan demikian, penelitian eksplanatif memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan karena kemampuannya menjelaskan hubungan kausalitas dan menguji teori yang telah ada.

4. Penelitian Verifikatif

Penelitian verifikatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memverifikasi atau mengecek kebenaran hasil suatu penelitian terdahulu, apakah hasil penelitian tersebut benar atau keliru (Ma'ruf Abdullah, 2015:82). Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan keraguan atas temuan atau hasil penelitian sebelumnya, sehingga dapat memperkuat atau bahkan menggugurkan temuan tersebut (Ma'ruf Abdullah, 2015:120). Dalam penelitian verifikatif, peneliti berupaya menguji kebenaran suatu fenomena atau teori yang telah ada dengan menggunakan data empiris yang dikumpulkan secara sistematis. Penelitian verifikatif juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan hasil penelitian sebelumnya agar menjadi lebih maju dan komprehensif. Menurut Siyoto dan Sodik (2015:16), penelitian verifikatif bertujuan untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan apabila dirasa masih ada sesuatu yang diragukan, sehingga penelitian ini sangat penting dalam proses akumulasi pengetahuan ilmiah. Penelitian verifikatif biasanya menggunakan metode kuantitatif dengan analisis statistik untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan berdasarkan teori yang ada. Hasil dari penelitian verifikatif dapat berupa konfirmasi terhadap teori yang sudah ada, revisi teori, atau bahkan penolakan teori jika data empiris tidak mendukung. Dengan demikian, penelitian verifikatif berkontribusi pada penguatan atau penyempurnaan bangunan ilmu pengetahuan melalui proses pengujian yang berkelanjutan.

5. Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan adalah penelitian yang ditujukan untuk mengkaji atau mengembangkan temuan-temuan penelitian sebelumnya atau teori-teori penelitian yang sudah ada, baik untuk keperluan ilmu pengetahuan murni maupun untuk keperluan ilmu pengetahuan terapan (Ma'ruf Abdullah, 2015:82). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aspek ilmu pengetahuan dengan cara memperluas dan menggali lebih dalam apa yang sudah ada (Siyoto & Sodik, 2015:16). Dalam penelitian pengembangan, peneliti berupaya mengembangkan hasil penelitian atau teori sebelumnya yang telah ada sehingga semakin maju dan aplikatif. Penelitian pengembangan sering digunakan dalam bidang pendidikan dan teknologi, di mana produk yang dihasilkan dapat berupa model, pendekatan, metode pembelajaran, media, atau bahan ajar yang telah melalui proses validasi dan uji coba (Tamaulina dkk, 2023:152). Ciri utama penelitian pengembangan adalah adanya studi awal terkait produk yang akan dikembangkan, pengembangan produk berdasarkan temuan penelitian, uji lapangan dalam situasi asli, dan revisi untuk memperbaiki kelemahan yang ditemukan (Tamaulina dkk, 2023:153). Penelitian pengembangan bersifat longitudinal dan berlangsung dalam beberapa tahun, serta melibatkan metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental dalam pelaksanaannya. Hasil dari penelitian pengembangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan kontribusi nyata bagi pemecahan masalah praktis di lapangan. Dengan demikian, penelitian pengembangan menjadi jembatan antara penelitian teoritis dan penelitian praktis yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

B. Jenis Penelitian Berdasarkan Pendekatan

1. Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya (Siyoto & Sodik, 2015:17). Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, dengan teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random (Hardani dkk, 2020:238). Penelitian kuantitatif banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya yang dapat disertai dengan gambar, tabel, grafik, atau tampilan lainnya (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:61). Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori, dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam, di mana proses pengukuran menjadi bagian yang sentral (Siyoto & Sodik, 2015:18). Penelitian kuantitatif lebih menekankan pada aspek pengukuran secara objektif terhadap fenomena sosial, di mana setiap fenomena dijabarkan ke dalam beberapa komponen masalah, variabel, dan indikator (Siyoto & Sodik, 2015:17). Metode ini sering juga disebut metode tradisional, positivistik, ilmiah/scientific, dan metode discovery karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, empiris, objektif, terukur, rasional, dan sistematis (Hardani dkk, 2020:237). Dalam penelitian kuantitatif, analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul dengan menggunakan statistik deskriptif atau inferensial untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Hasil penelitian kuantitatif dapat digeneralisasikan pada populasi tertentu karena menggunakan sampel yang representatif dan teknik sampling yang tepat. Dengan demikian, penelitian kuantitatif sangat cocok digunakan untuk menguji teori, mengukur hubungan antar variabel, dan menghasilkan temuan yang dapat digeneralisasikan secara luas.

2. Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci (Hardani dkk, 2020:238). Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), dan disebut juga metode etnographi karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya (Zuchri Abdussamad, 2021:80). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:75). Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak dipandu oleh teori tetapi dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan pada saat penelitian di lapangan, sehingga analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dan kemudian dapat dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori (Zuchri Abdussamad, 2021:80). Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna, di mana makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang tampak (Zuchri Abdussamad, 2021:80). Penelitian kualitatif lebih menekankan pada kedalaman informasi sehingga sampai pada tingkat makna, dan generalisasi dalam penelitian kualitatif dinamakan transferability, artinya hasil penelitian tersebut dapat digunakan di tempat lain manakala tempat tersebut memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda (Zuchri Abdussamad, 2021:81). Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara triangulasi (gabungan), yang mencakup observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dengan demikian, penelitian kualitatif sangat cocok digunakan untuk memahami fenomena sosial yang kompleks, menggali makna di balik perilaku manusia, dan mengembangkan teori yang dibangun dari data lapangan.

3. Penelitian Campuran (Mixed Methods)

Penelitian campuran atau mixed methods merupakan pendekatan penelitian yang mengintegrasikan bentuk kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian untuk mendapatkan data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan objektif (Tamaulina dkk, 2023:115). Metode penelitian kombinasi kuantitatif-kualitatif difokuskan pada pengumpulan dan analisis data, menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif, dengan tujuan mencapai hasil penelitian yang lebih komprehensif daripada menggunakan satu pendekatan saja (Tamaulina dkk, 2023:116). Menurut Creswell, penelitian mixed methods adalah suatu pendekatan penelitian yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan bentuk penelitian kuantitatif dan kualitatif, yang melibatkan asumsi filosofis, penerapan kedua pendekatan tersebut, dan pencampuran keduanya dalam suatu studi (Tamaulina dkk, 2023:116). Terdapat dua model utama dalam metode kombinasi, yaitu model sequential (kombinasi berurutan) yang mencakup sequential explanatory dan sequential exploratory, serta model concurrent (kombinasi campuran) yang mencakup concurrent embedded dan concurrent triangulation (Tamaulina dkk, 2023:117). Penelitian campuran digunakan ketika peneliti ingin memperoleh data dan informasi yang lengkap, valid, reliabel, dan objektif, serta ketika satu metode penelitian tidak mencapai tujuannya (Tamaulina dkk, 2023:133). Keunggulan penelitian campuran adalah kemampuannya menjelaskan "mengapa temuan tersebut seperti itu" dengan menguatkan temuan kuantitatif melalui data kualitatif atau sebaliknya, sehingga hasil penelitian menjadi lebih kuat dan komprehensif (Tamaulina dkk, 2023:148). Namun, penelitian campuran juga memiliki keterbatasan, terutama jika metode kuantitatif dan kualitatif dilakukan secara simultan, yang dapat menimbulkan kesulitan bagi peneliti dalam menguasai kedua metodologi tersebut (Tamaulina dkk, 2023:148). Dengan demikian, penelitian campuran menjadi pilihan yang tepat ketika peneliti menghadapi masalah penelitian yang kompleks dan memerlukan pemahaman yang holistik dari berbagai perspektif.

C. Jenis Penelitian Berdasarkan Tempat dan Waktu

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan secara langsung di lokasi penelitian atau di lapangan tempat fenomena yang diteliti terjadi. Penelitian lapangan paling sering dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial karena lapangan dalam arti kehidupan di masyarakat begitu luas dan tidak terbatas, sehingga merupakan laboratorium raksasa yang menyediakan berbagai fenomena menarik untuk diteliti (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Dalam penelitian lapangan, peneliti berinteraksi langsung dengan subjek penelitian dan mengamati perilaku serta fenomena yang terjadi dalam konteks alamiah. Penelitian lapangan banyak dilakukan berhubungan dengan pranata, budaya, dan pengalaman hidup masyarakat, kelompok, dan individu dalam berbagai bidang kehidupan yang digeluti masing-masing (Ma'ruf Abdullah, 2015:88). Penelitian lapangan seringkali menyita banyak waktu, melibatkan emosi, dan secara fisik dapat mengundang bahaya karena peneliti harus benar-benar terjun ke lokasi untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:132). Teknik pengumpulan data dalam penelitian lapangan dapat dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial yang diteliti. Dengan demikian, penelitian lapangan sangat cocok digunakan untuk meneliti fenomena sosial yang memerlukan pemahaman kontekstual dan holistik.

2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang mengambil setting perpustakaan sebagai tempat penelitian dengan objek penelitian berupa bahan-bahan kepustakaan. Penelitian kepustakaan biasanya menghasilkan kesimpulan tentang kecenderungan sebuah teori yang digunakan dari waktu ke waktu, perkembangan sebuah paradigma, dan pendekatan ilmu pengetahuan tertentu (Ma'ruf Abdullah, 2015:86). Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal, laporan penelitian, dan dokumen-dokumen lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Penelitian kepustakaan memiliki kelemahan karena tidak semua objek penelitian yang sudah diteliti terekam dan tersimpan di perpustakaan, meskipun sekarang ini sudah tersedia berbagai macam bentuk media penyimpanan bahan pustaka seperti micro film, CD, DVD, dan library online (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Namun, penelitian kepustakaan tetap penting karena dapat memberikan landasan teoritis yang kuat bagi penelitian selanjutnya. Kajian pustaka membantu peneliti memahami konteks dan kerangka teoretis yang mendukung penelitian, serta menghindari duplikasi dengan penelitian yang sudah ada (Tamaulina dkk, 2023:155). Dengan demikian, penelitian kepustakaan merupakan langkah awal yang penting dalam setiap penelitian ilmiah karena memberikan fondasi pengetahuan yang diperlukan sebelum peneliti terjun ke lapangan.

3. Penelitian Laboratorium

Penelitian laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan kondisi yang dapat dikendalikan secara ketat. Penelitian laboratorium umumnya lebih banyak dilakukan oleh ilmu-ilmu alam seperti biologi, kimia, fisika, dan lainnya, tetapi seiring dengan berkembangnya pendekatan dalam ilmu-ilmu sosial, penelitian ilmu-ilmu sosial pun juga bisa dilakukan di laboratorium ilmu sosial seperti laboratorium bahasa dan persidangan pengadilan untuk menguji masalah-masalah hukum (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Dalam penelitian laboratorium ilmu-ilmu sosial, manusia tidak hanya dilihat sebagai objek penelitian tetapi juga sebagai subjek penelitian, sehingga rekayasa-rekayasa manusia dalam laboratorium tidak dilihat dari segi fisiknya melainkan pada hubungan-hubungan sosial yang dilakukannya (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Penelitian laboratorium memungkinkan peneliti untuk mengontrol variabel-variabel yang diteliti secara ketat sehingga dapat mengidentifikasi hubungan sebab-akibat dengan lebih akurat. Namun, penelitian laboratorium juga memiliki kelemahan karena situasi yang artificial dan tidak alami dapat mempengaruhi validitas eksternal hasil penelitian. Dengan demikian, penelitian laboratorium cocok digunakan untuk penelitian yang memerlukan kontrol ketat terhadap variabel dan kondisi penelitian.

4. Penelitian Longitudinal

Penelitian longitudinal adalah penelitian yang meneliti sebuah gejala yang terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Penelitian ini meneliti perkembangan sesuatu aspek atau sesuatu hal dalam seluruh periode waktu atau tahapan perkembangan tertentu (Siyoto & Sodik, 2015:11). Penelitian longitudinal secara langsung mengukur sifat (nature) dan tingkat (rate) perubahan dalam satu sampel yang sama pada tingkatan (stages) yang berbeda (Hardani dkk, 2020:249). Ciri-ciri penelitian longitudinal meliputi waktu penelitian yang lama, memerlukan biaya yang relatif besar, melibatkan populasi yang mendiami wilayah tertentu, dan dipusatkan pada perubahan variabel amatan dari waktu ke waktu (Hardani dkk, 2020:249). Penelitian longitudinal memerlukan keaktifan peneliti untuk mencatat secara rutin kemajuan yang didapat oleh objek penelitian, sehingga kebanyakan peneliti menganggapnya kurang efisien karena memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang banyak (Ma'ruf Abdullah, 2015:83). Contoh penelitian longitudinal adalah penelitian untuk mengetahui perkembangan karier seorang dosen dari awal masuk menjadi dosen dengan status calon pegawai sampai mendapat pangkat akademik tertinggi yaitu guru besar. Dengan demikian, penelitian longitudinal sangat cocok digunakan untuk meneliti perubahan dan perkembangan suatu fenomena dalam jangka waktu yang panjang.

5. Penelitian Cross-Sectional

Penelitian cross-sectional adalah penelitian yang tidak menggunakan objek penelitian yang sama tetapi dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini secara tidak langsung mengukur sifat dan tingkat yang sama dengan mengambil sampel yang berbeda dari tingkatan (levels), atau studi kecenderungan (trend) yang dirancang untuk menentukan pola-pola perubahan masa lalu dalam rangka meramalkan pola kondisi masa depan (Hardani dkk, 2020:249). Penelitian cross-sectional memiliki tiga ciri distingtif, yaitu tidak berdimensi waktu, bergantung pada perbedaan-perbedaan yang ada daripada perubahan akibat intervensi, dan kelompok didasarkan pada perbedaan yang ada daripada pengelompokan acak (Hardani dkk, 2020:250). Cara penelitian cross-sectional dapat dilakukan lebih cepat, data yang dikumpulkan juga lebih banyak, dan dari segi waktu lebih efisien, hanya mungkin lika-liku perjalanan karirnya tidak sempat dicatat secara lengkap dibandingkan dengan penelitian longitudinal (Ma'ruf Abdullah, 2015:83). Penelitian cross-sectional boleh dikatakan merupakan kompromi antara one-shot method (menembak satu kali terhadap kasus) dan penelitian longitudinal (menembak beberapa kali) terhadap kasus yang sama (Ma'ruf Abdullah, 2015:84). Dengan demikian, penelitian cross-sectional sangat cocok digunakan untuk meneliti fenomena yang terjadi pada satu titik waktu tertentu dengan efisiensi waktu dan biaya yang lebih baik.

D. Jenis Penelitian Berdasarkan Rancangan

1. Penelitian Korelasional

Penelitian korelasional merupakan penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara satu atau beberapa ubahan dengan satu atau beberapa ubahan lain, dan sering disebut sebagai associational research (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:67). Dalam penelitian korelasional, peneliti tidak mencoba mempengaruhi ubahan-ubahan tersebut, melainkan hanya mengamati hubungan yang terjadi secara alami. Tujuan utama penelitian korelasional adalah menolong menjelaskan pentingnya tingkah laku manusia atau untuk meramalkan suatu hasil, sehingga penelitian ini kadang-kadang berbentuk penelitian deskriptif karena menggambarkan hubungan atau ubahan-ubahan yang diteliti (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:67). Penelitian korelasional dapat digunakan apabila ubahan-ubahan yang diteliti kompleks dan/atau tidak dapat diteliti dengan metode eksperimen dan tidak dapat pula dimanipulasi (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:67). Keterbatasan penelitian korelasional adalah hasilnya hanya mengidentifikasi "apa sejalan dengan apa" tetapi tidak mengidentifikasikan saling pengaruh yang bersifat kausal, serta kurang tertib ketat apabila dibandingkan dengan tipe penelitian eksperimen (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:68). Dengan demikian, penelitian korelasional sangat berguna untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel dan membuat prediksi, meskipun tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat secara pasti.

2. Penelitian Kausal-Komparatif

Penelitian kausal-komparatif merupakan penelitian yang data-datanya dikumpulkan setelah semua fenomena atau kejadian yang diteliti berlangsung, atau tentang hal-hal yang telah terjadi sehingga tidak ada yang dikontrol (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:68). Penelitian ini menjajaki ke belakang, ke masa peristiwa itu terjadi penyebab suatu peristiwa atau kejadian yang menjadi objek penelitian, dengan membandingkan fenomena pada kelompok yang ada peristiwa dan pada kelompok yang tidak terjadi peristiwa itu (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:68-69). Penelitian kausal-komparatif dapat menentukan penyebab, efek, atau konsekuensi yang ada di antara dua kelompok atau beberapa kelompok, dan diawali dengan mencatat perbedaan di antara dua kelompok, selanjutnya mencari kemungkinan penyebab, efek, atau konsekuensi (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:69). Kelemahan penelitian kausal-komparatif adalah variabel bebas tidak dapat dikontrol karena kegiatan yang diteliti telah terjadi, kurang dapat dilaksanakan pemilihan kelompok penelitian secara random, dan sangat sulit untuk menentukan apakah faktor-faktor yang relevan betul-betul telah termasuk ke dalam faktor yang sudah diidentifikasikan (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:69). Dengan demikian, penelitian kausal-komparatif sangat berguna untuk meneliti hubungan sebab-akibat pada peristiwa yang sudah terjadi, meskipun memiliki keterbatasan dalam hal kontrol variabel.

3. Penelitian Eksperimental

Penelitian eksperimental merupakan satu-satunya penelitian yang akurat dan teliti dibandingkan dengan penelitian lain dalam menentukan hubungan sebab-akibat, karena dalam penelitian ini peneliti berdaya dan dapat melakukan pengawasan terhadap variabel bebas baik sebelum maupun selama penelitian (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:72). Metode eksperimen merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap dampaknya dalam kondisi yang terkendalikan (Hardani dkk, 2020:345). Keunikan penelitian eksperimen adalah satu-satunya tipe penelitian yang memberi kesempatan pada peneliti untuk secara langsung dapat memengaruhi variabel penelitian, dan satu-satunya penelitian yang dapat menguji hipotesis tentang relasi hubungan sebab-akibat (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:72). Kelemahan penelitian eksperimen antara lain situasi lingkungan yang artificial, adanya efek peneliti sendiri (experimenter effect), dan sulitnya mengontrol variabel extraneous di lingkungan alami (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:72-73). Keuntungan penelitian eksperimen adalah dapat ditentukan pengaruh atau akibat variabel bebas terhadap variabel terikat, pembuktian hipotesis menjadi lebih baik, dan temuan penelitian lebih akurat dan teliti (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:73). Dengan demikian, penelitian eksperimental merupakan metode yang paling kuat untuk menguji hubungan sebab-akibat, meskipun memerlukan kontrol yang ketat dan kondisi yang terkendali.

4. Penelitian Tindakan (Action Research)

Penelitian tindakan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru, pendekatan baru, atau informasi yang berguna bagi peneliti dan sekelompok orang yang menjadi target group penelitian (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:70). Penelitian tindakan mencoba memecahkan suatu masalah dengan langsung mengaplikasikan tindakan pada lingkungan tertentu dalam latar alami, dan diawali dengan suatu rencana tindakan, tindakan, observasi, dan refleksi (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:70). Ciri-ciri penelitian tindakan adalah bersifat praktis dan relevan dengan situasi aktual dalam masyarakat, menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk memecahkan masalah atau pengembangan, fleksibel dan adaptif, partisipatoris, serta self evaluation (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:71). Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk penelitian refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi sosial dalam rangka meningkatkan penalaran dan keadilan praktik sosial (Tamaulina dkk, 2023:240). Tujuan penelitian tindakan adalah untuk meningkatkan praktik tertentu dalam situasi kerja tertentu, serta melibatkan kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan hubungan sosial yang terkait (Tamaulina dkk, 2023:243). Dengan demikian, penelitian tindakan sangat cocok digunakan dalam konteks pendidikan dan pengembangan organisasi, di mana intervensi praktis dapat membantu meningkatkan kualitas proses dan hasil.

E. Jenis Penelitian Berdasarkan Bidang Ilmu

1. Penelitian Pendidikan

Penelitian pendidikan merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan dan mengembangkan ilmu pendidikan. Penelitian pendidikan dapat menggunakan berbagai pendekatan, baik kuantitatif, kualitatif, maupun campuran, tergantung pada masalah dan tujuan yang hendak dicapai (Tamaulina dkk, 2023:8). Dalam penelitian pendidikan, peneliti dapat meneliti berbagai aspek seperti proses pembelajaran, siswa, guru, kurikulum, media pembelajaran, dan hasil belajar. Penelitian pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemahaman yang lebih baik tentang proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:50). Contoh penelitian pendidikan adalah penelitian tentang pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa, atau penelitian tentang efektivitas media pembelajaran dalam meningkatkan pemahaman konsep. Dengan demikian, penelitian pendidikan memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

2. Penelitian Sosial

Penelitian sosial merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, politik, ekonomi, dan komunikasi. Penelitian sosial bertujuan untuk memahami fenomena sosial, perilaku manusia, dan interaksi sosial dalam konteks masyarakat (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:40). Penelitian sosial dapat menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau campuran, tergantung pada sifat fenomena yang diteliti dan tujuan penelitian. Dalam penelitian sosial, peneliti harus memahami konteks sosial, budaya, dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku manusia, sehingga memerlukan pendekatan yang holistik dan kontekstual (Salim & Syahrum, 2012:42). Contoh penelitian sosial adalah penelitian tentang perilaku memilih dalam pemilu, penelitian tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan, atau penelitian tentang interaksi sosial di media sosial. Dengan demikian, penelitian sosial sangat penting untuk memahami dinamika masyarakat dan memberikan kontribusi bagi pemecahan masalah-masalah sosial.

3. Penelitian Kesehatan

Penelitian kesehatan merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang kesehatan dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah kesehatan dan mengembangkan ilmu kesehatan. Penelitian kesehatan dapat menggunakan berbagai metode penelitian, termasuk metode kuantitatif, kualitatif, dan campuran, serta dapat dilakukan di laboratorium, rumah sakit, puskesmas, atau masyarakat (Hardani dkk, 2020:249). Dalam penelitian kesehatan, peneliti dapat meneliti berbagai aspek seperti penyakit, pengobatan, pencegahan, pelayanan kesehatan, dan perilaku kesehatan. Penelitian kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:62). Contoh penelitian kesehatan adalah penelitian tentang efektivitas obat tertentu dalam mengobati penyakit, penelitian tentang faktor risiko penyakit jantung, atau penelitian tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan demikian, penelitian kesehatan memainkan peran penting dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan pengembangan ilmu kesehatan.

4. Penelitian Ekonomi dan Bisnis

Penelitian ekonomi dan bisnis merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang ekonomi dan bisnis dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi dan bisnis serta mengembangkan ilmu ekonomi dan bisnis. Penelitian ekonomi dan bisnis dapat menggunakan berbagai metode penelitian, termasuk metode kuantitatif, kualitatif, dan campuran, serta dapat dilakukan di perusahaan, pasar, atau lembaga keuangan (Ma'ruf Abdullah, 2015:75). Dalam penelitian ekonomi dan bisnis, peneliti dapat meneliti berbagai aspek seperti perilaku konsumen, strategi pemasaran, kinerja keuangan, dan kebijakan ekonomi. Penelitian ekonomi dan bisnis bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena ekonomi dan bisnis serta memberikan rekomendasi bagi pengambilan keputusan (Ma'ruf Abdullah, 2015:76). Contoh penelitian ekonomi dan bisnis adalah penelitian tentang pengaruh iklan terhadap keputusan pembelian, penelitian tentang analisis kinerja keuangan perusahaan, atau penelitian tentang dampak kebijakan moneter terhadap inflasi. Dengan demikian, penelitian ekonomi dan bisnis sangat penting untuk pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis serta peningkatan kinerja organisasi dan perekonomian.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hardani, dkk. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu.

Ismail Nurdin & Sri Hartati. (2019). Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Penerbit Media Sahabat Cendekia.

Ma'ruf Abdullah. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Salim & Syahrum. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Citapustaka Media.

Siyoto, S. & Sodik, M.A. (2015). Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing.

Tamaulina Br. Sembiring, dkk. (2023). Buku Ajar Metodologi Penelitian (Teori dan Praktik). Karawang: CV Saba Jaya Publisher.

Zuchri Abdussamad. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: CV. Syakir Media Press.

 

0 comments:

Post a Comment