JENIS-JENIS PENELITIAN
A. Jenis Penelitian Berdasarkan Tujuan
1. Penelitian Eksploratif
Penelitian
eksploratif merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu
yang baru yang sebelumnya belum pernah diketahui atau diteliti. Penelitian ini
bersifat penjajakan atau studi pendahuluan yang mencoba menyediakan jawaban
dari pertanyaan yang telah dirumuskan dalam masalah yang akan dijadikan
prioritas dalam penelitian selanjutnya (Hardani dkk, 2020:64). Penelitian
eksploratif dilakukan ketika peneliti belum memiliki gambaran yang jelas
mengenai fenomena yang akan diteliti, sehingga penelitian ini berfungsi sebagai
langkah awal untuk mendeskripsikan fenomena tersebut secara lebih jelas dan
tuntas. Ciri utama penelitian eksploratif adalah terbatasnya sampel yang
digunakan, sifatnya yang merupakan penjajakan, serta instrumen yang dipakai
harus mampu mengungkapkan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan sesuai
tujuan penelitian (Tamaulina dkk, 2023:65). Bentuk pertanyaan yang digunakan
dalam penelitian eksploratif lebih banyak bersifat terbuka daripada
terstruktur, sehingga mampu menampung atau mendeteksi sebanyak mungkin
informasi yang dibutuhkan. Sumber informasi dalam penelitian ini dapat berupa
sumber primer dan sekunder yang saling melengkapi dan menjelaskan. Penelitian
eksploratif umumnya memakan waktu dan biaya yang cukup besar karena peneliti
harus benar-benar menggali fenomena yang belum dikenal. Hasil dari penelitian
eksploratif sering dianggap tidak memuaskan karena terkait dengan masalah
sampling yang kurang representatif, namun penelitian ini tetap penting sebagai
pembuka jalan bagi penelitian yang lebih mendalam. Dengan demikian, penelitian
eksploratif berperan sebagai fondasi awal dalam rangkaian kegiatan ilmiah yang
lebih komprehensif.
2. Penelitian Deskriptif
Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gambaran atau
mendeskripsikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara
sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu
(Hardani dkk, 2020:59). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai
kondisi, situasi, atau variabel yang timbul di masyarakat berdasarkan apa yang
terjadi, sehingga data yang dikumpulkan dapat memberikan gambaran yang jelas
tentang fenomena yang diteliti (Ma'ruf Abdullah, 2015:29). Dalam penelitian
deskriptif, peneliti tidak berupaya untuk menguji hubungan antarfakta, baik
hubungan korelasional maupun hubungan kausalitas, sehingga rumusan hipotesis
jarang ditemukan dalam penelitian jenis ini (Ma'ruf Abdullah, 2015:30). Penelitian
deskriptif memusatkan pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang atau
masalah yang aktual, dan data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik
deskriptif seperti persentase, rata-rata, median, dan modus. Menurut Sugiyono
(2013), penelitian deskriptif dapat dilakukan terhadap variabel mandiri, baik
satu variabel maupun lebih, tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan
dengan variabel lain (Tamaulina dkk, 2023:6). Penelitian deskriptif juga dapat
digunakan untuk menentukan frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk
meminimalisasi bias dan memaksimumkan reliabilitas (Ismail Nurdin & Sri
Hartati, 2019:62). Langkah-langkah dalam penelitian deskriptif biasanya
mengikuti prosedur penelitian pada umumnya, yaitu merumuskan masalah,
merumuskan tujuan, mengkaji pustaka, menetapkan populasi dan sampel, menyusun
instrumen, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, serta menarik
kesimpulan. Meskipun sering dianggap sederhana, penelitian deskriptif tetap
memerlukan ketelitian dan kecermatan agar hasilnya dapat menggambarkan fenomena
secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, penelitian
deskriptif menjadi salah satu jenis penelitian yang paling banyak digunakan
dalam berbagai bidang ilmu karena kegunaannya yang praktis dan aplikatif.
3. Penelitian Eksplanatif
Penelitian
eksplanatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu
generalisasi sampel terhadap populasinya atau menjelaskan hubungan, perbedaan,
atau pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain (Ma'ruf Abdullah, 2015:80).
Penelitian ini menggunakan sampel dan hipotesis dalam pelaksanaannya, serta
menganalisis data menggunakan statistik inferensial untuk menguji hipotesis
yang telah dirumuskan (Ma'ruf Abdullah, 2015:81). Penelitian eksplanatif
berupaya mengkaji hubungan sebab-akibat di antara dua fenomena atau lebih, dan
digunakan untuk menentukan apakah suatu eksplanasi valid atau tidak, atau
menentukan mana yang lebih valid di antara dua eksplanasi yang saling bersaing
(Siyoto & Sodik, 2015:17). Tujuan utama penelitian eksplanatif adalah untuk
menguji teori yang sudah ada dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai
prediktif, sehingga hasilnya dapat digunakan untuk memprediksi situasi yang
sama pada populasi lain (Tamaulina dkk, 2023:62). Penelitian eksplanatif dapat
dilakukan melalui survei dan eksperimen, di mana dalam eksplanasi survei
peneliti diwajibkan membangun hipotesis dan mengujinya di lapangan, sedangkan
dalam eksplanasi eksperimen peneliti memanipulasi variabel untuk mengamati efeknya
(Ma'ruf Abdullah, 2015:81). Metode kuantitatif digunakan dalam penelitian
eksplanatif untuk membuktikan hipotesis terhadap populasi atau sampel tertentu,
menggambarkan fakta-fakta yang ada, dan menjelaskan hubungan antar variabel
dengan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data statistik.
Kesimpulan dalam penelitian eksplanatif bersifat deduktif, yaitu dari sesuatu
yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus, karena berangkat dari
teori-teori yang membangunnya. Dengan demikian, penelitian eksplanatif
memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan karena kemampuannya
menjelaskan hubungan kausalitas dan menguji teori yang telah ada.
4. Penelitian Verifikatif
Penelitian
verifikatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memverifikasi atau mengecek
kebenaran hasil suatu penelitian terdahulu, apakah hasil penelitian tersebut
benar atau keliru (Ma'ruf Abdullah, 2015:82). Penelitian ini dilakukan untuk
membuktikan keraguan atas temuan atau hasil penelitian sebelumnya, sehingga
dapat memperkuat atau bahkan menggugurkan temuan tersebut (Ma'ruf Abdullah,
2015:120). Dalam penelitian verifikatif, peneliti berupaya menguji kebenaran
suatu fenomena atau teori yang telah ada dengan menggunakan data empiris yang
dikumpulkan secara sistematis. Penelitian verifikatif juga dapat berfungsi
sebagai sarana untuk mengembangkan hasil penelitian sebelumnya agar menjadi
lebih maju dan komprehensif. Menurut Siyoto dan Sodik (2015:16), penelitian
verifikatif bertujuan untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan apabila dirasa
masih ada sesuatu yang diragukan, sehingga penelitian ini sangat penting dalam
proses akumulasi pengetahuan ilmiah. Penelitian verifikatif biasanya
menggunakan metode kuantitatif dengan analisis statistik untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan berdasarkan teori yang ada. Hasil dari
penelitian verifikatif dapat berupa konfirmasi terhadap teori yang sudah ada,
revisi teori, atau bahkan penolakan teori jika data empiris tidak mendukung.
Dengan demikian, penelitian verifikatif berkontribusi pada penguatan atau
penyempurnaan bangunan ilmu pengetahuan melalui proses pengujian yang
berkelanjutan.
5. Penelitian
Pengembangan
Penelitian
pengembangan adalah penelitian yang ditujukan untuk mengkaji atau mengembangkan
temuan-temuan penelitian sebelumnya atau teori-teori penelitian yang sudah ada,
baik untuk keperluan ilmu pengetahuan murni maupun untuk keperluan ilmu
pengetahuan terapan (Ma'ruf Abdullah, 2015:82). Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan aspek ilmu pengetahuan dengan cara memperluas dan menggali lebih
dalam apa yang sudah ada (Siyoto & Sodik, 2015:16). Dalam penelitian
pengembangan, peneliti berupaya mengembangkan hasil penelitian atau teori
sebelumnya yang telah ada sehingga semakin maju dan aplikatif. Penelitian
pengembangan sering digunakan dalam bidang pendidikan dan teknologi, di mana
produk yang dihasilkan dapat berupa model, pendekatan, metode pembelajaran,
media, atau bahan ajar yang telah melalui proses validasi dan uji coba
(Tamaulina dkk, 2023:152). Ciri utama penelitian pengembangan adalah adanya
studi awal terkait produk yang akan dikembangkan, pengembangan produk
berdasarkan temuan penelitian, uji lapangan dalam situasi asli, dan revisi
untuk memperbaiki kelemahan yang ditemukan (Tamaulina dkk, 2023:153).
Penelitian pengembangan bersifat longitudinal dan berlangsung dalam beberapa
tahun, serta melibatkan metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental dalam
pelaksanaannya. Hasil dari penelitian pengembangan diharapkan dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan kontribusi nyata bagi
pemecahan masalah praktis di lapangan. Dengan demikian, penelitian pengembangan
menjadi jembatan antara penelitian teoritis dan penelitian praktis yang
bermanfaat bagi masyarakat luas.
B. Jenis Penelitian Berdasarkan Pendekatan
1. Penelitian Kuantitatif
Penelitian
kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah
sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan
desain penelitiannya (Siyoto & Sodik, 2015:17). Metode penelitian
kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel
tertentu, dengan teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random
(Hardani dkk, 2020:238). Penelitian kuantitatif banyak menuntut penggunaan
angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan dari hasilnya yang dapat disertai dengan gambar, tabel, grafik, atau
tampilan lainnya (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:61). Tujuan penelitian
kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis,
teori-teori, dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam, di mana
proses pengukuran menjadi bagian yang sentral (Siyoto & Sodik, 2015:18).
Penelitian kuantitatif lebih menekankan pada aspek pengukuran secara objektif
terhadap fenomena sosial, di mana setiap fenomena dijabarkan ke dalam beberapa
komponen masalah, variabel, dan indikator (Siyoto & Sodik, 2015:17). Metode
ini sering juga disebut metode tradisional, positivistik, ilmiah/scientific,
dan metode discovery karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit,
empiris, objektif, terukur, rasional, dan sistematis (Hardani dkk, 2020:237).
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data dilakukan setelah semua data
terkumpul dengan menggunakan statistik deskriptif atau inferensial untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Hasil penelitian kuantitatif dapat
digeneralisasikan pada populasi tertentu karena menggunakan sampel yang
representatif dan teknik sampling yang tepat. Dengan demikian, penelitian
kuantitatif sangat cocok digunakan untuk menguji teori, mengukur hubungan antar
variabel, dan menghasilkan temuan yang dapat digeneralisasikan secara luas.
2. Penelitian Kualitatif
Penelitian
kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti
adalah sebagai instrumen kunci (Hardani dkk, 2020:238). Metode penelitian
kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya
dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), dan disebut juga metode
etnographi karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk
penelitian bidang antropologi budaya (Zuchri Abdussamad, 2021:80). Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa
yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi,
tindakan, dan lain-lain secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah (Ismail Nurdin
& Sri Hartati, 2019:75). Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data
tidak dipandu oleh teori tetapi dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan pada
saat penelitian di lapangan, sehingga analisis data yang dilakukan bersifat
induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dan kemudian dapat
dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori (Zuchri Abdussamad, 2021:80).
Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data
yang mengandung makna, di mana makna adalah data yang sebenarnya, data yang
pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang tampak (Zuchri Abdussamad,
2021:80). Penelitian kualitatif lebih menekankan pada kedalaman informasi
sehingga sampai pada tingkat makna, dan generalisasi dalam penelitian
kualitatif dinamakan transferability, artinya hasil penelitian tersebut dapat
digunakan di tempat lain manakala tempat tersebut memiliki karakteristik yang
tidak jauh berbeda (Zuchri Abdussamad, 2021:81). Teknik pengumpulan data dalam
penelitian kualitatif dilakukan secara triangulasi (gabungan), yang mencakup
observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dengan demikian, penelitian
kualitatif sangat cocok digunakan untuk memahami fenomena sosial yang kompleks,
menggali makna di balik perilaku manusia, dan mengembangkan teori yang dibangun
dari data lapangan.
3. Penelitian Campuran (Mixed Methods)
Penelitian
campuran atau mixed methods merupakan pendekatan penelitian yang
mengintegrasikan bentuk kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian untuk
mendapatkan data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan objektif
(Tamaulina dkk, 2023:115). Metode penelitian kombinasi kuantitatif-kualitatif
difokuskan pada pengumpulan dan analisis data, menggabungkan data kuantitatif
dan kualitatif, dengan tujuan mencapai hasil penelitian yang lebih komprehensif
daripada menggunakan satu pendekatan saja (Tamaulina dkk, 2023:116). Menurut
Creswell, penelitian mixed methods adalah suatu pendekatan penelitian yang
mengkombinasikan atau mengasosiasikan bentuk penelitian kuantitatif dan
kualitatif, yang melibatkan asumsi filosofis, penerapan kedua pendekatan tersebut,
dan pencampuran keduanya dalam suatu studi (Tamaulina dkk, 2023:116). Terdapat
dua model utama dalam metode kombinasi, yaitu model sequential (kombinasi
berurutan) yang mencakup sequential explanatory dan sequential exploratory,
serta model concurrent (kombinasi campuran) yang mencakup concurrent embedded
dan concurrent triangulation (Tamaulina dkk, 2023:117). Penelitian campuran
digunakan ketika peneliti ingin memperoleh data dan informasi yang lengkap,
valid, reliabel, dan objektif, serta ketika satu metode penelitian tidak
mencapai tujuannya (Tamaulina dkk, 2023:133). Keunggulan penelitian campuran
adalah kemampuannya menjelaskan "mengapa temuan tersebut seperti itu"
dengan menguatkan temuan kuantitatif melalui data kualitatif atau sebaliknya,
sehingga hasil penelitian menjadi lebih kuat dan komprehensif (Tamaulina dkk,
2023:148). Namun, penelitian campuran juga memiliki keterbatasan, terutama jika
metode kuantitatif dan kualitatif dilakukan secara simultan, yang dapat
menimbulkan kesulitan bagi peneliti dalam menguasai kedua metodologi tersebut
(Tamaulina dkk, 2023:148). Dengan demikian, penelitian campuran menjadi pilihan
yang tepat ketika peneliti menghadapi masalah penelitian yang kompleks dan
memerlukan pemahaman yang holistik dari berbagai perspektif.
C. Jenis Penelitian Berdasarkan Tempat dan Waktu
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian
lapangan merupakan penelitian yang dilakukan secara langsung di lokasi
penelitian atau di lapangan tempat fenomena yang diteliti terjadi. Penelitian
lapangan paling sering dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial karena
lapangan dalam arti kehidupan di masyarakat begitu luas dan tidak terbatas,
sehingga merupakan laboratorium raksasa yang menyediakan berbagai fenomena
menarik untuk diteliti (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Dalam penelitian lapangan,
peneliti berinteraksi langsung dengan subjek penelitian dan mengamati perilaku
serta fenomena yang terjadi dalam konteks alamiah. Penelitian lapangan banyak
dilakukan berhubungan dengan pranata, budaya, dan pengalaman hidup masyarakat,
kelompok, dan individu dalam berbagai bidang kehidupan yang digeluti
masing-masing (Ma'ruf Abdullah, 2015:88). Penelitian lapangan seringkali
menyita banyak waktu, melibatkan emosi, dan secara fisik dapat mengundang
bahaya karena peneliti harus benar-benar terjun ke lokasi untuk mengumpulkan
data yang valid dan reliabel (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:132).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian lapangan dapat dilakukan dengan
observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang memungkinkan
peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial yang diteliti.
Dengan demikian, penelitian lapangan sangat cocok digunakan untuk meneliti
fenomena sosial yang memerlukan pemahaman kontekstual dan holistik.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Penelitian
kepustakaan merupakan penelitian yang mengambil setting perpustakaan sebagai
tempat penelitian dengan objek penelitian berupa bahan-bahan kepustakaan.
Penelitian kepustakaan biasanya menghasilkan kesimpulan tentang kecenderungan
sebuah teori yang digunakan dari waktu ke waktu, perkembangan sebuah paradigma,
dan pendekatan ilmu pengetahuan tertentu (Ma'ruf Abdullah, 2015:86). Penelitian
ini dilakukan dengan mengkaji berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal,
laporan penelitian, dan dokumen-dokumen lainnya yang relevan dengan topik
penelitian. Penelitian kepustakaan memiliki kelemahan karena tidak semua objek
penelitian yang sudah diteliti terekam dan tersimpan di perpustakaan, meskipun
sekarang ini sudah tersedia berbagai macam bentuk media penyimpanan bahan
pustaka seperti micro film, CD, DVD, dan library online (Ma'ruf Abdullah,
2015:87). Namun, penelitian kepustakaan tetap penting karena dapat memberikan
landasan teoritis yang kuat bagi penelitian selanjutnya. Kajian pustaka
membantu peneliti memahami konteks dan kerangka teoretis yang mendukung
penelitian, serta menghindari duplikasi dengan penelitian yang sudah ada
(Tamaulina dkk, 2023:155). Dengan demikian, penelitian kepustakaan merupakan
langkah awal yang penting dalam setiap penelitian ilmiah karena memberikan
fondasi pengetahuan yang diperlukan sebelum peneliti terjun ke lapangan.
3. Penelitian Laboratorium
Penelitian
laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan kondisi
yang dapat dikendalikan secara ketat. Penelitian laboratorium umumnya lebih
banyak dilakukan oleh ilmu-ilmu alam seperti biologi, kimia, fisika, dan
lainnya, tetapi seiring dengan berkembangnya pendekatan dalam ilmu-ilmu sosial,
penelitian ilmu-ilmu sosial pun juga bisa dilakukan di laboratorium ilmu sosial
seperti laboratorium bahasa dan persidangan pengadilan untuk menguji
masalah-masalah hukum (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Dalam penelitian laboratorium
ilmu-ilmu sosial, manusia tidak hanya dilihat sebagai objek penelitian tetapi
juga sebagai subjek penelitian, sehingga rekayasa-rekayasa manusia dalam
laboratorium tidak dilihat dari segi fisiknya melainkan pada hubungan-hubungan
sosial yang dilakukannya (Ma'ruf Abdullah, 2015:87). Penelitian laboratorium
memungkinkan peneliti untuk mengontrol variabel-variabel yang diteliti secara
ketat sehingga dapat mengidentifikasi hubungan sebab-akibat dengan lebih
akurat. Namun, penelitian laboratorium juga memiliki kelemahan karena situasi
yang artificial dan tidak alami dapat mempengaruhi validitas eksternal hasil
penelitian. Dengan demikian, penelitian laboratorium cocok digunakan untuk
penelitian yang memerlukan kontrol ketat terhadap variabel dan kondisi
penelitian.
4. Penelitian Longitudinal
Penelitian
longitudinal adalah penelitian yang meneliti sebuah gejala yang terus
berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Penelitian ini meneliti perkembangan
sesuatu aspek atau sesuatu hal dalam seluruh periode waktu atau tahapan
perkembangan tertentu (Siyoto & Sodik, 2015:11). Penelitian longitudinal
secara langsung mengukur sifat (nature) dan tingkat (rate) perubahan dalam satu
sampel yang sama pada tingkatan (stages) yang berbeda (Hardani dkk, 2020:249).
Ciri-ciri penelitian longitudinal meliputi waktu penelitian yang lama,
memerlukan biaya yang relatif besar, melibatkan populasi yang mendiami wilayah
tertentu, dan dipusatkan pada perubahan variabel amatan dari waktu ke waktu
(Hardani dkk, 2020:249). Penelitian longitudinal memerlukan keaktifan peneliti
untuk mencatat secara rutin kemajuan yang didapat oleh objek penelitian,
sehingga kebanyakan peneliti menganggapnya kurang efisien karena memerlukan
waktu, tenaga, dan biaya yang banyak (Ma'ruf Abdullah, 2015:83). Contoh
penelitian longitudinal adalah penelitian untuk mengetahui perkembangan karier
seorang dosen dari awal masuk menjadi dosen dengan status calon pegawai sampai
mendapat pangkat akademik tertinggi yaitu guru besar. Dengan demikian,
penelitian longitudinal sangat cocok digunakan untuk meneliti perubahan dan
perkembangan suatu fenomena dalam jangka waktu yang panjang.
5. Penelitian Cross-Sectional
Penelitian
cross-sectional adalah penelitian yang tidak menggunakan objek penelitian yang
sama tetapi dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini secara tidak langsung
mengukur sifat dan tingkat yang sama dengan mengambil sampel yang berbeda dari
tingkatan (levels), atau studi kecenderungan (trend) yang dirancang untuk
menentukan pola-pola perubahan masa lalu dalam rangka meramalkan pola kondisi
masa depan (Hardani dkk, 2020:249). Penelitian cross-sectional memiliki tiga
ciri distingtif, yaitu tidak berdimensi waktu, bergantung pada
perbedaan-perbedaan yang ada daripada perubahan akibat intervensi, dan kelompok
didasarkan pada perbedaan yang ada daripada pengelompokan acak (Hardani dkk,
2020:250). Cara penelitian cross-sectional dapat dilakukan lebih cepat, data
yang dikumpulkan juga lebih banyak, dan dari segi waktu lebih efisien, hanya
mungkin lika-liku perjalanan karirnya tidak sempat dicatat secara lengkap
dibandingkan dengan penelitian longitudinal (Ma'ruf Abdullah, 2015:83).
Penelitian cross-sectional boleh dikatakan merupakan kompromi antara one-shot
method (menembak satu kali terhadap kasus) dan penelitian longitudinal
(menembak beberapa kali) terhadap kasus yang sama (Ma'ruf Abdullah, 2015:84).
Dengan demikian, penelitian cross-sectional sangat cocok digunakan untuk
meneliti fenomena yang terjadi pada satu titik waktu tertentu dengan efisiensi
waktu dan biaya yang lebih baik.
D. Jenis Penelitian Berdasarkan Rancangan
1. Penelitian Korelasional
Penelitian
korelasional merupakan penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat
hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat hubungan antara satu atau beberapa ubahan dengan satu
atau beberapa ubahan lain, dan sering disebut sebagai associational research
(Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:67). Dalam penelitian korelasional,
peneliti tidak mencoba mempengaruhi ubahan-ubahan tersebut, melainkan hanya
mengamati hubungan yang terjadi secara alami. Tujuan utama penelitian
korelasional adalah menolong menjelaskan pentingnya tingkah laku manusia atau
untuk meramalkan suatu hasil, sehingga penelitian ini kadang-kadang berbentuk
penelitian deskriptif karena menggambarkan hubungan atau ubahan-ubahan yang
diteliti (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:67). Penelitian korelasional
dapat digunakan apabila ubahan-ubahan yang diteliti kompleks dan/atau tidak
dapat diteliti dengan metode eksperimen dan tidak dapat pula dimanipulasi
(Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:67). Keterbatasan penelitian
korelasional adalah hasilnya hanya mengidentifikasi "apa sejalan dengan
apa" tetapi tidak mengidentifikasikan saling pengaruh yang bersifat
kausal, serta kurang tertib ketat apabila dibandingkan dengan tipe penelitian
eksperimen (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:68). Dengan demikian,
penelitian korelasional sangat berguna untuk mengidentifikasi hubungan antar
variabel dan membuat prediksi, meskipun tidak dapat menetapkan hubungan
sebab-akibat secara pasti.
2. Penelitian Kausal-Komparatif
Penelitian
kausal-komparatif merupakan penelitian yang data-datanya dikumpulkan setelah
semua fenomena atau kejadian yang diteliti berlangsung, atau tentang hal-hal
yang telah terjadi sehingga tidak ada yang dikontrol (Ismail Nurdin & Sri
Hartati, 2019:68). Penelitian ini menjajaki ke belakang, ke masa peristiwa itu
terjadi penyebab suatu peristiwa atau kejadian yang menjadi objek penelitian,
dengan membandingkan fenomena pada kelompok yang ada peristiwa dan pada
kelompok yang tidak terjadi peristiwa itu (Ismail Nurdin & Sri Hartati,
2019:68-69). Penelitian kausal-komparatif dapat menentukan penyebab, efek, atau
konsekuensi yang ada di antara dua kelompok atau beberapa kelompok, dan diawali
dengan mencatat perbedaan di antara dua kelompok, selanjutnya mencari
kemungkinan penyebab, efek, atau konsekuensi (Ismail Nurdin & Sri Hartati,
2019:69). Kelemahan penelitian kausal-komparatif adalah variabel bebas tidak
dapat dikontrol karena kegiatan yang diteliti telah terjadi, kurang dapat
dilaksanakan pemilihan kelompok penelitian secara random, dan sangat sulit
untuk menentukan apakah faktor-faktor yang relevan betul-betul telah termasuk
ke dalam faktor yang sudah diidentifikasikan (Ismail Nurdin & Sri Hartati,
2019:69). Dengan demikian, penelitian kausal-komparatif sangat berguna untuk
meneliti hubungan sebab-akibat pada peristiwa yang sudah terjadi, meskipun
memiliki keterbatasan dalam hal kontrol variabel.
3. Penelitian Eksperimental
Penelitian
eksperimental merupakan satu-satunya penelitian yang akurat dan teliti
dibandingkan dengan penelitian lain dalam menentukan hubungan sebab-akibat,
karena dalam penelitian ini peneliti berdaya dan dapat melakukan pengawasan
terhadap variabel bebas baik sebelum maupun selama penelitian (Ismail Nurdin
& Sri Hartati, 2019:72). Metode eksperimen merupakan penelitian yang
digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap dampaknya dalam
kondisi yang terkendalikan (Hardani dkk, 2020:345). Keunikan penelitian
eksperimen adalah satu-satunya tipe penelitian yang memberi kesempatan pada
peneliti untuk secara langsung dapat memengaruhi variabel penelitian, dan
satu-satunya penelitian yang dapat menguji hipotesis tentang relasi hubungan
sebab-akibat (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:72). Kelemahan penelitian
eksperimen antara lain situasi lingkungan yang artificial, adanya efek peneliti
sendiri (experimenter effect), dan sulitnya mengontrol variabel extraneous di
lingkungan alami (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:72-73). Keuntungan
penelitian eksperimen adalah dapat ditentukan pengaruh atau akibat variabel
bebas terhadap variabel terikat, pembuktian hipotesis menjadi lebih baik, dan
temuan penelitian lebih akurat dan teliti (Ismail Nurdin & Sri Hartati,
2019:73). Dengan demikian, penelitian eksperimental merupakan metode yang
paling kuat untuk menguji hubungan sebab-akibat, meskipun memerlukan kontrol
yang ketat dan kondisi yang terkendali.
4. Penelitian Tindakan (Action Research)
Penelitian
tindakan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan
baru, pendekatan baru, atau informasi yang berguna bagi peneliti dan sekelompok
orang yang menjadi target group penelitian (Ismail Nurdin & Sri Hartati,
2019:70). Penelitian tindakan mencoba memecahkan suatu masalah dengan langsung
mengaplikasikan tindakan pada lingkungan tertentu dalam latar alami, dan
diawali dengan suatu rencana tindakan, tindakan, observasi, dan refleksi
(Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:70). Ciri-ciri penelitian tindakan
adalah bersifat praktis dan relevan dengan situasi aktual dalam masyarakat,
menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk memecahkan masalah atau
pengembangan, fleksibel dan adaptif, partisipatoris, serta self evaluation
(Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:71). Penelitian tindakan merupakan suatu
bentuk penelitian refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh para partisipan
dalam situasi sosial dalam rangka meningkatkan penalaran dan keadilan praktik
sosial (Tamaulina dkk, 2023:240). Tujuan penelitian tindakan adalah untuk
meningkatkan praktik tertentu dalam situasi kerja tertentu, serta melibatkan
kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan hubungan sosial yang terkait
(Tamaulina dkk, 2023:243). Dengan demikian, penelitian tindakan sangat cocok
digunakan dalam konteks pendidikan dan pengembangan organisasi, di mana
intervensi praktis dapat membantu meningkatkan kualitas proses dan hasil.
E. Jenis Penelitian Berdasarkan Bidang Ilmu
1. Penelitian Pendidikan
Penelitian
pendidikan merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang pendidikan dengan
tujuan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan dan mengembangkan ilmu
pendidikan. Penelitian pendidikan dapat menggunakan berbagai pendekatan, baik
kuantitatif, kualitatif, maupun campuran, tergantung pada masalah dan tujuan
yang hendak dicapai (Tamaulina dkk, 2023:8). Dalam penelitian pendidikan,
peneliti dapat meneliti berbagai aspek seperti proses pembelajaran, siswa,
guru, kurikulum, media pembelajaran, dan hasil belajar. Penelitian pendidikan
bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemahaman yang lebih
baik tentang proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
(Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:50). Contoh penelitian pendidikan adalah
penelitian tentang pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar
siswa, atau penelitian tentang efektivitas media pembelajaran dalam
meningkatkan pemahaman konsep. Dengan demikian, penelitian pendidikan memainkan
peran penting dalam pengembangan ilmu pendidikan dan peningkatan kualitas
pembelajaran.
2. Penelitian Sosial
Penelitian
sosial merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang ilmu-ilmu sosial
seperti sosiologi, antropologi, politik, ekonomi, dan komunikasi. Penelitian
sosial bertujuan untuk memahami fenomena sosial, perilaku manusia, dan
interaksi sosial dalam konteks masyarakat (Ismail Nurdin & Sri Hartati,
2019:40). Penelitian sosial dapat menggunakan pendekatan kuantitatif,
kualitatif, atau campuran, tergantung pada sifat fenomena yang diteliti dan
tujuan penelitian. Dalam penelitian sosial, peneliti harus memahami konteks
sosial, budaya, dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku manusia, sehingga
memerlukan pendekatan yang holistik dan kontekstual (Salim & Syahrum,
2012:42). Contoh penelitian sosial adalah penelitian tentang perilaku memilih
dalam pemilu, penelitian tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan, atau
penelitian tentang interaksi sosial di media sosial. Dengan demikian,
penelitian sosial sangat penting untuk memahami dinamika masyarakat dan
memberikan kontribusi bagi pemecahan masalah-masalah sosial.
3. Penelitian Kesehatan
Penelitian
kesehatan merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang kesehatan dengan
tujuan untuk memecahkan masalah-masalah kesehatan dan mengembangkan ilmu
kesehatan. Penelitian kesehatan dapat menggunakan berbagai metode penelitian,
termasuk metode kuantitatif, kualitatif, dan campuran, serta dapat dilakukan di
laboratorium, rumah sakit, puskesmas, atau masyarakat (Hardani dkk, 2020:249).
Dalam penelitian kesehatan, peneliti dapat meneliti berbagai aspek seperti
penyakit, pengobatan, pencegahan, pelayanan kesehatan, dan perilaku kesehatan.
Penelitian kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
melalui pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit (Ismail Nurdin & Sri Hartati, 2019:62). Contoh
penelitian kesehatan adalah penelitian tentang efektivitas obat tertentu dalam
mengobati penyakit, penelitian tentang faktor risiko penyakit jantung, atau
penelitian tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan demikian, penelitian
kesehatan memainkan peran penting dalam peningkatan kualitas kesehatan
masyarakat dan pengembangan ilmu kesehatan.
4. Penelitian Ekonomi dan Bisnis
Penelitian
ekonomi dan bisnis merupakan penelitian yang dilakukan dalam bidang ekonomi dan
bisnis dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi dan bisnis serta
mengembangkan ilmu ekonomi dan bisnis. Penelitian ekonomi dan bisnis dapat
menggunakan berbagai metode penelitian, termasuk metode kuantitatif,
kualitatif, dan campuran, serta dapat dilakukan di perusahaan, pasar, atau
lembaga keuangan (Ma'ruf Abdullah, 2015:75). Dalam penelitian ekonomi dan
bisnis, peneliti dapat meneliti berbagai aspek seperti perilaku konsumen,
strategi pemasaran, kinerja keuangan, dan kebijakan ekonomi. Penelitian ekonomi
dan bisnis bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang
fenomena ekonomi dan bisnis serta memberikan rekomendasi bagi pengambilan keputusan
(Ma'ruf Abdullah, 2015:76). Contoh penelitian ekonomi dan bisnis adalah
penelitian tentang pengaruh iklan terhadap keputusan pembelian, penelitian
tentang analisis kinerja keuangan perusahaan, atau penelitian tentang dampak
kebijakan moneter terhadap inflasi. Dengan demikian, penelitian ekonomi dan
bisnis sangat penting untuk pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis serta
peningkatan kinerja organisasi dan perekonomian.
DAFTAR PUSTAKA
Hardani, dkk.
(2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV.
Pustaka Ilmu.
Ismail Nurdin
& Sri Hartati. (2019). Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya:
Penerbit Media Sahabat Cendekia.
Ma'ruf
Abdullah. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Aswaja
Pressindo.
Salim &
Syahrum. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Citapustaka
Media.
Siyoto, S.
& Sodik, M.A. (2015). Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta:
Literasi Media Publishing.
Tamaulina Br.
Sembiring, dkk. (2023). Buku Ajar Metodologi Penelitian (Teori dan Praktik).
Karawang: CV Saba Jaya Publisher.
Zuchri
Abdussamad. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: CV. Syakir
Media Press.










