Kehidupan Aril

Almamater Universitas Syiah Kuala

Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

Senam Massal

Senam Massal di Lapangan Tugu Universitas Syiah Kuala.

Lhok Mata Ie Beach

Pantai Lhok Mata Ie Di Banda Aceh.

Furious FC

Tim Sepakbola Mahasiswa PJKR USK Let 24.

Gunung Sibayak

Kawah Gunung Sibayak 2212 MDPL.

Muaythai

Seni Wai Kru Individu MuayThai pada Pra PORA ACEH.

POLDA ACEH

Senam Massal Bersama POLDA ACEH.

Bukit Gundul

Sabana Bukit Gundul 1972 MDPL di puncak Sipiso-piso.

Proka FC

Tim Futsal dan Sepakbola Pematangsiantar.

ROHIS SMAN 2 PEMATANGSIANTAR

Organisasi Keagamaan Islam di SMAN 2 Pematangsiantar.

Cerita

Wednesday, August 26, 2026

KONSEP-KONSEP DASAR PENELITIAN

 A. Kebenaran

Pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) pada dasarnya berawal dari rasa kagum manusia terhadap alam semesta yang dihadapinya, baik alam yang berskala besar (macro cosmos) maupun alam yang berskala kecil (micro cosmos). Rasa kagum tersebut kemudian melahirkan rasa ingin tahu (curiousity), yang hanya bisa terpuaskan apabila manusia mendapatkan penjelasan yang memadai atas apa yang dipertanyakannya. Untuk itulah manusia menempuh berbagai upaya guna memperoleh pengetahuan yang benar, atau yang biasa disebut kebenaran. Secara garis besar, upaya pencarian kebenaran ini dapat dibedakan menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan tradisional (non-ilmiah) dan pendekatan modern (ilmiah).

 1. Pendekatan Non-Ilmiah

Pendekatan non-ilmiah adalah upaya memperoleh pengetahuan atau memahami suatu fenomena yang dilakukan secara tradisional, tanpa melalui langkah-langkah sistematis seperti dalam penelitian ilmiah. Pendekatan ini muncul secara alami di tengah masyarakat, seiring munculnya berbagai fenomena atau masalah yang membutuhkan penjelasan. Beberapa cara yang biasa ditempuh dalam pendekatan non-ilmiah ini antara lain:

  • Akal sehat (common sense) 
    merupakan konsep atau pandangan umum yang digunakan manusia secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, akal sehat memang bisa mengandung kebenaran, namun di sisi lain akal sehat juga dapat menyesatkan manusia dalam mengambil keputusan. Contohnya adalah pandangan bahwa air akan selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah, padahal dalam peristiwa kapilaritas, air yang menggenang justru bisa diserap oleh kain, spons, atau kertas isap.
  • Wahyu
    yaitu pengetahuan yang datang langsung dari Tuhan, sama sekali bukan hasil usaha aktif manusia melalui penalaran. Karena berasal langsung dari Tuhan, pengetahuan melalui wahyu dianggap sebagai kebenaran yang bersifat mutlak. Namun demikian, tidak semua manusia dapat memperolehnya; hanya mereka yang dekat dengan Tuhan serta bersih jiwa dan hatinyalah yang berkesempatan mendapatkan wahyu.
  • Intuisi
    yaitu kemampuan untuk memahami sesuatu melalui bisikan hati, tanpa melalui proses penalaran yang panjang.
  • Penemuan secara kebetulan
    dalam sejarah kehidupan manusia, tercatat beberapa penemuan besar yang terjadi secara kebetulan, tanpa melalui langkah-langkah sebagaimana dikehendaki dalam penelitian ilmiah. Contoh yang terkenal adalah penemuan kina sebagai obat malaria. Menurut cerita, seorang penderita malaria secara tidak sengaja menemukan parit berisi air pahit akibat kulit pohon kina yang tumbang oleh angin. Karena kehausan, ia pun meminum air tersebut, dan ternyata air pahit itu mengandung kinine dan kinolin—sejenis alkaloid yang justru menjadi obat penawar bagi penyakit malaria yang dideritanya.
  • Coba-coba (trial and error)
    yaitu serangkaian percobaan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan menggunakan cara dan materi yang berbeda-beda, tanpa menggunakan metode yang sistematis. Cara ini tergolong kurang efisien dan kurang efektif dalam mencari pengetahuan. Meskipun sering kali berhasil menemukan pengetahuan tertentu, hasil dari usaha coba-coba tetap tidak dapat dikategorikan sebagai penemuan ilmiah, karena tidak ditempuh melalui prosedur ilmiah yang semestinya.

2. Pendekatan Ilmiah (Modern)

Berbeda dengan pendekatan non-ilmiah, pendekatan ilmiah merupakan suatu usaha untuk mencari ilmu pengetahuan dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah yang didukung oleh langkah-langkah tertentu yang bersifat sistematis. Melalui pendekatan ini, manusia berusaha memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional sekaligus empiris.

Setidaknya terdapat tiga pola pikir yang berkembang dalam pendekatan ilmiah, yaitu:

  • Pola pikir deduktif, yang banyak dianut oleh penganut aliran rasionalisme. Aliran ini berpandangan bahwa ide tentang kebenaran sesungguhnya sudah ada sejak awal, dan akal pikiran manusia dapat mengetahui ide tentang pengetahuan serta kebenaran tanpa harus melihat langsung ke dunia nyata. Kelemahan mendasar dari aliran rasionalisme ini adalah sulitnya mencari kata sepakat yang dapat dijadikan landasan berpikir bersama secara universal, mengingat setiap individu memiliki keunikan cara berpikirnya masing-masing meskipun manusia juga merupakan makhluk sosial.
  • Pola pikir induktif, yang dikembangkan oleh penganut aliran empirisme. Aliran ini beranggapan bahwa kebenaran dan ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui pengalaman langsung. Namun demikian, aliran empirisme pun memiliki kelemahan, yaitu gejala-gejala yang terdapat dalam fenomena alam sesungguhnya tidak akan memiliki arti apa pun sebelum diberi tafsiran melalui akal pikiran manusia.
  • Pola pikir gabungan deduktif-induktif, yang lahir dari aliran convergency sebagai upaya mengatasi kelemahan kedua aliran sebelumnya. Aliran convergency berpandangan bahwa kebenaran dapat ditemukan melalui usaha berpikir yang kemudian ditindaklanjuti dengan pencarian bukti-bukti nyata dalam kehidupan. Dengan demikian, aliran rasionalisme memberikan kerangka berpikir logis, sementara aliran empirisme memberikan kerangka untuk membuktikan atau memastikan kebenaran tersebut secara nyata.
Perpaduan kedua pola pikir inilah yang kemudian mendorong lahirnya metode ilmiah. Melalui metode ilmiah, kebenaran dapat diperoleh lewat kegiatan penelitian yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan terkontrol, dengan berlandaskan pada data-data empiris. Oleh karena sifatnya yang obyektif, kebenaran yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah pun cenderung bersifat konsisten. Dapat dikatakan bahwa lahirnya metode ilmiah merupakan salah satu penemuan yang paling brilian dalam sejarah pemikiran manusia, karena mampu menjadi jembatan antara kekuatan nalar dan kenyataan empiris dalam upaya manusia mencari kebenaran.