Kehidupan Aril

Almamater Universitas Syiah Kuala

Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

Senam Massal

Senam Massal di Lapangan Tugu Universitas Syiah Kuala.

Lhok Mata Ie Beach

Pantai Lhok Mata Ie Di Banda Aceh.

Furious FC

Tim Sepakbola Mahasiswa PJKR USK Let 24.

Gunung Sibayak

Kawah Gunung Sibayak 2212 MDPL.

Muaythai

Seni Wai Kru Individu MuayThai pada Pra PORA ACEH.

POLDA ACEH

Senam Massal Bersama POLDA ACEH.

Bukit Gundul

Sabana Bukit Gundul 1972 MDPL di puncak Sipiso-piso.

Proka FC

Tim Futsal dan Sepakbola Pematangsiantar.

ROHIS SMAN 2 PEMATANGSIANTAR

Organisasi Keagamaan Islam di SMAN 2 Pematangsiantar.

STUDIO PHOTO

Pematangsiantar.

Cerita

Tuesday, October 6, 2026

METODE EKSPERIMEN, POPULASI DAN SAMPEL

METODE EKSPERIMEN, POPULASI DAN SAMPEL

 

BAB 4: METODE EKSPERIMEN

A. Pengertian Metode Eksperimen

Metode eksperimen merupakan salah satu pendekatan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menguji hubungan sebab-akibat. Menurut Sugiyono (2013:72), “metode penelitian eksperimen diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.”

Dalam konteks ini, peneliti memberikan suatu perlakuan (treatment) kepada subjek penelitian, kemudian mengamati efek atau perubahan yang terjadi. Kondisi yang terkendali berarti peneliti berusaha mengontrol variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi hasil, sehingga pengaruh yang teramati benar-benar berasal dari perlakuan yang diberikan. Metode ini sangat cocok digunakan ketika peneliti ingin menguji efektivitas suatu intervensi, program, atau tindakan tertentu.

B. Beberapa Macam Desain Eksperimen

Sugiyono (2013:73-79) menjelaskan bahwa terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu:

1. Pre-Experimental Design

      Desain ini merupakan bentuk eksperimen yang paling sederhana karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Salah satu bentuknya adalah One-Group Pretest-Posttest Design, di mana peneliti hanya menggunakan satu kelompok tanpa kelompok kontrol.

2. True Experimental Design

      Desain ini dianggap sebagai eksperimen yang “betul-betul” karena peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Ciri utamanya adalah adanya kelompok kontrol dan pemilihan subjek secara acak (random). Contohnya adalah Posttest-Only Control Design dan Pretest-Posttest Control Group Design.

3. Factorial Design

      Desain ini digunakan ketika peneliti ingin menguji efek dari dua atau lebih variabel independen secara simultan, serta melihat interaksi antar variabel tersebut. Desain ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pengaruh utama (main effect) dan pengaruh interaksi (interaction effect).

4. Quasi Experimental Design

      Desain ini memiliki kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Dua bentuk yang umum digunakan adalah Time-Series Design dan Nonequivalent Control Group Design. Desain ini sering dipilih ketika peneliti tidak dapat melakukan randomisasi penuh terhadap subjek penelitian.

 

BAB 5: POPULASI DAN SAMPEL

A. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Menurut Sugiyono (2013:80), “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.”

Dengan kata lain, populasi tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga dapat mencakup objek atau benda lain yang memiliki karakteristik tertentu. Penentuan populasi harus dilakukan secara jelas dan spesifik agar penelitian memiliki batasan yang tegas.

B. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sugiyono (2013:81) menyatakan bahwa “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.” Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu, sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representatif (mewakili) agar generalisasi yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

C. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan cara untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Menurut Sugiyono (2013:81), “teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian.” Secara umum, teknik sampling dibagi menjadi dua kelompok besar:

1. Probability Sampling

      Teknik ini memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Contohnya meliputi Simple Random Sampling, Proportionate Stratified Random Sampling, Disproportionate Stratified Random Sampling, dan Area (Cluster) Sampling.

2. Nonprobability Sampling

      Menurut Sugiyono (2013:84), “nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.” Teknik ini terdiri dari Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Incidental, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling.

D. Menentukan Ukuran Sampel

Untuk menentukan jumlah sampel yang akan diambil, peneliti dapat menggunakan rumus atau tabel yang telah dikembangkan oleh para ahli. Salah satu rumus yang sering digunakan adalah rumus Slovin. Menurut Sugiyono (2013:86-87), penentuan ukuran sampel dapat dihitung dengan rumus:

Dalam menentukan jumlah sampel, tingkat kesalahan yang digunakan biasanya 1%, 5%, atau 10% (Sugiyono, 2013). Semakin besar taraf kesalahan yang ditoleransi, maka semakin kecil ukuran sampel yang diperlukan.

E. Contoh Menentukan Ukuran Sampel

Sebagai contoh, Sugiyono (2013) menjelaskan bahwa untuk populasi sebanyak 1000 orang, dengan taraf kesalahan 1%, jumlah sampelnya adalah 399 orang; sedangkan dengan taraf kesalahan 5%, jumlah sampelnya adalah 258 orang. Contoh ini menunjukkan bahwa tingkat presisi yang diinginkan sangat mempengaruhi besarnya sampel yang harus diambil.

F. Cara Mengambil Anggota Sampel

Pengambilan sampel secara acak (random) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain menggunakan bilangan random, komputer, atau undian. Menurut Sugiyono (2013), “bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dahulu, sesuai dengan jumlah anggota populasi.” Setelah itu, nomor-nomor tersebut diacak dan dipilih sesuai dengan jumlah sampel yang dibutuhkan. Untuk penelitian eksperimen sederhana dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, jumlah anggota masing-masing kelompok disarankan antara 10 sampai dengan 20 orang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Friday, October 2, 2026

METODE PENELITIAN PENGEMBANGAN (RESEARCH AND DEVELOPMENT): KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS

METODE PENELITIAN PENGEMBANGAN (RESEARCH AND DEVELOPMENT): KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS

Penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) merupakan salah satu metode penelitian yang semakin populer dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Metode ini tidak hanya berfokus pada pengujian teori, tetapi lebih menekankan pada pengembangan produk yang dapat langsung dimanfaatkan untuk memecahkan masalah praktis di lapangan. Dalam konteks pendidikan, R&D digunakan untuk menghasilkan berbagai produk seperti bahan ajar, media pembelajaran, model pembelajaran, instrumen evaluasi, dan sistem pengelolaan pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif.

Artikel ini akan menguraikan secara komprehensif tentang metode penelitian pengembangan berdasarkan sumber-sumber utama yang relevan, khususnya dari Sembiring et al. (2023), Sugiyono (2013), Abdullah (2015), dan Nurdin & Hartati (2019). Pembahasan mencakup definisi, karakteristik, level, langkah-langkah, metode, perbandingan dengan jenis penelitian lain, kelebihan dan kekurangan, serta sistematika penulisan laporan penelitian pengembangan.

A. Definisi Penelitian Pengembangan

Menurut Sugiyono (2013:297), “metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut” (Sugiyono, 2013, dalam Hardani et al., 2020:151). Definisi ini menegaskan bahwa R&D memiliki dua tujuan utama: pertama, menghasilkan produk; kedua, menguji keefektifan produk tersebut agar dapat berfungsi di masyarakat luas.

Lebih lanjut, Sugiyono menjelaskan bahwa untuk menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan (digunakan metode survei atau kualitatif), dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas diperlukan penelitian eksperimen (Sugiyono, 2013, dalam Hardani et al., 2020:151). Dengan demikian, R&D mencakup dua fase utama: fase pengembangan produk dan fase pengujian efektivitas produk.

Sembiring et al. (2023:151) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan pendidikan merupakan proses untuk merancang dan memvalidasi produk pendidikan. Ini mencakup langkah-langkah pengembangan produk baru atau perbaikan produk yang sudah ada dengan pertanggungjawaban. Lebih lanjut, L.R. Gay menyatakan bahwa penelitian dan pengembangan bertujuan untuk menghasilkan produk yang efektif untuk digunakan di sekolah, bukan untuk menguji teori (Sembiring et al., 2023:151). Penelitian pengembangan adalah kajian sistematik terhadap desain, pengembangan, dan evaluasi program pembelajaran dengan kriteria validitas, kepraktisan, dan efektivitas.

Richey and Klein (dalam Sembiring et al., 2023:151) menambahkan bahwa pengembangan melibatkan penerjemahan desain ke bentuk fisik terkait dengan desain belajar sistematik, dengan evaluasi untuk menciptakan produk baru atau meningkatkan model pengembangan yang ada. Analisis kebutuhan digunakan untuk menghasilkan produk, dan penelitian diperlukan untuk menguji keefektifan produk tersebut di masyarakat.

Dalam perspektif yang lebih luas, Abdullah (2015:82) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan adalah penelitian yang ditujukan untuk mengkaji atau mengembangkan temuan-temuan penelitian sebelumnya atau teori-teori penelitian yang sudah ada, baik untuk keperluan ilmu pengetahuan murni maupun terapan. Penelitian pengembangan juga dapat diartikan sebagai penelitian yang mengaplikasikan teori di masyarakat, dan biasanya digunakan untuk ilmu-ilmu terapan seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, hukum, komunikasi, dan lain-lain.

Sementara itu, Nurdin & Hartati (2019:67-68) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan (developmental studies) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mencoba mengetahui perkembangan subjek, misalnya bagaimana bayi berkembang ditinjau dari fisik dan psikisnya. Penelitian perkembangan memusatkan pada variabel-variabel perkembangannya selama beberapa kurun waktu. Penelitian ini menyelidiki pola-pola dan perurutan perkembangan dan pertumbuhan, dan bagaimana variabel berhubungan satu sama lain dan mempengaruhi sifat-sifat pertumbuhan dan perkembangan itu.

Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian dan pengembangan (R&D) merupakan suatu proses kajian sistematis untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Produk yang dihasilkan meliputi bahan pelatihan, materi ajar, media pembelajaran, soal-soal, dan sistem pengelolaan pembelajaran. Harapannya, produk-produk R&D ini dapat meningkatkan produktivitas pendidikan (Sembiring et al., 2023:151).

B. Karakteristik Penelitian Pengembangan

Borg and Gall (1989) dalam Sugiyono (2015:35) menjelaskan empat ciri utama dalam penelitian dan pengembangan:

  1. Studying Research Findings Pertinent to The Product to be Develop. Pada tahap ini peneliti melakukan studi atau penelitian awal untuk mencari temuan-temuan penelitian terkait dengan produk yang akan dikembangkan. Penelitian awal dapat dilakukan dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, ataupun kedua-duanya.
  2. Developing the Product Base on This Findings. Setelah jelas kebutuhan apa yang penting untuk segera dipenuhi, pada tahap ini peneliti dituntut untuk mencari literatur terbaru yang relevan dengan kebutuhan dan masalah yang sudah berhasil teridentifikasi pada tahap sebelumnya.
  3. Melakukan uji lapangan dalam situasi asli di mana produk akan digunakan.
  4. Melakukan revisi untuk memperbaiki kelemahan yang ditemukan selama uji lapangan (Sembiring et al., 2023:152).

Santyasa (dalam Sembiring et al., 2023:153) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menyelesaikan masalah nyata terkait inovasi pembelajaran.
  2. Mengembangkan model, pendekatan, metode pembelajaran, dan media yang mendukung pencapaian kompetensi siswa.
  3. Melibatkan proses pengembangan produk dengan validasi melalui uji ahli dan uji lapangan terbatas, untuk memastikan manfaatnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Proses ini harus dideskripsikan secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
  4. Mendokumentasikan dengan rapi dan melaporkan secara sistematis pengembangan model, pendekatan, modul, metode, dan media pembelajaran sesuai dengan kaidah penelitian yang mencerminkan originalitas.

Van Den Akker (dalam Sembiring et al., 2023:153) menyoroti beberapa motif penelitian dan pengembangan, yaitu:

  1. Motif dasarnya adalah bahwa penelitian umumnya dilakukan secara tradisional, seperti eksperimen, survei, dan analisis korelasi. Fokusnya pada analisis deskriptif yang kurang memberikan hasil yang bermanfaat untuk desain dan pengembangan dalam pendidikan.
  2. Kompleksitas perubahan kebijakan dalam dunia pendidikan mendorong perlunya pendekatan penelitian yang lebih evolusioner, yakni interaktif dan siklis.
  3. Penelitian di bidang pendidikan sering kali dipertanyakan dalam hal relevansi karena kurangnya bukti yang meyakinkan.

C. Level Penelitian Pengembangan

Sugiyono (2016:32-33) menjelaskan bahwa secara metodologis, penelitian dan pengembangan mempunyai empat level, yaitu:

  1. Level 1 (yang paling rendah tingkatannya) adalah penelitian untuk menghasilkan rancangan, tetapi tidak dilanjutkan dengan membuat produk atau mengujinya.
  2. Level 2 adalah peneliti tidak melakukan penelitian, tetapi langsung menguji produk yang ada.
  3. Level 3 adalah peneliti melakukan penelitian untuk mengembangkan (merevisi) produk yang telah ada, membuat produk revisi dan menguji keefektifan produk tersebut.
  4. Level 4 adalah penelitian untuk menciptakan produk baru dan menguji keefektifan produk tersebut (Sembiring et al., 2023:157-158).

Pemahaman terhadap level-level ini penting bagi peneliti untuk menentukan skala dan kedalaman penelitian pengembangan yang akan dilakukan, disesuaikan dengan kesulitan, keterbatasan, dan kebutuhan di lapangan.

D. Langkah-Langkah Penelitian Pengembangan Menurut Sugiyono

Sugiyono (2013:298) mengemukakan bahwa secara konseptual, pendekatan penelitian dan pengembangan terdiri dari 10 langkah yang saling berurutan (Sembiring et al., 2023:154-156). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Potensi dan Masalah

Penelitian dapat berangkat dari adanya potensi dan masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah. Masalah adalah penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi (Sugiyono, 2011:299). Masalah ini dicari melalui kegiatan observasi dan wawancara langsung. Penelitian dimulai dengan menganalisis kebutuhan untuk mengidentifikasi potensi masalah yang dapat dijadikan dasar penelitian. Langkah ini juga melibatkan pengumpulan studi pustaka dalam lingkup yang relevan sebagai rujukan penelitian.

2. Pengumpulan Data

Setelah potensi dan masalah teridentifikasi secara faktual, dilakukan pengumpulan informasi dan studi literatur untuk merancang produk yang diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut. Perlu dikumpulkan berbagai informasi seperti pengumpulan materi-materi sesuai dengan tujuan pembelajaran, gambar-gambar, audio yang sesuai dengan kebutuhan media yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

3. Desain Produk

Pada tahap ini, peneliti mulai membuat desain produk awal yang bersifat hipotetik, karena efektivitasnya belum terbukti. Desain dapat berupa gambar, bagan, atau representasi lain yang digunakan sebagai panduan dalam menilai dan membangun produk. Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan melalui penelitian R&D yaitu merancang desain flowchart, storyboard, naskah dan desain media, serta bahan penyerta. Hasil akhir dari kegiatan penelitian dan pengembangan adalah berupa desain produk yang lengkap dengan spesifikasinya.

4. Validasi Desain

Desain produk yang telah dibuat divalidasi oleh para pakar atau tenaga ahli berpengalaman. Validasi ini bertujuan untuk menilai apakah desain produk secara rasional lebih efektif dibandingkan sistem sebelumnya. Proses ini dilakukan melalui diskusi atau forum untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan desain. Validasi desain terdiri dari dua langkah yaitu validasi desain produk materi oleh ahli materi dan validasi desain produk oleh ahli media.

5. Revisi Desain

Berdasarkan hasil validasi, kelemahan yang ditemukan pada desain diperbaiki untuk meningkatkan kualitasnya. Revisi dilakukan untuk memastikan desain lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Revisi desain diberlakukan apabila terdapat masukan ahli materi dan ahli media. Revisi dilakukan sebagai proses penyempurnaan produk apabila belum memenuhi kriteria yang diharapkan.

6. Uji Coba Produk

Setelah desain produk dianggap layak, dilakukan uji coba dalam kondisi nyata. Dalam melakukan uji coba produk, produk terlebih dahulu dibuat dalam bentuk prototipe, dan prototipe inilah yang selanjutnya akan diujicobakan. Proses ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas produk dalam lingkungan sebenarnya. Jika ditemukan kekurangan selama uji coba, produk akan diperbaiki lebih lanjut.

7. Revisi Produk

Revisi produk dilakukan untuk mengatasi kekurangan yang ditemukan selama uji coba lapangan. Pengujian efektivitas metode baru pada sampel yang terbatas tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran baru ternyata lebih efektif dari metode lama. Produk harus memiliki tingkat akurasi tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan. Revisi akhir dilakukan berdasarkan hasil uji coba untuk memastikan kualitas produk optimal.

8. Uji Coba Pemakaian

Setelah melakukan revisi, kemudian dilakukan uji coba pemakaian. Dalam hal ini uji coba kelompok besar. Hasil uji coba pemakaian menjadi tolak ukur terakhir apakah produk pengembangan layak digunakan.

9. Revisi Produk

Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam pemakaian di lembaga pendidikan yang lebih luas terdapat kekurangan dan kelemahan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk.

10. Produksi Masal

Langkah terakhir adalah produksi masal dalam arti lain adalah pemakaian produk yang telah melalui tahapan penilaian yang akan disebarkan kepada seluruh pengguna. Tahap terakhir adalah implementasi produk secara luas. Produk yang telah selesai dirancang dan diuji kemudian diterapkan secara massal, disertai dengan penyusunan laporan lengkap mengenai pengembangan dan hasil penelitian.

E. Metode Penelitian dalam R&D Menurut Sugiyono

Sugiyono (2013:297) menjelaskan bahwa terdapat 3 metode penelitian yang ada pada R&D yang mencakup 10 langkah pada penelitian R&D, yaitu:

  1. Metode deskriptif, merupakan tahapan yang menjelaskan tentang masalah yang ada pada penelitian; Metode ini mencakup langkah 1 dan langkah 2.
  2. Metode evaluatif, merupakan tahapan yang menjelaskan tentang desain/uji coba produk yang akan dibuat pada penelitian; Metode ini mencakup langkah 3 sampai langkah 7.
  3. Metode eksperimen, merupakan tahapan yang menjelaskan tentang validasi dan reliabilitas dari produk yang akan dibuat bisa berupa membuktikan teori yang diwujudkan dalam aplikasi yang dipakai oleh semua orang; Metode ini mencakup langkah 3 sampai langkah 7 (Sugiyono, 2013, dalam Hardani et al., 2020:152).

F. Perbandingan Model Sugiyono dengan Model Borg and Gall

Model pengembangan Sugiyono merupakan modifikasi dari model Borg and Gall. Perbedaan utama terletak pada penyederhanaan langkah-langkah. Borg and Gall (1989) dalam Sugiyono (2015:35) mengemukakan 10 langkah penelitian dan pengembangan sebagai berikut:

a.    Research and information collecting. Penelitian dimulai dengan mengumpulkan informasi, meliputi analisis kebutuhan, review literature, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan membuat laporan.

b.    Planning. Melakukan perencanaan yang meliputi pendefinisian keterampilan yang harus dipelajari, perumusan tujuan, penentuan urutan pembelajaran, dan uji coba kelayakan (skala kecil).

c.    Develop preliminary form a product. Mengembangkan produk awal yang meliputi penyiapan materi pembelajaran, prosedur, penyusunan buku pegangan dan instrumen evaluasi.

d.    Preliminary field testing. Pengumpulan data dengan wawancara, observasi, kuisioner dan hasilnya kemudian dianalisis.

e.    Main product revision. Melakukan revisi utama terhadap produk didasarkan pada saran-saran pada uji coba.

f.     Main field testing. Melakukan uji coba lapangan utama.

g.    Operational product revision. Melakukan revisi terhadap produk yang siap dioperasionalkan, berdasarkan saran-saran uji coba.

h.    Operational field testing. Melakukan uji coba lapangan operasional dengan jumlah sampel besar.

i.      Final product revision. Revisi produk akhir berdasarkan saran dari uji lapangan.

j.      Dissemination and implementation. Mendesiminasikan dan mengimplementasikan produk (Sembiring et al., 2023:157-158).

Sementara itu, Sugiyono (2013:298) menyederhanakan langkah-langkah tersebut menjadi 10 langkah yang lebih ringkas dan mudah dipahami, sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Model Sugiyono ini banyak digunakan dalam penelitian pengembangan di Indonesia karena langkah-langkahnya yang sederhana, sistematis, dan sesuai dengan karakteristik penelitian di lapangan.

G. Sistematika Penulisan Laporan Penelitian Pengembangan

Metode penelitian dan pengembangan digunakan untuk meneliti dan menghasilkan produk baru, serta menguji keefektifannya. Laporan penelitian harus menyertakan produk yang dihasilkan, bersama dengan spesifikasinya dan penjelasan terkait. Sistematika laporan penelitian dan pengembangan adalah sebagai berikut (Sembiring et al., 2023:157-158):

HALAMAN JUDUL

ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

D. Manfaat

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

B. Kajian Penelitian yang Relevan

C. Kerangka Berpikir

BAB III. PROSEDUR PENELITIAN

A. Model Pengembangan

B. Prosedur Pengembangan

C. Penilaian Produk

1.    Desain Penilaian Produk

  1. Subjek Penilai
  2. Desain Uji Coba
  3. Subjek Uji coba
  4. Tempat dan Waktu Penelitian
  5. Jenis Data
  6. Instrumen Pengumpul Data
  7. Teknik Analisis Data

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Pengembangan

  1. Validasi Produk Media Pembelajaran
  2. Hasil Uji Coba Lapangan Skala Kecil
  3. Hasil Uji Coba Lapangan Skala Besar

B. Pembahasan

  1. Analisa Data
  2. Revisi Produk
  3. Produk Akhir

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAANNYA

H. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Pengembangan

1. Keunggulan

a. Pendekatan R & D menghasilkan produk atau model dengan tingkat validasi yang tinggi, melalui serangkaian uji coba lapangan dan validasi oleh ahli.
b. Pendekatan R & D mendorong inovasi produk atau model secara berkelanjutan, menciptakan keberlanjutan nilai yang tinggi dan produk yang selalu sesuai dengan tuntutan zaman.

c. Pendekatan R & D menjadi jembatan antara penelitian teoritis dan penelitian praktis.
d. Metode penelitian dalam R & D sangat komprehensif, mencakup metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimen (Sembiring et al., 2023:159).

2. Keterbatasan

a. Pendekatan R & D pada dasarnya memakan waktu yang cukup lama karena melibatkan prosedur yang relatif kompleks.

b. Pendekatan R & D dapat dianggap sebagai penelitian yang bersifat situasional, terfokus pada kondisi saat ini.

c. Penelitian R & D sulit untuk digeneralisasi sepenuhnya karena pemodelannya pada sampel, bukan pada populasi secara keseluruhan (Sembiring et al., 2023:159).

I. Perbandingan dengan Jenis Penelitian Lain

Dalam konteks metodologi penelitian yang lebih luas, penelitian pengembangan dapat dibedakan dengan jenis penelitian lainnya. Menurut Abdullah (2015:82-83), penelitian pengembangan berbeda dengan penelitian verifikatif yang bertujuan untuk memverifikasi kebenaran hasil penelitian sebelumnya. Penelitian pengembangan lebih menekankan pada pengembangan produk atau model yang dapat dimanfaatkan secara praktis, sementara penelitian verifikatif lebih fokus pada pengujian teori.

Sementara itu, Nurdin & Hartati (2019:67-68) menjelaskan bahwa penelitian pengembangan (developmental studies) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mencoba mengetahui perkembangan subjek, misalnya bagaimana bayi berkembang ditinjau dari fisik dan psikisnya. Penelitian perkembangan memusatkan pada variabel-variabel perkembangannya selama beberapa kurun waktu. Penelitian ini menyelidiki pola-pola dan perurutan perkembangan dan pertumbuhan, dan bagaimana variabel berhubungan satu sama lain dan mempengaruhi sifat-sifat pertumbuhan dan perkembangan itu.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Hardani, Ahyar, H., Andriani, H., Fardani, R. A., Ustiawaty, J., Utami, E. F., Sukmana, D. J., & Auliya, N. H. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.

Nurdin, I., & Hartati, S. (2019). Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Media Sahabat Cendekia.

Sembiring, T. B., Irmawati, Sabir, M., & Tjahyadi, I. (2023). Buku Ajar Metodologi Penelitian (Teori dan Praktik). Karawang: CV Saba Jaya Publisher.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

 

 

Tuesday, September 29, 2026

PENDEKATAN KUALITATIF, KUANTITATIF, DAN MIX-METOD KUALITATIF & KUANTITATIF

PENDEKATAN KUALITATIF, KUANTITATIF, DAN MIX-METOD KUALITATIF & KUANTITATIF

A.   Pendekatan Kualitatif

Penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang menekankan pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial dan perilaku manusia dalam konteks alamiahnya. Pendekatan ini tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi, melainkan fokus pada makna, konsep, definisi, karakteristik, metafora, simbol, dan pemaparan segala sesuatu.

Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk memahami suatu fenomena secara mendalam berdasarkan kondisi alamiah dan perspektif subjek yang diteliti. Siyoto dan Sodik (2015:27) menjelaskan bahwa “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.”

Sejalan dengan hal tersebut, Abdussamad (2021:iii) menegaskan bahwa “Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.” Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak berfokus pada angka, tetapi pada pemahaman terhadap makna, pengalaman, perilaku, dan kondisi suatu fenomena secara menyeluruh.

Tujuan utama penelitian kualitatif adalah memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, menggambarkan realitas yang kompleks, serta menemukan makna yang terdapat di balik suatu fenomena. Siyoto dan Sodik (2015:17) menyatakan bahwa “Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran, persepsinya.”

Penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu dilakukan dalam kondisi alamiah, peneliti menjadi instrumen utama, lebih menekankan proses daripada hasil, menggunakan analisis data secara induktif, serta memberikan perhatian terhadap makna yang dimiliki subjek penelitian. Jenis penelitian kualitatif antara lain studi kasus, fenomenologi, etnografi, grounded theory, dan studi naratif. Dalam bidang olahraga dan PJOK, pendekatan ini dapat digunakan untuk mengkaji pengalaman guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka, budaya olahraga tradisional masyarakat, atau motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Subjek dalam penelitian kualitatif umumnya disebut informan atau partisipan karena mereka memberikan informasi yang mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari informan, observasi dilakukan dengan mengamati fenomena atau perilaku di lapangan, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa dokumen, foto, catatan, maupun karya tertentu. Instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Abdussamad (2021:85) menyatakan bahwa “Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan focus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, meneliti kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya.”

Analisis data kualitatif dilakukan secara induktif dan dapat berlangsung sejak sebelum penelitian di lapangan, selama proses pengumpulan data, hingga setelah data terkumpul. Data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian diorganisasikan, dikategorikan, ditafsirkan, dan disusun untuk memperoleh kesimpulan. Keabsahan data dapat diperiksa melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Kelebihan pendekatan kualitatif terletak pada kemampuannya memberikan pemahaman yang mendalam terhadap pengalaman manusia dan fenomena yang kompleks, sedangkan kekurangannya adalah proses penelitian relatif membutuhkan waktu, analisisnya lebih kompleks, dan hasilnya tidak selalu dapat digeneralisasikan secara luas.

Contoh judul pendekatan Kualitatif:

  • Persepsi Guru PJOK disekolah SMAN 2 Pematangsiantar terhadap penerapan senam anak Indonesia hebat (SAIH)
  • Tingkat Motivasi Siswa SMAN 2 Pematangsiantar dalam Mengikuti Pembelajaran PJOK
  • Identifikasi Faktor Kegagalan Atlet Sepak Bola Tim Proka FC Pada Ajang Kejuaran Piala Gubernur Sumatera Utara 2026

 

B.   Pendekatan Kuantitatif

Pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang menggunakan data berbentuk angka dan analisis statistik untuk menjelaskan hubungan, perbedaan, pengaruh, atau kondisi suatu variabel. Siyoto dan Sodik (2015:26) menjelaskan bahwa “Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu.

Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.” Oleh karena itu, penelitian kuantitatif lebih menekankan pengukuran yang objektif, penggunaan instrumen yang terstruktur, serta analisis statistik untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan.Tujuan penelitian kuantitatif pada umumnya adalah mengukur variabel, menguji hipotesis, mengetahui hubungan atau pengaruh antarvariabel, serta memperoleh kesimpulan yang dapat diberlakukan pada populasi tertentu. Penelitian kuantitatif memiliki karakteristik berupa desain penelitian yang jelas dan terstruktur sejak awal, penggunaan instrumen penelitian, data berbentuk angka, sampel yang sesuai dengan karakteristik populasi, serta analisis data menggunakan statistik.

Beberapa jenis penelitian kuantitatif yang umum digunakan adalah penelitian deskriptif, korelasional, eksperimen, ex post facto, dan survei. Dalam penelitian olahraga dan PJOK, pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh latihan plyometric terhadap kemampuan lompat jauh, hubungan tingkat kebugaran jasmani dengan prestasi belajar PJOK, atau efektivitas metode pembelajaran tertentu terhadap hasil belajar siswa.

Penelitian kuantitatif menggunakan variabel sebagai unsur penting dalam penelitian. Variabel bebas atau independen merupakan variabel yang memengaruhi atau menjadi penyebab perubahan pada variabel lain, sedangkan variabel terikat atau dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Siyoto dan Sodik (2015:24) menjelaskan bahwa “Variabel bebas sering disebut independent, variabel stimulus, prediktor, antecedent. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat.” Sementara itu, variabel terikat dijelaskan sebagai “variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.”

 Dalam penelitian kuantitatif juga dikenal populasi dan sampel. Populasi merupakan keseluruhan subjek atau objek yang menjadi sasaran penelitian, sedangkan sampel merupakan sebagian dari populasi yang digunakan sebagai sumber data penelitian.

Pengumpulan data kuantitatif dapat dilakukan menggunakan angket atau kuesioner, tes, observasi terstruktur, dan pengukuran. Instrumen penelitian digunakan sebagai alat untuk memperoleh data secara sistematis dan objektif. Sebelum digunakan, instrumen perlu diperiksa melalui uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan bahwa instrumen mampu mengukur variabel yang dimaksud secara tepat dan konsisten. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan statistik deskriptif maupun statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan data yang diperoleh, sedangkan statistik inferensial digunakan untuk menganalisis data sampel dan menarik kesimpulan yang berkaitan dengan populasi.

Siyoto dan Sodik (2015:38) menjelaskan bahwa “Statistik inferensial, sering juga disebut statistic induktif atau statistic probabilitas, adalah teknik statistic yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan utuk populasi.”Secara umum, pendekatan kuantitatif memiliki kelebihan berupa proses penelitian yang sistematis, terstruktur, pengukuran yang lebih objektif, serta memungkinkan hasil penelitian diterapkan pada populasi apabila persyaratan generalisasi terpenuhi.

Namun, pendekatan ini lebih menekankan keluasan data dan hubungan antarvariabel sehingga tidak selalu mampu menggambarkan pengalaman atau makna suatu fenomena secara mendalam. Siyoto dan Sodik (2015:28) menjelaskan bahwa “Penelitian kuantitatif lebih menekankan pada keluasan informasi, (bukan kedalaman) sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas.” Oleh karena itu, pemilihan pendekatan penelitian perlu disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik masalah yang ingin dikaji.

Contoh judul penelitian Pendekatan Kuantitatif

  • Evaluasi Daya Tahan Otot Pada Atlet Angkat Besi PELATDA  Aceh 2026
  • Hubungan antara Tingkat Kebugaran Jasmani dan Prestasi Belajar PJOK Siswa Kelas XII SMAN 2 Pematangsiantar
  • Pengaruh Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Kemampuan Shooting Pada Atlet Sepak Bola Tim Proka FC

 

C.   Pendekatan Mix-Metod Kualitatif & Kuantitatif

Penelitian campuran atau mixed methods merupakan pendekatan penelitian yang mengintegrasikan metode kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terhadap suatu masalah. Sembiring dkk. (2023:116) menjelaskan bahwa “Penelitian campuran adalah pendekatan inovatif dalam penelitian, di mana Creswell dan Clark menyebutnya sebagai desain penelitian yang melibatkan asumsi filosofis dan berfungsi sebagai metode inquiry.

Metodologi penelitian campuran ini menggabungkan asumsi filosofis yang membimbing pengumpulan dan analisis data, mengintegrasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam berbagai fase proses penelitian.” Sugiyono (2016) dalam Sembiring dkk. (2023:116) juga menegaskan bahwa “metode ini menggabungkan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan objektif.” Dengan demikian, mixed methods digunakan ketika suatu masalah penelitian membutuhkan data angka sekaligus penjelasan yang lebih mendalam mengenai pengalaman, kondisi, atau alasan yang melatarbelakanginya.

Pendekatan ini berkembang sebagai upaya mengatasi keterbatasan penelitian kualitatif dan kuantitatif jika digunakan secara terpisah. Sembiring dkk. (2023:120) menjelaskan bahwa “Mixed Methods research hadir sebagai paradigma baru untuk menemukan titik temu dan mengatasi pertikaian antara dua metode penelitian sebelumnya (Samsu, 2021:162).” Tujuan utamanya adalah menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap masalah penelitian. Sembiring dkk. (2023:123) menyatakan bahwa “Asumsi dasar penelitian metode campuran adalah kemampuannya untuk memberikan jawaban yang lebih komprehensif terhadap pertanyaan penelitian daripada hanya menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif saja (Creswell & Plano, 2017).”

Penggabungan kedua pendekatan dapat dilakukan untuk memperoleh komplementaritas, pengembangan, inisiasi, ekspansi, dan triangulasi. Greene (1989) dalam Sembiring dkk. (2023:124) merangkum tujuan tersebut sebagai “komplementaritas (peningkatan dan klarifikasi hasil), pengembangan (menggunakan hasil satu metode untuk mendukung penggunaan metode lain), inisiasi (mencari area ketidaksesuaian untuk inovasi), ekspansi (memperluas jangkauan penelitian), dan triangulasi (menguatkan temuan dengan data dari kedua metode).”

Dalam pelaksanaannya, penelitian mixed methods memiliki karakteristik berupa penggunaan data kualitatif dan kuantitatif, adanya penentuan prioritas salah satu atau kedua pendekatan, serta pengaturan urutan penelitian secara berurutan maupun bersamaan.

Model yang umum digunakan adalah sequential explanatory, yaitu kuantitatif kemudian kualitatif; sequential exploratory, yaitu kualitatif kemudian kuantitatif; concurrent embedded, yaitu kedua metode digunakan secara bersamaan dengan salah satu metode lebih dominan; dan concurrent triangulation, yaitu kedua metode digunakan secara bersamaan dengan bobot yang relatif seimbang. Sembiring dkk. (2023:132) menjelaskan bahwa “Model Sequential seperti yang dijelaskan oleh Creswell (2009), merujuk pada suatu prosedur penelitian di mana hasil penelitian dari satu metode dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan metode lainnya. Pendekatan ini disebut 'sequential' karena penggunaan metode tersebut dikombinasikan secara berurutan.”

Sementara itu, pada model concurrent, “Metode kombinasi model campuran adalah suatu prosedur penelitian di mana peneliti menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan analisis yang komprehensif guna menjawab masalah penelitian. Dalam tipe sequential, penggabungan metode dilakukan secara berurutan dalam waktu yang berbeda, sementara dalam tipe Concurrent, penggabungan dilakukan secara bersamaan” (Sembiring dkk., 2023:133).

Secara umum, tahapan penelitian campuran meliputi perumusan masalah, kajian pustaka, pengembangan instrumen, penentuan subjek atau sampel, pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif, analisis masing-masing data, penggabungan hasil, pembahasan, dan penarikan kesimpulan akhir. Dalam bidang olahraga dan PJOK, pendekatan ini dapat digunakan untuk meneliti efektivitas suatu model pembelajaran sekaligus memahami pengalaman dan motivasi siswa selama mengikuti pembelajaran.

Kelebihan mixed methods adalah kemampuannya memberikan hasil yang lebih luas, mendalam, dan saling melengkapi karena temuan dari satu metode dapat diperkuat atau dijelaskan oleh metode lainnya. Sembiring dkk. (2023:148) menjelaskan bahwa “Penelitian mixed method dianggap sebagai solusi yang tepat untuk mengatasi masalah penelitian yang memerlukan penggunaan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan atau berurutan. Dengan pendekatan ini, hasil dari satu metode dapat diperkuat oleh dukungan metode lain, meningkatkan kekuatan penelitian.

Kelebihan lainnya adalah kemampuan untuk menjawab masalah penelitian yang lebih luas dan komprehensif, serta mengatasi kelemahan masing-masing metode.” Namun, pendekatan ini membutuhkan kemampuan peneliti dalam menguasai dua metode, waktu dan biaya yang lebih besar, serta proses analisis dan integrasi data yang lebih kompleks. Dengan demikian, mixed methods tepat digunakan ketika penelitian tidak cukup dijelaskan hanya melalui angka atau hanya melalui uraian pengalaman, tetapi membutuhkan integrasi keduanya untuk memperoleh gambaran masalah yang lebih utuh.

Contoh judul penelitian Pendekatan Mix-metod:

  • Efektivitas Model Pembelajaran Teaching Games For Understanding (TGfU) terhadap Peningkatan Keterampilan Bermain Sepak Bola dan Motivasi Belajar Siswa SMAN 2 Pematangsiantar.
  • Analisis Kebutuhan Pengembangan Media Pembelajaran PJOK Berbasis Aplikasi Mobile di SDN 095560 Karang Sari
  • Dampak Program Latihan Fisik terhadap Kebugaran Jasmani dan Kesejateraan Psikologis Atlet Sepak Bola Tim Proka FC.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, M. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Abdussamad, Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: Syakir Media Press.

Hardani, Ahyar, H., Andriani, H., Ustiawaty, J., Utami, E. F., Istiqomah, R. R., ... & Auliya, N. H. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.

Nurdin, I., & Hartati, S. (2019). Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Media Sahabat Cendekia.

Salim, & Syahrum. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif: Konsep dan Aplikasi dalam Ilmu Sosial, Keagamaan dan Pendidikan. Bandung: Citapustaka Media.

Sembiring, T. B., Irmawati, Sabir, M., & Tjahyadi, I. (2023). Buku Ajar Metodologi Penelitian (Teori dan Praktik). Karawang: CV Saba Jaya Publisher.

Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing.