METODE
PENELITIAN PENGEMBANGAN (RESEARCH AND DEVELOPMENT): KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS
Penelitian dan
pengembangan (Research and Development/R&D) merupakan salah satu
metode penelitian yang semakin populer dalam bidang pendidikan dan
pembelajaran. Metode ini tidak hanya berfokus pada pengujian teori, tetapi
lebih menekankan pada pengembangan produk yang dapat langsung dimanfaatkan
untuk memecahkan masalah praktis di lapangan. Dalam konteks pendidikan, R&D
digunakan untuk menghasilkan berbagai produk seperti bahan ajar, media
pembelajaran, model pembelajaran, instrumen evaluasi, dan sistem pengelolaan
pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif.
Artikel ini
akan menguraikan secara komprehensif tentang metode penelitian pengembangan
berdasarkan sumber-sumber utama yang relevan, khususnya dari Sembiring et al.
(2023), Sugiyono (2013), Abdullah (2015), dan Nurdin & Hartati (2019).
Pembahasan mencakup definisi, karakteristik, level, langkah-langkah, metode,
perbandingan dengan jenis penelitian lain, kelebihan dan kekurangan, serta
sistematika penulisan laporan penelitian pengembangan.
A. Definisi
Penelitian Pengembangan
Menurut
Sugiyono (2013:297), “metode penelitian dan pengembangan adalah metode
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji
keefektifan produk tersebut” (Sugiyono, 2013, dalam Hardani et al., 2020:151).
Definisi ini menegaskan bahwa R&D memiliki dua tujuan utama: pertama,
menghasilkan produk; kedua, menguji keefektifan produk tersebut agar dapat
berfungsi di masyarakat luas.
Lebih lanjut,
Sugiyono menjelaskan bahwa untuk menghasilkan produk tertentu digunakan
penelitian yang bersifat analisis kebutuhan (digunakan metode survei atau
kualitatif), dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat
berfungsi di masyarakat luas diperlukan penelitian eksperimen (Sugiyono, 2013,
dalam Hardani et al., 2020:151). Dengan demikian, R&D mencakup dua fase
utama: fase pengembangan produk dan fase pengujian efektivitas produk.
Sembiring et
al. (2023:151) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan pendidikan
merupakan proses untuk merancang dan memvalidasi produk pendidikan. Ini
mencakup langkah-langkah pengembangan produk baru atau perbaikan produk yang
sudah ada dengan pertanggungjawaban. Lebih lanjut, L.R. Gay menyatakan bahwa
penelitian dan pengembangan bertujuan untuk menghasilkan produk yang efektif
untuk digunakan di sekolah, bukan untuk menguji teori (Sembiring et al.,
2023:151). Penelitian pengembangan adalah kajian sistematik terhadap desain,
pengembangan, dan evaluasi program pembelajaran dengan kriteria validitas,
kepraktisan, dan efektivitas.
Richey and
Klein (dalam Sembiring et al., 2023:151) menambahkan bahwa pengembangan
melibatkan penerjemahan desain ke bentuk fisik terkait dengan desain belajar
sistematik, dengan evaluasi untuk menciptakan produk baru atau meningkatkan
model pengembangan yang ada. Analisis kebutuhan digunakan untuk menghasilkan
produk, dan penelitian diperlukan untuk menguji keefektifan produk tersebut di
masyarakat.
Dalam
perspektif yang lebih luas, Abdullah (2015:82) menjelaskan bahwa penelitian
pengembangan adalah penelitian yang ditujukan untuk mengkaji atau mengembangkan
temuan-temuan penelitian sebelumnya atau teori-teori penelitian yang sudah ada,
baik untuk keperluan ilmu pengetahuan murni maupun terapan. Penelitian
pengembangan juga dapat diartikan sebagai penelitian yang mengaplikasikan teori
di masyarakat, dan biasanya digunakan untuk ilmu-ilmu terapan seperti
sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, hukum, komunikasi, dan lain-lain.
Sementara itu,
Nurdin & Hartati (2019:67-68) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan (developmental
studies) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mencoba mengetahui
perkembangan subjek, misalnya bagaimana bayi berkembang ditinjau dari fisik dan
psikisnya. Penelitian perkembangan memusatkan pada variabel-variabel
perkembangannya selama beberapa kurun waktu. Penelitian ini menyelidiki
pola-pola dan perurutan perkembangan dan pertumbuhan, dan bagaimana variabel
berhubungan satu sama lain dan mempengaruhi sifat-sifat pertumbuhan dan
perkembangan itu.
Berdasarkan
berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian dan pengembangan
(R&D) merupakan suatu proses kajian sistematis untuk mengembangkan dan
memvalidasi produk pendidikan. Produk yang dihasilkan meliputi bahan pelatihan,
materi ajar, media pembelajaran, soal-soal, dan sistem pengelolaan
pembelajaran. Harapannya, produk-produk R&D ini dapat meningkatkan
produktivitas pendidikan (Sembiring et al., 2023:151).
B.
Karakteristik Penelitian Pengembangan
Borg and Gall
(1989) dalam Sugiyono (2015:35) menjelaskan empat ciri utama dalam penelitian
dan pengembangan:
- Studying Research Findings
Pertinent to The Product to be Develop.
Pada tahap ini peneliti melakukan studi atau penelitian awal untuk mencari
temuan-temuan penelitian terkait dengan produk yang akan dikembangkan.
Penelitian awal dapat dilakukan dengan pendekatan kualitatif maupun
kuantitatif, ataupun kedua-duanya.
- Developing the Product Base on
This Findings. Setelah jelas kebutuhan apa
yang penting untuk segera dipenuhi, pada tahap ini peneliti dituntut untuk
mencari literatur terbaru yang relevan dengan kebutuhan dan masalah yang
sudah berhasil teridentifikasi pada tahap sebelumnya.
- Melakukan uji lapangan dalam
situasi asli di mana produk akan digunakan.
- Melakukan revisi untuk
memperbaiki kelemahan yang ditemukan selama uji lapangan (Sembiring et al., 2023:152).
Santyasa (dalam
Sembiring et al., 2023:153) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Menyelesaikan masalah nyata
terkait inovasi pembelajaran.
- Mengembangkan model,
pendekatan, metode pembelajaran, dan media yang mendukung pencapaian
kompetensi siswa.
- Melibatkan proses pengembangan
produk dengan validasi melalui uji ahli dan uji lapangan terbatas, untuk
memastikan manfaatnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Proses ini
harus dideskripsikan secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara
akademik.
- Mendokumentasikan dengan rapi
dan melaporkan secara sistematis pengembangan model, pendekatan, modul,
metode, dan media pembelajaran sesuai dengan kaidah penelitian yang
mencerminkan originalitas.
Van Den Akker
(dalam Sembiring et al., 2023:153) menyoroti beberapa motif penelitian dan
pengembangan, yaitu:
- Motif dasarnya adalah bahwa
penelitian umumnya dilakukan secara tradisional, seperti eksperimen,
survei, dan analisis korelasi. Fokusnya pada analisis deskriptif yang
kurang memberikan hasil yang bermanfaat untuk desain dan pengembangan
dalam pendidikan.
- Kompleksitas perubahan
kebijakan dalam dunia pendidikan mendorong perlunya pendekatan penelitian
yang lebih evolusioner, yakni interaktif dan siklis.
- Penelitian di bidang pendidikan
sering kali dipertanyakan dalam hal relevansi karena kurangnya bukti yang
meyakinkan.
C. Level
Penelitian Pengembangan
Sugiyono
(2016:32-33) menjelaskan bahwa secara metodologis, penelitian dan pengembangan
mempunyai empat level, yaitu:
- Level 1 (yang paling rendah tingkatannya) adalah
penelitian untuk menghasilkan rancangan, tetapi tidak dilanjutkan dengan
membuat produk atau mengujinya.
- Level 2 adalah peneliti tidak melakukan
penelitian, tetapi langsung menguji produk yang ada.
- Level 3 adalah peneliti melakukan penelitian
untuk mengembangkan (merevisi) produk yang telah ada, membuat produk
revisi dan menguji keefektifan produk tersebut.
- Level 4 adalah penelitian untuk menciptakan
produk baru dan menguji keefektifan produk tersebut (Sembiring et al.,
2023:157-158).
Pemahaman
terhadap level-level ini penting bagi peneliti untuk menentukan skala dan
kedalaman penelitian pengembangan yang akan dilakukan, disesuaikan dengan
kesulitan, keterbatasan, dan kebutuhan di lapangan.
D.
Langkah-Langkah Penelitian Pengembangan Menurut Sugiyono
Sugiyono
(2013:298) mengemukakan bahwa secara konseptual, pendekatan penelitian dan
pengembangan terdiri dari 10 langkah yang saling berurutan (Sembiring et al.,
2023:154-156). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Potensi dan
Masalah
Penelitian
dapat berangkat dari adanya potensi dan masalah. Potensi adalah segala sesuatu
yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah. Masalah adalah penyimpangan
antara yang diharapkan dengan yang terjadi (Sugiyono, 2011:299). Masalah ini
dicari melalui kegiatan observasi dan wawancara langsung. Penelitian dimulai
dengan menganalisis kebutuhan untuk mengidentifikasi potensi masalah yang dapat
dijadikan dasar penelitian. Langkah ini juga melibatkan pengumpulan studi
pustaka dalam lingkup yang relevan sebagai rujukan penelitian.
2. Pengumpulan
Data
Setelah potensi
dan masalah teridentifikasi secara faktual, dilakukan pengumpulan informasi dan
studi literatur untuk merancang produk yang diharapkan mampu mengatasi masalah
tersebut. Perlu dikumpulkan berbagai informasi seperti pengumpulan materi-materi
sesuai dengan tujuan pembelajaran, gambar-gambar, audio yang sesuai dengan
kebutuhan media yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk
tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
3. Desain
Produk
Pada tahap ini,
peneliti mulai membuat desain produk awal yang bersifat hipotetik, karena
efektivitasnya belum terbukti. Desain dapat berupa gambar, bagan, atau
representasi lain yang digunakan sebagai panduan dalam menilai dan membangun
produk. Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan melalui
penelitian R&D yaitu merancang desain flowchart, storyboard, naskah dan
desain media, serta bahan penyerta. Hasil akhir dari kegiatan penelitian dan
pengembangan adalah berupa desain produk yang lengkap dengan spesifikasinya.
4. Validasi
Desain
Desain produk
yang telah dibuat divalidasi oleh para pakar atau tenaga ahli berpengalaman.
Validasi ini bertujuan untuk menilai apakah desain produk secara rasional lebih
efektif dibandingkan sistem sebelumnya. Proses ini dilakukan melalui diskusi
atau forum untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan desain. Validasi desain
terdiri dari dua langkah yaitu validasi desain produk materi oleh ahli materi
dan validasi desain produk oleh ahli media.
5. Revisi
Desain
Berdasarkan
hasil validasi, kelemahan yang ditemukan pada desain diperbaiki untuk
meningkatkan kualitasnya. Revisi dilakukan untuk memastikan desain lebih sesuai
dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Revisi desain diberlakukan apabila
terdapat masukan ahli materi dan ahli media. Revisi dilakukan sebagai proses
penyempurnaan produk apabila belum memenuhi kriteria yang diharapkan.
6. Uji Coba
Produk
Setelah desain
produk dianggap layak, dilakukan uji coba dalam kondisi nyata. Dalam melakukan
uji coba produk, produk terlebih dahulu dibuat dalam bentuk prototipe, dan
prototipe inilah yang selanjutnya akan diujicobakan. Proses ini bertujuan untuk
mengetahui efektivitas produk dalam lingkungan sebenarnya. Jika ditemukan
kekurangan selama uji coba, produk akan diperbaiki lebih lanjut.
7. Revisi
Produk
Revisi produk
dilakukan untuk mengatasi kekurangan yang ditemukan selama uji coba lapangan.
Pengujian efektivitas metode baru pada sampel yang terbatas tersebut
menunjukkan bahwa media pembelajaran baru ternyata lebih efektif dari metode
lama. Produk harus memiliki tingkat akurasi tinggi dan dapat
dipertanggungjawabkan. Revisi akhir dilakukan berdasarkan hasil uji coba untuk
memastikan kualitas produk optimal.
8. Uji Coba
Pemakaian
Setelah
melakukan revisi, kemudian dilakukan uji coba pemakaian. Dalam hal ini uji coba
kelompok besar. Hasil uji coba pemakaian menjadi tolak ukur terakhir apakah
produk pengembangan layak digunakan.
9. Revisi
Produk
Revisi produk
ini dilakukan, apabila dalam pemakaian di lembaga pendidikan yang lebih luas
terdapat kekurangan dan kelemahan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembuat
produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk.
10. Produksi
Masal
Langkah
terakhir adalah produksi masal dalam arti lain adalah pemakaian produk yang
telah melalui tahapan penilaian yang akan disebarkan kepada seluruh pengguna.
Tahap terakhir adalah implementasi produk secara luas. Produk yang telah
selesai dirancang dan diuji kemudian diterapkan secara massal, disertai dengan
penyusunan laporan lengkap mengenai pengembangan dan hasil penelitian.
E. Metode
Penelitian dalam R&D Menurut Sugiyono
Sugiyono
(2013:297) menjelaskan bahwa terdapat 3 metode penelitian yang ada pada R&D
yang mencakup 10 langkah pada penelitian R&D, yaitu:
- Metode deskriptif, merupakan tahapan yang menjelaskan
tentang masalah yang ada pada penelitian; Metode ini mencakup langkah 1
dan langkah 2.
- Metode evaluatif, merupakan tahapan yang menjelaskan
tentang desain/uji coba produk yang akan dibuat pada penelitian; Metode
ini mencakup langkah 3 sampai langkah 7.
- Metode eksperimen, merupakan tahapan yang menjelaskan
tentang validasi dan reliabilitas dari produk yang akan dibuat bisa berupa
membuktikan teori yang diwujudkan dalam aplikasi yang dipakai oleh semua
orang; Metode ini mencakup langkah 3 sampai langkah 7 (Sugiyono, 2013,
dalam Hardani et al., 2020:152).
F. Perbandingan
Model Sugiyono dengan Model Borg and Gall
Model
pengembangan Sugiyono merupakan modifikasi dari model Borg and Gall. Perbedaan
utama terletak pada penyederhanaan langkah-langkah. Borg and Gall (1989) dalam
Sugiyono (2015:35) mengemukakan 10 langkah penelitian dan pengembangan sebagai
berikut:
a.
Research
and information collecting. Penelitian dimulai dengan
mengumpulkan informasi, meliputi analisis kebutuhan, review literature,
penelitian dalam skala kecil, dan persiapan membuat laporan.
b.
Planning. Melakukan perencanaan yang meliputi pendefinisian keterampilan
yang harus dipelajari, perumusan tujuan, penentuan urutan pembelajaran, dan uji
coba kelayakan (skala kecil).
c.
Develop
preliminary form a product. Mengembangkan produk awal yang
meliputi penyiapan materi pembelajaran, prosedur, penyusunan buku pegangan dan
instrumen evaluasi.
d.
Preliminary
field testing. Pengumpulan data dengan wawancara,
observasi, kuisioner dan hasilnya kemudian dianalisis.
e.
Main
product revision. Melakukan revisi utama terhadap
produk didasarkan pada saran-saran pada uji coba.
f.
Main
field testing. Melakukan uji coba lapangan utama.
g.
Operational
product revision. Melakukan revisi terhadap produk
yang siap dioperasionalkan, berdasarkan saran-saran uji coba.
h.
Operational
field testing. Melakukan uji coba lapangan
operasional dengan jumlah sampel besar.
i.
Final
product revision. Revisi produk akhir berdasarkan
saran dari uji lapangan.
j.
Dissemination
and implementation. Mendesiminasikan dan
mengimplementasikan produk (Sembiring et al., 2023:157-158).
Sementara itu,
Sugiyono (2013:298) menyederhanakan langkah-langkah tersebut menjadi 10 langkah
yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sebagaimana telah diuraikan pada bagian
sebelumnya. Model Sugiyono ini banyak digunakan dalam penelitian pengembangan
di Indonesia karena langkah-langkahnya yang sederhana, sistematis, dan sesuai
dengan karakteristik penelitian di lapangan.
G. Sistematika
Penulisan Laporan Penelitian Pengembangan
Metode
penelitian dan pengembangan digunakan untuk meneliti dan menghasilkan produk
baru, serta menguji keefektifannya. Laporan penelitian harus menyertakan produk
yang dihasilkan, bersama dengan spesifikasinya dan penjelasan terkait.
Sistematika laporan penelitian dan pengembangan adalah sebagai berikut
(Sembiring et al., 2023:157-158):
HALAMAN JUDUL
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II. LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Berpikir
BAB III. PROSEDUR PENELITIAN
A. Model Pengembangan
B. Prosedur Pengembangan
C. Penilaian Produk
1.
Desain
Penilaian Produk
- Subjek Penilai
- Desain Uji Coba
- Subjek Uji coba
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Jenis Data
- Instrumen Pengumpul Data
- Teknik Analisis Data
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian Pengembangan
- Validasi Produk Media
Pembelajaran
- Hasil Uji Coba Lapangan Skala
Kecil
- Hasil Uji Coba Lapangan Skala
Besar
B. Pembahasan
- Analisa Data
- Revisi Produk
- Produk Akhir
BAB V.
KESIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAANNYA
H. Kelebihan
dan Kekurangan Penelitian Pengembangan
1. Keunggulan
a. Pendekatan R & D menghasilkan produk atau model dengan
tingkat validasi yang tinggi, melalui serangkaian uji coba lapangan dan
validasi oleh ahli.
b. Pendekatan R & D mendorong inovasi produk atau model secara
berkelanjutan, menciptakan keberlanjutan nilai yang tinggi dan produk yang
selalu sesuai dengan tuntutan zaman.
c. Pendekatan R
& D menjadi jembatan antara penelitian teoritis dan penelitian praktis.
d. Metode penelitian dalam R & D sangat komprehensif, mencakup metode
deskriptif, evaluatif, dan eksperimen (Sembiring et al., 2023:159).
2. Keterbatasan
a. Pendekatan R & D pada dasarnya memakan waktu yang cukup lama
karena melibatkan prosedur yang relatif kompleks.
b. Pendekatan R & D dapat dianggap sebagai penelitian yang
bersifat situasional, terfokus pada kondisi saat ini.
c. Penelitian R
& D sulit untuk digeneralisasi sepenuhnya karena pemodelannya pada sampel,
bukan pada populasi secara keseluruhan (Sembiring et al., 2023:159).
I. Perbandingan
dengan Jenis Penelitian Lain
Dalam konteks
metodologi penelitian yang lebih luas, penelitian pengembangan dapat dibedakan
dengan jenis penelitian lainnya. Menurut Abdullah (2015:82-83), penelitian
pengembangan berbeda dengan penelitian verifikatif yang bertujuan untuk
memverifikasi kebenaran hasil penelitian sebelumnya. Penelitian pengembangan
lebih menekankan pada pengembangan produk atau model yang dapat dimanfaatkan
secara praktis, sementara penelitian verifikatif lebih fokus pada pengujian
teori.
Sementara itu,
Nurdin & Hartati (2019:67-68) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan (developmental
studies) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mencoba mengetahui
perkembangan subjek, misalnya bagaimana bayi berkembang ditinjau dari fisik dan
psikisnya. Penelitian perkembangan memusatkan pada variabel-variabel
perkembangannya selama beberapa kurun waktu. Penelitian ini menyelidiki
pola-pola dan perurutan perkembangan dan pertumbuhan, dan bagaimana variabel
berhubungan satu sama lain dan mempengaruhi sifat-sifat pertumbuhan dan
perkembangan itu.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Hardani, Ahyar, H., Andriani, H., Fardani, R. A., Ustiawaty, J.,
Utami, E. F., Sukmana, D. J., & Auliya, N. H. (2020). Metode Penelitian
Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.
Nurdin, I., & Hartati, S. (2019). Metodologi Penelitian
Sosial. Surabaya: Media Sahabat Cendekia.
Sembiring, T. B., Irmawati, Sabir, M., & Tjahyadi, I. (2023). Buku
Ajar Metodologi Penelitian (Teori dan Praktik). Karawang: CV Saba Jaya
Publisher.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.