Kehidupan Aril

Almamater Universitas Syiah Kuala

Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

Senam Massal

Senam Massal di Lapangan Tugu Universitas Syiah Kuala.

Lhok Mata Ie Beach

Pantai Lhok Mata Ie Di Banda Aceh.

Furious FC

Tim Sepakbola Mahasiswa PJKR USK Let 24.

Gunung Sibayak

Kawah Gunung Sibayak 2212 MDPL.

Muaythai

Seni Wai Kru Individu MuayThai pada Pra PORA ACEH.

POLDA ACEH

Senam Massal Bersama POLDA ACEH.

Bukit Gundul

Sabana Bukit Gundul 1972 MDPL di puncak Sipiso-piso.

Proka FC

Tim Futsal dan Sepakbola Pematangsiantar.

ROHIS SMAN 2 PEMATANGSIANTAR

Organisasi Keagamaan Islam di SMAN 2 Pematangsiantar.

Cerita

Monday, March 9, 2026

4: PEMBELAJARAN PENCAK SILAT

TEKNIK DASAR PENCAK SILAT

Kajian Mendalam Jenis dan Fungsinya

 

Pencak silat merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2019. Lebih dari sekadar sistem pertarungan, pencak silat adalah disiplin ilmu yang merangkum dimensi fisik, spiritual, seni, dan etika dalam satu kesatuan yang utuh. Pemahaman mendalam terhadap setiap teknik dasar bukan hanya menjadi bekal praktis, tetapi juga merupakan pintu masuk untuk memahami kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Materi ini disusun untuk memberikan penjelasan yang rinci dan akademis mengenai jenis-jenis teknik dasar pencak silat, mencakup deskripsi pelaksanaan, fungsi taktis, dan relevansi biomekanika dari masing-masing teknik. Penjelasan ini merujuk pada literatur akademik yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Pencak silat adalah sistem olah raga bela diri yang menggunakan akal dan pikiran, bukan hanya kekuatan fisik semata. Penguasaan teknik dasar yang benar adalah cermin dari kematangan seorang pesilat." (Mulyana, 2013, hlm. 7)

 

1. KUDA-KUDA (STANCE)

Kuda-kuda adalah posisi dasar pijakan kaki yang menjadi fondasi seluruh rangkaian gerak dalam pencak silat. Secara biomekanika, kuda-kuda berfungsi untuk mengoptimalkan pusat gravitasi (center of gravity) dan bidang tumpuan (base of support) tubuh pesilat, sehingga stabilitas postur dapat dipertahankan dalam berbagai situasi dinamis pertarungan. Semakin rendah posisi kuda-kuda, semakin luas bidang tumpuan dan semakin stabil posisi pesilat; namun mobilitas menjadi berkurang. Sebaliknya, kuda-kuda yang lebih tinggi memberikan mobilitas lebih besar dengan sedikit pengorbanan stabilitas (Lubis, 2014).

Pemilihan jenis kuda-kuda yang tepat merupakan keputusan taktis yang harus disesuaikan dengan konteks pertarungan, antara lain jarak dengan lawan, arah serangan yang akan dilancarkan atau diantisipasi, serta kondisi medan pertarungan.

"Kuda-kuda yang sempurna adalah yang memungkinkan pesilat untuk bergerak ke segala arah dengan cepat, tanpa kehilangan keseimbangan dan kekuatan." (Notosoejitno, 1997, hlm. 31)

1.1  Jenis-Jenis Kuda-Kuda

Gambar 1:  Jenis kuda-kuda dalam pencak silat

1.1.1  Kuda-Kuda Depan

Kuda-kuda depan dilaksanakan dengan menempatkan satu kaki di depan dan satu kaki di belakang, dengan lutut kaki depan ditekuk membentuk sudut kurang lebih 90–120 derajat, sedangkan kaki belakang lurus atau sedikit ditekuk. Berat badan didistribusikan dengan proporsi lebih besar (sekitar 60–70%) pada kaki depan. Posisi ini menciptakan garis serangan yang kuat karena memaksimalkan jangkauan lengan ke depan sekaligus memungkinkan dorongan dari kaki belakang untuk memperkuat serangan.

Fungsi taktis: Ideal untuk melakukan serangan lurus (pukulan lurus, tendangan depan), serta sebagai posisi awal dalam kombinasi serangan berjarak sedang hingga dekat. Kelemahan kuda-kuda ini adalah rentan terhadap serangan dari arah samping karena bidang pertahanan lateral yang terbatas.

1.1.2    Kuda-Kuda Belakang

Kuda-kuda belakang adalah kebalikan dari kuda-kuda depan, di mana berat badan bertumpu secara dominan (70–80%) pada kaki belakang, sementara kaki depan hanya menyentuh lantai dengan sedikit tekanan atau bertumpu pada ujung jari kaki. Lutut kaki belakang ditekuk cukup dalam untuk menjaga stabilitas, sedangkan kaki depan relatif santai dan bebas bergerak.

Fungsi taktis: Posisi ini sangat efektif untuk strategi bertahan sambil menunggu momentum serangan balik. Kaki depan yang ringan dapat dengan cepat digunakan untuk melancarkan tendangan atau sebagai kaki jangkar saat berpindah posisi. Kuda-kuda ini juga efektif dalam situasi 'pasif-agresif', yakni menampilkan pertahanan pasif untuk memancing lawan menyerang, lalu segera melakukan counter-attack (Hariono, 2006).

1.1.3   Kuda-Kuda Tengah

Kuda-kuda tengah dilaksanakan dengan membuka kedua kaki selebar satu hingga satu setengah lebar bahu, dengan kedua lutut ditekuk secara simetris dan berat badan terbagi rata antara kedua kaki (50:50). Posisi tubuh tegak atau sedikit condong ke depan, dengan pusat gravitasi yang relatif rendah.

Fungsi taktis: Memberikan stabilitas maksimal dan keseimbangan yang sangat baik, menjadikannya pilihan utama saat menghadapi tekanan fisik dari lawan, saat melancarkan pukulan atau tendangan samping yang memerlukan kestabilan, atau sebagai posisi transisi antara kuda-kuda depan dan belakang. Dalam beberapa aliran pencak silat, kuda-kuda tengah juga digunakan sebagai posisi dasar untuk melancarkan serangan ganda secara simultan.

1.1.4     Kuda-Kuda Samping

Kuda-kuda samping dilaksanakan dengan posisi tubuh menghadap ke samping (90 derajat dari arah lawan), dengan salah satu kaki sebagai tumpuan utama yang ditekuk, sementara kaki lainnya dapat lurus atau sedikit ditekuk sebagai penyeimbang. Berat badan bertumpu dominan pada kaki tumpuan.

Fungsi taktis: Posisi ini secara signifikan mempersempit profil tubuh yang terlihat oleh lawan, sehingga mengurangi area target yang dapat dijangkau. Sangat efektif dalam pertarungan jarak menengah hingga jauh, terutama saat menghadapi lawan yang agresif. Kuda-kuda samping juga memudahkan pelaksanaan tendangan samping yang memiliki tenaga dan jangkauan besar (Lubis & Wardoyo, 2014).

1.1.5   Kuda-Kuda Silang

Kuda-kuda silang memiliki karakteristik unik di mana posisi salah satu kaki menyilang di depan atau di belakang kaki lainnya, menciptakan konfigurasi postur yang tidak lazim namun memiliki nilai taktis tersendiri. Terdapat dua varian: silang depan (kaki menyilang ke depan) dan silang belakang (kaki menyilang ke belakang).

Fungsi taktis: Kuda-kuda silang umumnya digunakan sebagai posisi transisi atau teknik tipuan untuk mengecoh lawan. Posisi ini memberikan kemudahan untuk berputar cepat karena sumbu rotasi tubuh berada di dekat titik silang kaki. Penggunaan kuda-kuda silang yang terampil dapat menciptakan momen kejutan yang mengacaukan antisipasi dan konsentrasi lawan (Notosoejitno, 1997).

 

2. SIKAP PASANG

Sikap pasang adalah posisi kesiapan tempur menyeluruh yang memadukan posisi kaki (kuda-kuda), posisi tangan (guard), orientasi tubuh, dan kesiapan mental dalam satu kesatuan yang sinergis. Lubis (2014) mendefinisikan sikap pasang sebagai ekspresi taktis pesilat yang mencerminkan strategi awal dalam menghadapi lawan, baik dalam postur bertahan, menyerang, maupun kombinasi keduanya.

Dalam konteks pertandingan resmi, setiap pesilat wajib menampilkan sikap pasang sebagai pembuka dan penutup penampilan, yang dinilai oleh dewan juri dari aspek ketepatan postur, ekspresi, dan keserasian dengan jurus yang ditampilkan. Sikap pasang yang baik memancarkan kombinasi kewaspadaan, kesiapan, dan kepercayaan diri yang menjadi bagian dari dimensi psikologis dalam pencak silat.

2.1  Jenis-Jenis Sikap Pasang

Gambar 2:  Jenis sikap pasang dalam pencak silat

2.1.1    Pasang Satu

Pasang satu adalah sikap pasang dasar yang menempatkan pesilat dalam posisi ofensif frontal. Posisi kaki membentuk kuda-kuda depan atau tengah, dengan kedua tangan diangkat ke posisi siap menyerang di depan dada. Satu tangan berada di posisi depan sebagai tangan penyerang pertama, sementara tangan lainnya berada sedikit di belakang sebagai penyerang kedua atau pelindung. Pandangan terfokus lurus ke arah lawan.

Pasang satu menekankan kesiapan serangan langsung, umumnya digunakan saat pesilat mengambil inisiatif menyerang atau saat jarak dengan lawan sudah dalam jangkauan efektif. Kelemahan posisi ini adalah area pertahanan samping dan belakang yang kurang terlindungi.

2.1.2   Pasang Dua

Pasang dua menempatkan pesilat dalam posisi defensif dengan posisi tubuh yang lebih rendah dibandingkan pasang satu. Kuda-kuda yang digunakan lebih rendah (kuda-kuda tengah atau belakang yang dalam), dengan kedua tangan membentuk posisi guarding yang lebih rapat dan menutup area vital seperti wajah, leher, dan ulu hati. Posisi tubuh yang rendah menurunkan pusat gravitasi, menghasilkan stabilitas yang lebih tinggi.

Pasang dua cocok digunakan saat menghadapi lawan yang agresif dan bertubi-tubi melancarkan serangan, karena posisi ini mengutamakan integritas pertahanan sambil menunggu celah untuk melakukan serangan balasan yang presisi dan efektif.

2.1.3    Pasang Tiga

Pasang tiga mengorientasikan tubuh pesilat secara menyamping terhadap lawan, dengan profil tubuh yang lebih sempit. Kaki belakang menjadi tumpuan utama, sedangkan kaki depan lebih ringan dan siap bergerak. Posisi tangan disesuaikan untuk melindungi sisi tubuh yang menghadap lawan, dengan satu tangan di depan sebagai sensor dan satu tangan di belakang sebagai pemukul kedua.

Orientasi menyamping ini secara efektif mengurangi area tubuh yang dapat dijangkau oleh serangan lawan. Posisi ini juga memudahkan pelaksanaan elakan samping dan serangan balasan berupa tendangan samping atau pukulan dari sudut yang tidak terduga oleh lawan.

2.1.4    Pasang Empat

Pasang empat adalah posisi yang paling seimbang antara ofensif dan defensif, sering disebut sebagai sikap pasang 'all-round'. Posisi kaki membentuk kuda-kuda yang memberikan kestabilan moderat, dengan berat badan terdistribusi seimbang. Satu tangan diposisikan untuk menyerang, sementara tangan lainnya tetap siap bertahan atau melakukan serangan simultan.

Pasang empat menuntut kematangan teknis tertinggi karena pesilat harus mampu beralih antara serangan dan pertahanan secara instan tanpa jeda transisi yang dapat dimanfaatkan lawan. Posisi ini sangat cocok untuk pertarungan jarak dekat hingga menengah yang memerlukan fleksibilitas taktis tinggi (Mulyana, 2013).

 

3. POLA LANGKAH

Pola langkah adalah sistem pergerakan kaki yang terencana dan terstruktur untuk mengontrol jarak, sudut, dan posisi relatif pesilat terhadap lawan. Dalam pencak silat, kemampuan mengatur langkah bukan hanya soal mobilitas fisik, tetapi juga merupakan manifestasi dari kecerdasan taktis dan penguasaan ruang pertarungan. Notosoejitno (1997) menekankan bahwa pesilat yang menguasai pola langkah dengan baik mampu 'membaca' pertarungan beberapa langkah ke depan, layaknya pemain catur yang mengantisipasi gerakan lawan.

"Langkah adalah bahasa taktis pesilat. Siapa yang menguasai langkah, ia menguasai irama dan ruang pertarungan." (Notosoejitno, 1997, hlm. 55)

3.1  Jenis-Jenis Pola Langkah

Gambar 3:  Jenis pola langkah dalam pencak silat

3.1.1    Langkah Lurus

Langkah lurus adalah pola pergerakan paling fundamental, dilakukan dengan memindahkan kaki secara linear ke depan, ke belakang, atau ke samping mengikuti satu garis lurus. Langkah ke depan digunakan untuk menutup jarak dan menekan lawan, langkah ke belakang untuk memberi ruang dan menghindar, sedangkan langkah ke samping untuk keluar dari garis serangan lawan.

Meski terlihat sederhana, langkah lurus yang dilakukan dengan timing yang tepat memiliki efektivitas tinggi karena memberikan momentum linear yang kuat untuk serangan langsung. Langkah lurus juga menjadi komponen dalam hampir semua kombinasi serangan dalam pencak silat.

3.1.2    Langkah Segitiga

Langkah segitiga dilaksanakan dengan pola pergerakan yang membentuk geometri segitiga. Pesilat bergerak ke sudut kiri depan, lalu ke sudut kanan depan, kemudian kembali ke posisi semula, atau variasi lainnya yang membentuk pola tiga titik. Pola ini sering digunakan untuk mengepung atau memotong jalur lawan.

Fungsi taktis utamanya adalah memaksa lawan untuk terus berotasi dan berputar, sehingga pertahanan lawan menjadi tidak konsisten dan celah serangan terbuka. Langkah segitiga juga efektif untuk menciptakan sudut serangan yang tidak lazim, menyerang dari posisi 45 derajat samping lawan di mana jangkauan pertahanannya paling lemah.

3.1.3    Langkah Segi Empat

Langkah segi empat membentuk pola pergerakan empat titik sudut persegi atau persegi panjang. Pesilat bergerak mengikuti jalur kotak imajiner di sekitar lawan, berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya untuk mengendalikan ruang pertarungan secara menyeluruh. Pola ini menuntut stamina dan koordinasi yang lebih tinggi dibandingkan langkah sederhana.

Keunggulan taktis langkah segi empat adalah kemampuannya untuk mengontrol seluruh zona pertarungan, mencegah lawan untuk meloloskan diri atau mengambil posisi yang menguntungkan. Pola ini umumnya digunakan oleh pesilat yang lebih dominan secara fisik untuk 'menguasai ring' dan memaksa lawan bermain sesuai ritme yang diinginkan.

3.1.4    Langkah Huruf U

Langkah huruf U menggambarkan pergerakan yang membentuk pola melengkung menyerupai huruf U, di mana pesilat bergerak maju ke satu sisi, melengkung di bagian bawah, lalu kembali maju ke sisi lainnya. Pola ini menciptakan gerakan mengepung yang halus dan sulit diantisipasi lawan karena tidak memberikan sinyal arah yang jelas.

Langkah huruf U sangat efektif untuk menjebak lawan di 'cekungan' pola langkah, di mana pergerakan lawan menjadi terbatas karena terhalang oleh posisi pesilat yang ada di kedua sisinya. Pola ini juga memudahkan pesilat untuk menyerang sisi yang lebih lemah dari pertahanan lawan.

3.1.5    Langkah Zig-Zag

Langkah zig-zag adalah pola pergerakan yang berubah arah secara bergantian, membentuk sudut-sudut tajam seperti huruf Z. Pesilat bergerak ke satu diagonal, lalu berbalik ke diagonal lainnya dengan cepat, menciptakan pergerakan yang tidak beraturan dan sulit diprediksi. Kecepatan perubahan arah menjadi kunci efektivitas teknik ini.

Dalam konteks pertahanan, langkah zig-zag sangat efektif untuk menghindari serangan beruntun dari lawan yang agresif karena perubahan arah yang cepat membuat proyeksi serangan lawan selalu meleset. Dalam konteks serangan, pola ini digunakan untuk menciptakan kebingungan pada lawan sebelum melancarkan serangan dari arah yang tidak terduga (Hariono, 2006).

 

4. TEKNIK PUKULAN

Teknik pukulan dalam pencak silat merupakan sistem serangan terstruktur yang memanfaatkan tangan, kepalan, dan lengan sebagai instrumen penyerang. Berbeda dengan seni bela diri lain yang mungkin hanya memiliki beberapa jenis pukulan dasar, pencak silat memiliki ragam teknik pukulan yang kaya dan bervariasi, mencerminkan kekayaan kultural dan kreativitas para leluhur dalam mengembangkan sistem pertempuran. Hariono (2006) menekankan bahwa efektivitas pukulan dalam pencak silat sangat bergantung pada rantai kinetik — mulai dari dorongan kaki, rotasi pinggul, rotasi bahu, hingga ekstensi lengan — yang harus bekerja secara terkoordinasi untuk menghasilkan pukulan yang bertenaga dan akurat.

"Pukulan yang efektif bukan lahir dari kekuatan otot semata, melainkan dari harmonisasi seluruh rantai gerak tubuh yang bekerja dalam satu momentum yang tepat." (Hariono, 2006, hlm. 83)

4.1  Jenis-Jenis Pukulan

Gambar 4:  Jenis pukulan dalam pencak silat

4.1.1    Pukulan Lurus

Pukulan lurus (juga dikenal sebagai pukulan depan) dieksekusi dengan cara mengayunkan tangan lurus ke depan menuju sasaran, dengan lintasan pukulan yang sejajar dengan garis tengah tubuh. Eksekusi yang benar melibatkan rotasi bahu yang diikuti dengan rotasi pinggul bersamaan dengan kaki belakang yang mendorong, menghasilkan tenaga eksplosif yang tersalurkan melalui kepalan tangan.

Sasaran utama pukulan lurus adalah wajah (khususnya hidung dan dagu), dada, dan ulu hati. Dalam pertandingan pencak silat, pukulan lurus adalah teknik yang paling sering digunakan karena kesederhanaan eksekusinya dan efektivitas yang tinggi, terutama dalam jarak sedang (Lubis & Wardoyo, 2014). Pukulan lurus dari tangan depan disebut jab, sedangkan dari tangan belakang disebut cross dalam terminologi bela diri modern.

4.1.2    Pukulan Bandul (Uppercut)

Pukulan bandul dieksekusi dengan gerakan tangan dari posisi bawah menuju ke atas, menyerupai gerakan pendulum atau bandul jam. Tangan awalnya berada di posisi rendah (setinggi pinggang atau lebih rendah), kemudian diayunkan ke atas dengan rotasi bahu dan sedikit tekukan siku, menghantam sasaran dari bawah ke atas.

Pukulan ini sangat efektif dalam pertarungan jarak dekat di mana ruang gerak tangan terbatas. Sasaran utama adalah dagu dari bawah — yang dapat menyebabkan kepala lawan terhentak ke belakang secara keras — serta ulu hati dan tulang rusuk bagian bawah. Karena lintasannya yang dari bawah, pukulan bandul sering tidak terlihat oleh pandangan periferal lawan dan menjadi senjata kejutan yang berbahaya.

4.1.3    Pukulan Tegak

Pukulan tegak dieksekusi dengan gerakan tangan dari atas ke bawah, dengan kepalan tangan dalam posisi tegak (sisi ibu jari menghadap ke atas saat pukulan mendarat). Gerakan ini mirip dengan gerakan memalu paku, memanfaatkan berat lengan dan gravitasi untuk menambah kekuatan hantaman.

Sasaran pukulan tegak umumnya adalah punggung, pangkal leher, bahu, serta tulang belikat lawan, terutama saat lawan sedang membungkuk atau posisi kepala lawan lebih rendah dari pesilat. Dalam situasi pertarungan di mana lawan berhasil ditarik ke posisi condong ke depan, pukulan tegak ke punggung atas atau tengkuk dapat menjadi pukulan penentu yang sangat efektif (Mulyana, 2013).

4.1.4    Pukulan Samping (Hook)

Pukulan samping dieksekusi dengan gerakan tangan dari luar menuju ke dalam secara horizontal, dengan siku ditekuk membentuk sudut 90 derajat. Tenaga pukulan ini berasal dari rotasi bahu dan pinggang yang menggerakkan seluruh massa lengan dalam lintasan melingkar horizontal menuju sasaran.

Sasaran utama adalah pelipis, rahang, dan telinga lawan. Pukulan ke daerah telinga dengan telapak tangan terbuka (disebut 'tamparan' atau 'tepuk telinga') dapat menyebabkan gangguan keseimbangan akibat tekanan udara yang masuk ke saluran telinga. Pukulan samping adalah salah satu pukulan yang paling sulit diantisipasi dalam pertarungan jarak dekat karena datang dari luar garis pandang utama lawan.

4.1.5    Pukulan Tebak

Pukulan tebak menggunakan telapak tangan terbuka (open palm) sebagai permukaan benturan, bukan kepalan tangan. Teknik ini dapat digunakan untuk serangan maupun untuk mengalihkan atau menangkis serangan lawan. Pukulan tebak diarahkan ke wajah atau telinga lawan dengan tujuan untuk menimbulkan gangguan pada keseimbangan dan konsentrasi lawan (Kriswanto, 2015).

Dalam tradisi pencak silat dari berbagai daerah, pukulan tebak memiliki variasi yang beragam. Beberapa aliran menggunakan teknik ini sebagai serangan utama ke arah telinga lawan yang dapat menyebabkan gangguan vestibular, sementara aliran lain lebih mengutamakan penggunaannya sebagai teknik pengalihan untuk membuka peluang serangan lanjutan (Maryono, 1998).

4.1.6    Pukulan Sodok

Pukulan sodok atau tusukan menggunakan ujung jari-jari tangan yang diluruskan dan dirapatkan sebagai senjata. Teknik ini menargetkan titik-titik vital pada tubuh lawan seperti tenggorokan, ulu hati, atau mata. Pukulan sodok memerlukan penguatan khusus pada jari-jari tangan melalui latihan yang intensif dan bertahap (Lubis & Wardoyo, 2014).

Karena sifatnya yang berpotensi menimbulkan cedera serius, penggunaan pukulan sodok dalam konteks pertandingan resmi umumnya dibatasi atau dilarang. Namun demikian, teknik ini tetap dipelajari dalam konteks bela diri praktis dan merupakan bagian penting dari warisan teknis pencak silat tradisional (Hariono, 2006).


5. TEKNIK TENDANGAN

Tendangan merupakan salah satu keunggulan komparatif pencak silat dibandingkan banyak seni bela diri lainnya, karena variasi dan kelincahan teknik tendangan dalam pencak silat sangat kaya. Kaki sebagai senjata memiliki keunggulan berupa jangkauan yang lebih jauh dan massa yang lebih besar dibandingkan tangan, sehingga potensi kekuatan tendangan secara teoritis lebih besar daripada pukulan. Namun, tendangan juga memiliki risiko yang lebih tinggi karena saat satu kaki diangkat, stabilitas tubuh berkurang secara signifikan (Lubis, 2014).

Oleh karena itu, pemilihan waktu (timing), jarak (distance), dan posisi tubuh (positioning) menjadi faktor kritis yang menentukan keberhasilan sebuah tendangan dalam situasi pertarungan nyata.

5.1  Jenis-Jenis Tendangan

Gambar 5:  Jenis tendangan dalam pencak silat

5.1.1    Tendangan Depan (Lurus)

Tendangan depan dieksekusi dengan mengangkat lutut kaki penyerang ke depan hingga setinggi pinggang atau lebih, kemudian mendorong kaki ke depan secara lurus menuju sasaran. Permukaan kontak yang digunakan dapat berupa telapak kaki (ball of foot), ujung kaki, atau punggung kaki tergantung sasaran dan jarak.

Tendangan depan memiliki jangkauan maksimal di antara semua jenis tendangan dan sangat efektif untuk menjaga jarak dengan lawan yang mencoba menutup jarak. Sasaran utama meliputi dada, perut, ulu hati, dan wajah. Saat dieksekusi dengan telapak kaki dan mendorong tubuh lawan, tendangan ini dapat digunakan sebagai teknik 'push kick' untuk mengatur ulang jarak pertarungan. Saat menggunakan ujung kaki dengan dorongan pinggul penuh, tenaga yang dihasilkan sangat signifikan dan dapat merobohkan lawan (Lubis & Wardoyo, 2014).

5.1.2    Tendangan Samping (Side Kick)

Tendangan samping dieksekusi dari posisi kuda-kuda samping atau dengan melakukan rotasi tubuh. Kaki diangkat dengan lutut mengarah ke sisi lawan, kemudian didorong ke arah samping dengan menggunakan sisi telapak kaki (pisau kaki) atau tumit sebagai permukaan kontak. Pinggul dirotasikan ke arah tendangan untuk memaksimalkan jangkauan dan tenaga.

Tendangan samping adalah salah satu tendangan terkuat dalam pencak silat karena melibatkan otot-otot besar dari pinggul dan paha dalam lintasan dorongan yang efisien. Sasaran utama adalah torso (rusuk, ulu hati, pinggang), lutut, dan kepala jika dilakukan dengan ketinggian yang memadai. Tendangan samping ke arah lutut lawan dapat merusak sendi lutut secara serius, sehingga dalam latihan perlu dieksekusi dengan kontrol penuh.

5.1.3    Tendangan Sabit (Roundhouse Kick)

Tendangan sabit dieksekusi dengan gerakan kaki yang melingkar dari samping menuju ke depan, membentuk busur seperti sabit. Lutut diangkat ke samping, kemudian tungkai bagian bawah diputar secara horizontal menuju sasaran dengan menggunakan punggung kaki, tulang kering, atau telapak kaki bagian depan sebagai permukaan kontak. Seluruh tubuh berputar mengikuti arah tendangan untuk memaksimalkan tenaga rotasional.

Tendangan sabit menjadi tendangan paling populer dan paling sering digunakan dalam pertandingan pencak silat karena memiliki kecepatan tinggi, kekuatan yang besar berkat momentum rotasi, dan jangkauan yang baik. Sasaran utama adalah kepala (pelipis, rahang), leher, dan torso. Tendangan sabit ke arah kepala (head kick) merupakan teknik pencetak nilai tertinggi dalam pertandingan resmi (IPSI, 2012).

5.1.4    Tendangan Belakang (Back Kick)

Tendangan belakang dieksekusi dengan cara memutar tubuh 180 derajat (atau menggunakan gerakan langsung tanpa rotasi penuh), kemudian mendorong kaki ke arah belakang dengan menggunakan tumit atau telapak kaki sebagai permukaan kontak. Kepala dan pandangan umumnya tetap diarahkan ke lawan selama eksekusi untuk menjaga kewaspadaan.

Tendangan belakang memanfaatkan kekuatan penuh dari otot paha belakang (hamstring) dan gluteus dalam lintasan lurus yang efisien, menghasilkan salah satu tendangan paling bertenaga dalam pencak silat. Tendangan ini efektif digunakan saat lawan berada di belakang pesilat atau sebagai serangan kejutan setelah melakukan rotasi, karena lintasan dan timingnya sangat sulit diantisipasi lawan.

5.1.5    Tendangan Gajul (Axe Kick)

Tendangan gajul atau axe kick dilaksanakan dengan mengangkat kaki setinggi mungkin ke atas kemudian menghentakkannya ke bawah menuju target, dengan tumit atau telapak kaki sebagai permukaan benturan. Gaya gravitasi dikombinasikan dengan kekuatan otot hamstring yang berkontraksi menghasilkan kekuatan benturan ke bawah yang sangat besar (Kriswanto, 2015).

Tendangan gajul umumnya digunakan untuk menyerang bagian bahu, klavikula, atau kepala lawan yang sedang membungkuk. Latihan fleksibilitas yang intensif, khususnya pada kelompok otot hamstring dan fleksor panggul, merupakan prasyarat mutlak bagi pesilat yang ingin menguasai teknik tendangan ini dengan efektif (Lubis & Wardoyo, 2014).

5.1.6    Tendangan Jejak (Stomping Kick)

Tendangan jejak dilaksanakan dengan mengangkat lutut ke posisi tinggi kemudian menghentakkan telapak kaki ke bawah menuju target di bagian bawah tubuh lawan, umumnya menargetkan kaki atau lutut lawan. Tendangan ini sangat efektif untuk merusak keseimbangan dan mobilitas lawan, terutama dalam situasi jarak dekat (Hariono, 2006).

Dalam praktik bela diri tradisional, tendangan jejak sering dikombinasikan dengan teknik-teknik kuncian dan bantingan, di mana tendangan ini digunakan untuk mematikan pergerakan kaki lawan sebelum mengeksekusi teknik jatuhan. Kombinasi semacam ini mencerminkan kompleksitas dan kedalaman sistem tempur pencak silat sebagai suatu sistem bela diri yang holistik (Maryono, 1998).


6. TEKNIK TANGKISAN

Tangkisan adalah teknik pertahanan aktif yang melibatkan kontak langsung antara bagian tubuh pesilat dengan instrumen serangan lawan. Tujuan tangkisan bukan sekadar menghentikan serangan, melainkan untuk membelokkan, mengalihkan, atau menetralisir serangan tersebut sekaligus menciptakan posisi yang menguntungkan untuk serangan balasan. Mulyana (2013) menyatakan bahwa tangkisan yang ideal tidak hanya berfungsi defensif, tetapi juga harus mampu 'membuka' pertahanan lawan sehingga serangan balasan dapat dieksekusi dengan segera dan efektif.

Dalam prinsip biomekanika, tangkisan yang efisien menggunakan prinsip defleksi (pembelokan arah) daripada oposisi langsung (penghentian frontal). Membelokkan serangan lawan dengan sudut 30–45 derajat memerlukan jauh lebih sedikit energi dibandingkan menghentikan serangan secara frontal, sekaligus menciptakan pembukaan untuk serangan balasan.

6.1  Jenis-Jenis Tangkisan

Gambar 6:  Jenis tangkisan dalam pencak silat

6.1.1    Tangkisan Dalam

Tangkisan dalam dieksekusi dengan gerakan lengan dari luar ke dalam (dari posisi lateral menuju garis tengah tubuh), menangkis serangan lawan yang datang dari arah luar. Gerakan ini membelokkan serangan lawan ke arah dalam, sehingga instrumen serangan lawan (tangan atau kaki) melintas di depan tubuh pesilat tanpa mengenai sasaran.

Setelah melakukan tangkisan dalam, posisi lengan pesilat dan lengan lawan menjadi saling bersilang, menciptakan momentum untuk melakukan 'trap' (perangkap lengan) atau serangan balasan berupa pukulan atau kuncian. Tangkisan dalam paling efektif untuk menangkis pukulan lurus dan tendangan depan yang datang dari arah frontal lawan.

6.1.2    Tangkisan Luar

Tangkisan luar adalah kebalikan dari tangkisan dalam, dieksekusi dengan gerakan lengan dari dalam ke luar (dari garis tengah menuju sisi lateral), membelokkan serangan lawan ke arah luar sehingga melintas di sisi luar tubuh pesilat. Gerakan ini membuka pertahanan sisi lawan yang kini terbuka akibat defleksi serangannya.

Tangkisan luar sangat efektif karena setelah berhasil, posisi pesilat berada di sisi yang relatif tidak terlindungi oleh lawan — lawan menghadap ke arah yang sudah dibelokkan, sementara pesilat sudah berada di sudut yang menguntungkan untuk melancarkan serangan balasan ke area rusuk atau wajah lawan yang terbuka.

6.1.3    Tangkisan Atas

Tangkisan atas dieksekusi dengan mengangkat lengan ke atas kepala untuk menangkis serangan yang datang dari arah atas, seperti pukulan tegak, pukulan ayun ke bawah, atau serangan menggunakan senjata ke area kepala. Lengan penangkis umumnya membentuk sudut miring agar serangan terdefleksi ke sisi samping, bukan diterima secara frontal yang justru dapat merusak lengan sendiri.

Dalam eksekusi yang benar, lengan membentuk sudut miring di atas kepala — bukan datar horizontal — sehingga serangan lawan meluncur ke samping mengikuti bidang miring lengan. Hal ini jauh lebih efisien secara energi dan lebih aman untuk sendi dan tulang lengan pesilat. Tangkisan atas umumnya diikuti dengan serangan balasan berupa pukulan atau tendangan ke area perut atau kaki lawan yang kini terbuka.

6.1.4    Tangkisan Bawah

Tangkisan bawah dieksekusi dengan menggerakkan lengan ke bawah untuk membelokkan serangan yang datang dari bawah ke atas, seperti pukulan bandul, tendangan ke arah paha, atau serangan sapuan kaki. Lengan diarahkan ke bawah dengan sudut tertentu untuk membelokkan serangan ke samping bawah, jauh dari area vital.

Tangkisan bawah juga efektif digunakan untuk menangkis tendangan depan dengan cara membelokkan kaki lawan ke samping bawah. Setelah tangkisan berhasil, kaki lawan yang terbelokkan menciptakan ketidakseimbangan pada postur lawan, membuka peluang untuk melakukan serangan balik berupa tendangan, sapuan kaki, atau bantingan (Lubis & Wardoyo, 2014).

 

7. TEKNIK ELAKAN DAN HINDARAN

Elakan dan hindaran adalah teknik pertahanan yang memanfaatkan pergerakan tubuh untuk menghindari serangan lawan tanpa melakukan kontak fisik langsung dengan instrumen serangan. Filosofi di balik teknik ini adalah 'mengalah untuk menang' — dengan membiarkan serangan lawan melintas tanpa mengenai tubuh, pesilat menghemat energi sekaligus menciptakan peluang serangan balik saat lawan berada dalam posisi tidak seimbang setelah serangannya gagal.

Efektivitas teknik elakan dan hindaran sangat bergantung pada kecepatan membaca serangan lawan (reading), timing yang tepat dalam menghindari, dan kemampuan untuk langsung mengeksploitasi posisi lawan yang terpapar setelah serangan gagal. Notosoejitno (1997) menyatakan bahwa penguasaan teknik ini adalah penanda kematangan seorang pesilat, karena memerlukan kombinasi kecepatan reaksi, fleksibilitas, dan kecerdasan taktis yang tinggi.

"Pesilat yang mahir tidak mencari kontak; ia membiarkan serangan lawan lewat dan memanfaatkan momentum lawan yang terbuang sebagai senjatanya sendiri." (Mulyana, 2013, hlm. 112)

7.1   Jenis-Jenis Elakan dan Hindaran

Gambar 7:  Jenis elakan dalam pencak silat

7.1.1    Elakan Samping

Elakan samping dilakukan dengan memindahkan posisi tubuh secara lateral ke kanan atau ke kiri untuk menghindari serangan yang datang secara frontal. Pergerakan dilakukan dengan langkah cepat ke samping yang cukup untuk membuat serangan lawan melintas di depan atau belakang tubuh pesilat tanpa mengenai sasaran.

Setelah elakan samping berhasil, pesilat berada di posisi 90 derajat di samping lawan, yang merupakan 'blind spot' (titik buta) pertahanan lawan. Dari posisi ini, serangan balasan berupa pukulan ke rusuk, tendangan, atau teknik kuncian dan bantingan dapat dieksekusi dengan sangat efektif sebelum lawan sempat merespons. Timing eksekusi elakan samping yang tepat — tidak terlalu awal (lawan dapat mengoreksi arah) dan tidak terlalu lambat (serangan sudah terlanjur mengenai) — adalah kunci keberhasilannya.

7.1.2    Elakan Belakang

Elakan belakang dilakukan dengan memindahkan posisi tubuh ke belakang untuk keluar dari jangkauan serangan lawan. Dapat dieksekusi dengan cara melangkah ke belakang (step back) atau dengan teknik lean back — melengkungkan tubuh ke belakang tanpa memindahkan kaki, sehingga kaki tetap berada di posisi yang sama sementara tubuh bagian atas bergerak menjauh dari serangan.

Teknik lean back sangat efektif untuk menghindari pukulan ke area kepala pada jarak yang sangat dekat, karena eksekusinya lebih cepat dibandingkan langkah mundur penuh. Namun, elakan belakang dengan langkah mundur lebih aman karena memberikan jarak yang lebih besar. Kelemahan elakan belakang adalah pesilat menjauhi lawan, sehingga serangan balasan harus dilakukan dengan segera sebelum lawan menutup kembali jaraknya.

7.1.3    Hindaran Merendah

Hindaran merendah dilakukan dengan cara merendahkan posisi tubuh secara cepat — baik dengan tekukan lutut, posisi jongkok parsial, atau kombinasi keduanya — untuk menghindari serangan yang datang ke area kepala, leher, atau bahu. Pesilat 'masuk ke bawah' lintasan serangan lawan sehingga serangan tersebut melintas di atas kepala tanpa mengenai.

Hindaran merendah merupakan salah satu teknik paling efektif untuk menghadapi serangan tendangan ke arah kepala (head kick) karena memanfaatkan area bawah yang tidak menjadi sasaran tendangan tinggi. Setelah berhasil merendah dan serangan lawan melintas di atas, pesilat berada dalam posisi yang sangat dekat dengan tubuh lawan dan dalam kondisi yang menguntungkan untuk melancarkan pukulan ke area perut atau kuda-kuda lawan, serta untuk melakukan teknik bantingan atau sapuan kaki (Hariono, 2006).

7.1.4    Hindaran Melompat

Hindaran melompat dilakukan dengan melompat ke atas atau ke samping atas untuk menghindari serangan yang datang ke area kaki atau badan bagian bawah, seperti sapuan kaki (leg sweep), tendangan ke kaki, atau serangan rendah lainnya. Pesilat mengangkat kedua kaki dari lantai sehingga serangan lawan melintas di bawah.

Hindaran melompat tidak hanya berfungsi defensif, tetapi juga ofensif — dengan melompat, pesilat menciptakan momentum vertikal yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan serangan tendangan saat turun (jumping kick) atau serangan siku dari atas. Eksekusi hindaran melompat memerlukan timing yang sangat presisi karena terlambat sedikit dapat berakibat kaki tersapu, sementara terlalu awal memberikan waktu bagi lawan untuk mengoreksi serangan. Teknik ini umumnya dikombinasikan dengan tendangan sabit melompat atau tendangan depan melompat yang merupakan teknik spektakuler sekaligus efektif dalam pertandingan (IPSI, 2012).

 

PENUTUP

Pemahaman mendalam terhadap setiap jenis teknik dasar pencak silat — baik dari aspek biomekanika, fungsi taktis, maupun konteks penggunaannya dalam pertarungan — merupakan fondasi yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi bela diri ini. Setiap teknik yang dijabarkan dalam materi ini bukanlah elemen yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan bagian dari sistem yang saling terhubung secara sinergis.

Kuda-kuda yang kokoh menjadi landasan bagi efektivitas pukulan dan tendangan; sikap pasang mencerminkan strategi awal dalam mengelola pertarungan; pola langkah mengatur ritme dan ruang pertempuran; sementara tangkisan, elakan, dan hindaran membentuk sistem pertahanan yang berlapis dan responsif. Pesilat yang benar-benar mahir adalah mereka yang mampu mengintegrasikan seluruh elemen ini dalam satu aliran gerak yang harmonis, adaptif, dan ekspresif — mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang terkandung dalam pencak silat sebagai warisan agung bangsa Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hariono, A. (2006). Metode melatih fisik pencak silat. Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta.

IPSI. (2012). Peraturan pertandingan pencak silat. Ikatan Pencak Silat Indonesia.

Kriswanto, E. S. (2015). Pencak silat: Sejarah dan perkembangan pencak silat, teknik-teknik dalam pencak silat, pertandingan pencak silat. Pustaka Baru Press.

Lubis, J., & Wardoyo, H. (2014). Pencak silat (Edisi ke-2). Rajawali Pers.

Maryono, O. (1998). Pencak silat merentang waktu. Galang Press.

Mulyana. (2013). Pendidikan pencak silat: Membangun jati diri dan karakter bangsa. PT Remaja Rosdakarya.

Notosoejitno. (1997). Khazanah pencak silat. Sagung Seto.

UNESCO. (2019). Pencak silat. Intangible Cultural Heritage. https://ich.unesco.org/en/RL/pencak-silat-01391

Ha


4: PERENCANAAN PEMBELAJARAN PENJAS

  Portal Regulasi Pendidikan Indonesia

Berita Negara · Desember 2018

PERUBAHAN KURIKULUM DAN PENATAAN BIROKRASI:
KAJIAN ATAS PERMENDIKBUD NOMOR 37 TAHUN 2018
DAN NOMOR 38 TAHUN 2018

📅 4 & 21 Desember 2018  Mendikbud Muhadjir Effendy  BN 2018 No. 1739 & 1889

Pengantar Akademik: Pada tanggal 14 Desember 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan dua regulasi penting yang mencerminkan respons simultan terhadap tantangan era digital dan kebutuhan reformasi tata kelola. Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 secara resmi mengintegrasikan mata pelajaran Informatika ke dalam Kurikulum 2013, sebuah langkah strategis untuk membekali peserta didik dengan kompetensi berpikir komputasional dan literasi digital. Sementara itu, Permendikbud Nomor 38 Tahun 2018 merinci secara mendalam tugas unit kerja di lingkungan Sekretariat Jenderal, menggantikan regulasi usang demi mewujudkan birokrasi yang akuntabel dan efisien. Studi ini menyajikan secara kronologis dan komprehensif kedua peraturan tersebut, dengan menampilkan pasal-pasal penting secara utuh, disertai analisis akademik yang mendalam.

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 37 TAHUN 2018 TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PELAJARAN PADA KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH

 

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

 

Menimbang  :           a.  bahwa untuk memenuhi kebutuhan dasar peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya pada era digital, perlu menambahkan dan mengintegrasikan muatan informatika pada kompetensi dasar dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum 2013 pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah;


 

1.       Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

2.      Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

3.      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5670);

4.      Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 15) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 101 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 192);

5.      Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 575)


 

MEMUTUSKAN:

Menetapkan :           PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PELAJARAN PADA KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH.

 

Pasal I

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 971) diubah sebagai berikut:

 

1.           Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 1 (satu) Pasal yaitu Pasal 2A sebagai berikut:

 

Pasal 2A

(1)         Muatan informatika pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dapat digunakan sebagai alat pembelajaran dan/atau dipelajari melalui ekstrakurikuler dan/atau muatan lokal.

(2)         Mata  Pelajaran  Informatika       pada Sekolah Menengah    Pertama/Madrasah                   Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) dimuat dalam Kompetensi Dasar yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

 

2.           Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah diubah dengan menambahkan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Informatika SMP/MTs pada nomor urut 60 dan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Informatika SMA/MA pada nomor urut 61 sehingga menjadi sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.

 

Pasal II

Peraturan      Menteri            ini        mulai   berlaku            pada     tanggal   diundangkan

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan            Peraturan         Menteri            ini        dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.


Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 14 Desember 2018

 

 

MENTERI PENDIDIKAN

DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,  

 

MUHADJIR EFFENDY

 

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal 20 Desember 2018

 

 

DIREKTUR JENDERAL

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

 

TTD.

 

WIDODO EKATJAHJANA

 

 

 



SALINAN LAMPIRAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 37 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PELAJARAN PADA KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH

 

1. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN SD/MI

 

KELAS: I

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.


KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan disekolah

4.         Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami gerak dasar lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.1       Mempraktikkan gerak dasar lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

3.2       Memahami gerak dasar non- lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.2       Mempraktikkan gerak dasar non- lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

3.3       Memahami pola gerak dasar manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.3       Mempraktikkan pola gerak dasar manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional


3.4       Memahami menjaga sikap tubuh (duduk, membaca, berdiri, jalan), dan bergerak secara lentur serta seimbang dalam rangka pembentukan tubuh melalui

permainan sederhana dan atau tradisional

4.4       Mempraktikkan sikap tubuh (duduk, membaca, berdiri, jalan), dan bergerak secara lentur serta seimbang dalam rangka pembentukan tubuh melalui

permainan sederhana dan atau tradisional

3.5       Memahami berbagai gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dalam aktivitas senam lantai

4.5       Mempraktikkan berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dalam aktivitas senam lantai

3.6       Memahami gerak dasar lokomotor dan non-lokomotor sesuai dengan irama (ketukan) tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak

berirama

4.6       Mempraktikkan gerak dasar lokomotor dan non-lokomotor sesuai dengan irama (ketukan) tanpa/dengan musik dalam

aktivitas gerak berirama

3.7       Memahami berbagai pengenalan aktivitas air dan menjaga keselamatan diri/orang lain dalam aktivitas air

4.7       Mempraktikkan berbagai pengenalan aktivitas air dan menjaga keselamatan diri/orang lain dalam aktivitas air

3.8       Memahami bagian-bagian tubuh, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, cara menjaga kebersihannya, dan kebersihan pakaian

4.8       Menceritakan bagian-bagian tubuh, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, cara menjaga kebersihannya, dan kebersihan pakaian


KELAS: II

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4.         Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami variasi gerak dasar lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan

atau tradisional

4.1       Mempraktikkan variasi gerak dasar lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan

atau tradisional

3.2       Memahami variasi gerak dasar non-lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.2       Mempraktikkan variasi gerak dasar non-lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

3.3       Memahami variasi gerak dasar manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.3       Mempraktikkan variasi gerak dasar manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.4       Memahami bergerak secara seimbang, lentur, dan kuat dalam rangka pengembangan kebugaran jasmani melalui permainan sederhana dan atau tradisional

4.4       Mempraktikkan prosedur bergerak secara seimbang, lentur, dan kuat dalam rangka pengembangan kebugaran jasmani melalui permainan sederhana dan atau

tradisional

3.5       Memahami variasi berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dalam aktivitas senam

lantai

4.5       Mempraktikkan variasi berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dalam aktivitas senam

lantai

3.6       Memahami penggunaan variasi gerak dasar lokomotor dan non- lokomotor sesuai dengan irama

(ketukan) tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

4.6       Mempraktikkan penggunaan variasi gerak dasar lokomotor dan non- lokomotor sesuai dengan irama

(ketukan) tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

3.7       Memahami prosedur penggunaan gerak dasar lokomotor, non- lokomotor,dan manipulatif dalam bentuk permainan, dan menjaga keselamatan diri/orang lain dalam

aktivitas air ***

4.7       Mempraktikkan penggunaan gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif dalam bentuk permainan, dan menjaga keselamatan diri/orang lain dalam

aktivitas air***

3.8       Memahami manfaat pemanasan dan pendinginan, serta berbagai hal yang harus dilakukan dan dihindari

sebelum, selama, dan setelah melakukan aktivitas fisik

4.8       Menceritakan manfaat pemanasan dan pendinginan, serta berbagai hal yang harus dilakukan dan dihindari

sebelum, selama, dan setelah melakukan aktivitas fisik

3.9       Memahami cara menjaga kebersihan lingkungan (tempat tidur, rumah, kelas, lingkungan

sekolah, dan lain-lain)

4.9       Menceritakan cara menjaga kebersihan lingkungan (tempat tidur, rumah, kelas, lingkungan

sekolah).


KELAS: III

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4.         Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami kombinasi gerak dasar lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan

atau tradisional

4.1       Mempraktikkan gerak kombinasi gerak dasar lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai bentuk permainan

sederhana dan atau tradisional

3.2       Memahami kombinasi gerak dasar non-lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.2       Mempraktikkan gerak kombinasi gerak dasar non-lokomotor sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam

berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

3.3       Memahami kombinasi gerak dasar manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

4.3 Mempraktikkan kombinasi gerak dasar manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai

bentuk permainan sederhana dan atau tradisional


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.4       Memahami bergerak secara seimbang, lentur, lincah, dan berdaya tahan dalam rangka pengembangan kebugaran jasmani melalui permainan sederhana dan

atau tradisional

4.4       Mempraktikkan bergerak secara seimbang, lentur, lincah, dan berdaya tahan dalam rangka pengembangan kebugaran jasmani melalui permainan sederhana dan

atau tradisional

3.5       Memahami kombinasi berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan, dan mendarat) dalam aktivitas

senam lantai

4.5       Mempraktikkan kombinasi berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dalam aktivitas senam

lantai

3.6       Memahami penggunaan kombinasi gerak dasar lokomotor, non- lokomotor dan manipulatif sesuai dengan irama (ketukan) tanpa/dengan musik dalam

aktivitas gerak berirama

4.6       Mempraktikkan penggunaan kombinasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif sesuai dengan irama (ketukan) tanpa/dengan musik dalam

aktivitas gerak berirama

3.7       Memahami prosedur gerak dasar mengambang (water trappen) dan meluncur di air serta menjaga keselamatan diri/orang lain dalam aktivitas air

4.7       Mempraktikkan gerak dasar mengambang (water trappen) dan meluncur di air serta menjaga keselamatan diri/orang lain dalam aktivitas air

3.8       Memahami bentuk dan manfaat

istirahat dan pengisian waktu luang untuk menjaga kesehatan

4.8       Menceritakan bentuk dan manfaat

istirahat dan pengisian waktu luang untuk menjaga kesehatan

3.9       Memahami perlunya memilih

makanan bergizi dan jajanan sehat untuk menjaga kesehatan tubuh

4.9       Menceritakan perlunya memilih

makanan bergizi dan jajanan sehat untuk menjaga kesehatan tubuh


KELAS: IV

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain

4.         Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami variasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam permainan bola besar sederhana dan atau tradisional*

4.1       Mempraktikkan variasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam permainan bola besar sederhana dan atau tradisional*

3.2       Memahami variasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam permainan bola kecil sederhana dan atau tradisional*

4.2       Mempraktikkan variasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam permainan bola kecil sederhana dan atau tradisional*

3.3       Memahami variasi gerak dasar jalan, lari, lompat, dan lempar melalui permainan/olahraga yang dimodifikasi dan atau olahraga tradisional

4.3       Mempraktikkan variasi pola dasar jalan, lari, lompat, dan lempar melalui permainan/olahraga yang dimodifikasi dan atau olahraga tradisional


3.4       Menerapkan gerak dasar lokomotor dan non-lokomotor untuk membentuk gerak dasar

seni beladiri**

4.4       Mempraktikkan gerak dasar lokomotor dan non lokomotor untuk membentuk gerak dasar seni

beladiri**

3.5       Memahami berbagai bentuk aktivitas kebugaran jasmani melalui berbagai latihan; daya tahan, kekuatan, kecepatan, dan kelincahan untuk mencapai berat badan ideal

4.5       Mempraktikkan berbagai aktivitas kebugaran jasmani melalui berbagai bentuk latihan; daya tahan, kekuatan, kecepatan, dan kelincahan untuk mencapai berat badan ideal

3.6       Menerapkan variasi dan kombinasi berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan

mendarat) dalam aktivitas senam lantai

4.6       Mempraktikkan variasi dan kombinasi berbagai pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan

mendarat) dalam aktivitas senam lantai

3.7       Menerapkan variasi gerak dasar langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan)

tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

4.7       Mempraktikkan variasi gerak dasar langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan)

tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

3.8       Memahami gerak dasar satu gaya

renang***

4.8       Mempraktikkan gerak dasar satu

gaya renang ***

3.9       Memahami jenis cidera dan cara penanggulangannya secara sederhana saat melakukan aktivitas fisik dan dalam kehidupan sehari-hari

4.9       Mendemonstrasikan cara penanggulangan jenis cidera secara sederhana saat melakukan aktivitas fisik dan dalam kehidupan sehari- hari.

3.10     Menganalisis perilaku terpuji dalam pergaulan sehari-hari (antar

teman sebaya, orang yang lebih tua, dan orang yang lebih muda)

4.10     Mendemonstrasikan perilaku terpuji dalam pergaulan sehari-hari (antar

teman sebaya, orang yang lebih tua, dan orang yang lebih muda)


KELAS: V

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain

4.         Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami kombinasi gerak lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai permainan bola besar sederhana

dan atau tradisional*

4.1       Mempraktikkan kombinasi gerak lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai permainan bola besar sederhana

dan atau tradisional*

3.2       Memahami kombinasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai permainan bola kecil sederhana dan

atau tradisional*

4.2       Mempraktikkan kombinasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam berbagai permainan bola kecil sederhana

dan atau tradisional*

3.3       Memahami kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat, dan lempar melalui permainan/olahraga yang dimodifikasi dan atau olahraga tradisional

4.3       Mempraktikkan kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat, dan lempar melalui permainan/olahraga yang

dimodifikasi dan atau olahraga tradisional

3.4       Menerapkan variasi gerak dasar lokomotor dan non lokomotor untuk membentuk gerak dasar seni

beladiri**

4.4       Mempraktikkan variasi gerak dasar lokomotor dan non lokomotor untuk membentuk

gerak dasar seni beladiri**


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.5 Memahami aktivitas latihan daya tahan jantung (cardio respiratory) untuk pengembangan kebugaran

jasmani

4.5       Mempraktikkan aktivitas latihan daya tahan jantung (cardio respiratory) untuk pengembangan

kebugaran jasmani

3.6       Memahami kombinasi pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) untuk membentuk keterampilan dasar senam

menggunakan alat

4.6       Mempraktikkan kombinasi pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) untuk membentuk keterampilan dasar senam

menggunakan alat

3.7       Memahami penggunaan kombinasi gerak dasar langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

4.7       Mempraktikkan pengunaan kombinasi gerak dasar langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan

musik dalam aktivitas gerak berirama

3.8       Memahami salah satu gaya renang

dengan koordinasi yang baik pada jarak tertentu***

4.8       Mempraktikkan salah satu gaya

renang dengan koordinasi yang baik pada jarak tertentu ***

3.9       Memahami konsep pemeliharaan

diri dan orang lain dari penyakit menular dan tidak menular

4.9       Menerapkan konsep pemeliharaan

diri dan orang lain dari penyakit menular dan tidak menular

3.10     Memahami bahaya merokok, minuman keras, dan narkotika, zat-zat aditif (NAPZA) dan obat berbahaya lainnya terhadap

kesehatan tubuh

4.10     Memaparkan bahaya merokok, meminum minuman keras, dan mengonsumsi narkotika, zat-zat aditif (NAPZA) dan obat berbahaya

lainnya terhadap kesehatan tubuh


KELAS: VI

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga serta cinta tanah air”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan di tempat bermain

4.         Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami variasi dan kombinasi gerak dasar lokomotor, non- lokomotor, dan manipulatif dengan kontrol yang baik dalam permainan bola besar sederhana dan atau

tradisional*

4.1       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif dengan kontrol yang baik dalam permainan bola besar sederhana

dan atau tradisional*

3.2       Memahami variasi dan kombinasi gerak dasar lokomotor, non- lokomotor, dan manipulatif dengan kontrol yang baik dalam permainan bola kecil sederhana dan atau

tradisional*

4.2       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak dasar lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif dengan kontrol yang baik dalam permainan bola kecil sederhana dan

atau tradisional*

3.3       Memahami variasi dan kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat, dan lempar dengan kontrol yang baik melalui permainan dan atau

olahraga tradisional

4.3       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak dasar jalan, lari, lompat, dan lempar dengan kontrol yang baik melalui permainan dan

atau olahraga tradisional

3.4       Memahami variasi dan kombinasi gerak dasar lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif untuk membentuk gerak dasar seni

beladiri**

4.4       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak dasar lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif untuk membentuk gerak dasar seni

beladiri**


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.5       Memahami latihan kebugaran jasmani dan pengukuran tingkat kebugaran jasmani pribadi secara sederhana (contoh: menghitung denyut nadi, menghitung kemampuan melakukan push up,

menghitung kelenturan tungkai)

4.5       Mempratikkan latihan kebugaran jasmani dan pengukuran tingkat kebugaran jasmani pribadi secara sederhana (contoh: menghitung denyut nadi, menghitung kemampuan melakukan push up,

menghitung kelenturan tungkai)

3.6       Memahami rangkaian tiga pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dengan konsisten, tepat

dan terkontrol dalam aktivitas senam

4.6       Mempraktikkan rangkaian tiga pola gerak dominan (bertumpu, bergantung, keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dengan konsisten, tepat

dan terkontrol dalam aktivitas senam

3.7       Memahami penggunaan variasi dan kombinasi gerak dasar rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan)

tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

4.7       Mempraktikkan penggunaan variasi dan kombinasi gerak dasar rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan)

tanpa/dengan musik dalam aktivitas gerak berirama

3.8       Memahami keterampilan salah satu

gaya renang dan dasar-dasar penyelamatan diri***

4.8       Mempraktikkan keterampilan salah

satu gaya renang dan dasar-dasar penyelamatan diri***

3.9       Memahami perlunya

pemeliharaan kebersihan alat reproduksi

4.9       Memaparkan perlunya

pemeliharaan kebersihan alat reproduksi

 

Keterangan:

*)  Untuk kompetensi dasar permainan bola besar dan permainan bola kecil dapat dipilih sesuai dengan sarana prasarana yang tersedia. (Dan dipastikan Guru tidak mengajarkan pada salah satu pembelajaran yang diminati oleh gurunya melainkan diminati oleh siswanya agar siswa tidak terpaksa dan PJOK menjadi momok bagi siswanya)

**) Pembelajaran aktifitas beladiri selain pencaksilat dapat juga aktifitas beladiri lainnya (karate, yudo, taekondo, dll) disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Olahraga beladiri pencaksilat mulai diajarkan pada kelas IV dikarenakan karakterisrtik psikis anak kelas I. II dan III belum cukup untuk menerima aktifitas pembelajaran beladiri.

***) Pembelajaran aktifitas air boleh dilaksanakan sesuai dengan kondisi, jikalau tidak bisa dilaksanakan digantikan dengan aktifitas fisik lainnya yang terdapat di lingkup materi.


2. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN SMP/MTs

 

KELAS: VII

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

4.         Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di

sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami gerak spesifik dalam berbagai permainan bola besar

sederhana dan atau tradisional*)

4.1       Mempraktikkan gerak spesifik dalam berbagai permainan bola besar

sederhana dan atau tradisional

3.2       Memahami gerak spesifik dalam berbagai permainan bola kecil

sederhana dan atau tradisional. *)

4.2       Mempraktikkan gerak spesifik dalam berbagai permainan bola kecil

sederhana dan atau tradisional. *)

3.3       Memahami gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar dalam berbagai

permainan sederhana dan atau tradisional. *)

4.3       Mempraktikkan gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar dalam

berbagai permainan sederhana dan atau tradisional. *)

3.4       Memahami gerak spesifik seni beladiri. **)

4.4       Mempraktikkan gerak spesifik seni beladiri. **)


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.5       Memahami konsep latihan peningkatan derajat kebugaran jasmani yang terkait dengan kesehatan (daya tahan, kekuatan, komposisi tubuh, dan kelenturan)

dan pengukuran hasilnya

4.5       Mempraktikkan latihan peningkatan derajat kebugaran jasmani yang terkait dengan kesehatan (daya tahan, kekuatan, komposisi tubuh, dan kelenturan) dan pengukuran

hasilnya

3.6       Memahami berbagai keterampilan dasar spesifik senam lantai

4.6       Mempraktikkan berbagai keterampilan dasar spesifik senam

lantai

3.7       Memahami variasi dan kombinasi gerak berbentuk rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik sebagai pembentuk gerak pemanasan dalam aktivitas gerak

berirama

4.7       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak berbentuk rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik sebagai pembentuk gerak pemanasan dalam

aktivitas gerak berirama

3.8       Memahami gerak spesifik salah satu

gaya renang dengan koordinasi yang baik. ***)

4.8       Mempraktikkan konsep gerak

spesifik salah satu gaya renang dengan koordinasi yang baik. ***)

3.9       Memahami perkembangan tubuh

remaja yang meliputi perubahan fisik sekunder dan mental.

4.9       Memaparkan perkembangan tubuh

remaja yang meliputi perubahan fisik sekunder dan mental.

3.10 Memahami pola makan sehat, bergizi dan seimbang serta

pengaruhnya terhadap kesehatan.

4.10 Memaparkan pola makan sehat, bergizi dan seimbang serta

pengaruhnya terhadap kesehatan.


KELAS: VIII

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

4.         Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama

dalam sudut pandang/teori

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami variasi gerak spesifik dalam berbagai permainan bola besar sederhana dan atau

tradisional

4.1       Mempraktikkan variasi gerak spesifik dalam berbagai permainan bola besar sederhana dan atau

tradisional

3.2       Memahami variasi gerak spesifik dalam berbagai permainan bola kecil sederhana dan atau tradisional

4.2       Mempraktikkan variasi gerak spesifik dalam berbagai permainan bola kecil sederhana dan atau

tradisional

3.3       Memahami variasi gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar dalam berbagai permainan sederhana dan atau tradisional

4.3       Mempraktikkan variasi gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar dalam berbagai permainan sederhana dan atau tradisional

3.4       Memahami variasi gerak spesifik seni beladiri

4.4       Mempraktikkan variasi gerak spesifik seni beladiri


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.5       Memahami konsep latihan peningkatan derajat kebugaran jasmani yang terkait dengan keterampilan (kecepatan, kelincahan, keseimbanga, dan koordinasi) serta pengukuran

hasilnya

4.5       Mempraktikkan latihan peningkatan derajat kebugaran jasmani yang terkait dengan keterampilan (kecepatan, kelincahan, keseimbanga, dan koordinasi) serta pengukuran

hasilnya

3.6       Memahami kombinasi keterampilan berbentuk rangkaian gerak sederhana dalam aktivitas spesifik

senam lantai

4.6       Mempraktikkan kombinasi keterampilan berbentuk rangkaian gerak sederhana dalam aktivitas

spesifik senam lantai

3.7       Memahami variasi dan kombinasi gerak berbentuk rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik sebagai pembentuk gerak pemanasan dan inti latihan dalam aktivitas gerak berirama

4.7       Mempraktikkan prosedur variasi dan kombinasi gerak berbentuk rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik sebagai pembentuk gerak pemanasan dan inti latihan dalam aktivitas gerak

berirama

3.8       Memahami gerak spesifik salah satu gaya renang dalam permainan air dengan atau tanpa alat ***)

4.8       Mempraktikkan gerak spesifik salah satu gaya renang dalam permainan air dengan atau tanpa alat ***)

3.9       Memahami perlunya pencegahan terhadap “bahaya pergaulan bebas”

4.9       Memaparkan perlunya pencegahan terhadap “bahaya pergaulan bebas”

3.10 Memahami cara menjaga keselamatan diri dan orang lain di jalan raya

4.10 Memaparkan cara menjaga keselamatan diri dan orang lain di jalan raya


KELAS: IX

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu, “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

4.         Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang

sama dalam sudut pandang/teori

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Memahami variasi dan kombinasi gerak spesifik dalam berbagai

permainan bola besar sederhana dan atau tradisional

4.1       Mempraktikkan variasi dan kombinasigerak spesifik dalam

berbagai permainan bola besar sederhana dan atau tradisional

3.2       Memahami kombinasi gerak spesifik dalam berbagai permainan bola kecil sederhana dan atau

tradisional. *)

4.2       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak spesifik dalam berbagai permainan bola kecil

sederhana dan atau tradisional. *)

3.3       Memahami kombinasi gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar dalam berbagai permainan sederhana dan atau tradisional. *)

4.3       Mempraktikkan kombinasi gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar dalam berbagai permainan sederhana dan atau tradisional. *)

3.4       Memahami variasi dan kombinasi gerak spesifik seni beladiri. **)

4.4       Mempraktikkan variasidan kombinasi gerak spesifik seni beladiri. **)


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.5       Memahami penyusunan program pengembangan komponen kebugaran jasmani terkait dengan kesehatan dan keterampilan secara

sederhana

4.5       Mempraktikkan penyusunan program pengembangan komponen kebugaran jasmani terkait dengan kesehatan dan keterampilan secara

sederhana.

3.6       Memahami kombinasi keterampilan berbentuk rangkaian gerak sederhana secara konsisten, tepat,

dan terkontrol dalam aktivitas spesifik senam lantai

4.6       Mempraktikkan kombinasi keterampilan berbentuk rangkaian gerak sederhana secara konsisten,

tepat, dan terkontrol dalam aktivitas spesifik senam lantai

3.7       Memahami variasi dan kombinasi gerak berbentuk rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik sebagai pembentuk gerak pemanasan, inti latihan, dan

pendinginan dalam aktivitas gerak berirama

4.7       Mempraktikkan variasi dan kombinasi gerak berbentuk rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) tanpa/dengan musik sebagai pembentuk gerak pemanasan, inti

latihan, dan pendinginan dalam aktivitas gerak berirama

3.8       Memahami gerak spesifik salah satu gaya renang dalam bentuk perlombaan ***)

4.8       Mempraktikkan gerak spesifik salah satu gaya renang dalam bentuk perlombaan ***)

3.9       Memahami tindakan P3K pada kejadian darurat, baik pada diri sendiri maupun orang lain

4.9       Memaparkan tindakan P3K pada kejadian darurat, baik pada diri sendiri maupun orang lain

3.10 Memahami peran aktivitas fisik terhadap pencegahan penyakit

4.10 Memaparkan peran aktivitas fisik terhadap pencegahan penyakit

 

Keterangan:

*)                     Untuk kompetensi dasar permainan bola besar dan permainan bola kecil dapat dipilih sesuai dengan sarana prasarana yang tersedia.          (Dan dipastikan Guru tidak mengajarkan pada salah satu pembelajaran yang diminati oleh gurunya melainkan diminati oleh siswanya agar siswa tidak terpaksa dan PJOK menjadi momok bagi siswanya)

**) Pembelajaran aktifitas beladiri selain pencaksilat dapat juga aktifitas beladiri lainnya (karate, yudo, taekondo, dll) disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Olahraga beladiri pencaksilat mulai diajarkan pada kelas IV dikarenakan karakterisrtik psikis anak kelas I. II dan III belum cukup untuk menerima aktifitas pembelajaran beladiri.

***) Pembelajaran aktifitas air boleh dilaksanakan sesuai dengan kondisi, jikalau tidak bisa dilaksanakan digantikan dengan aktifitas fisik lainnya yang terdapat di lingkup materi.


3. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN SMA/MA/SMK/MAK

 

KELAS: X

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.


KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

4.         Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Menganalisis keterampilan gerak salah satu permainan bola besar untuk menghasilkan koordinasi gerak yang baik*

4.1       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan gerak salah satu permainan bola besar untuk menghasilkan koordinasi gerak yang

baik*

3.2       Menganalisis keterampilan gerak salah satu permainan bola kecil untuk menghasilkan koordinasi gerak yang baik*

4.2       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan gerak salah satu permainan bola kecil untuk menghasilkan koordinasi gerak yang baik*


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.3       Menganalisis keterampilan jalan cepat, lari, lompat dan lempar

untuk menghasilkan gerak yang efektif*

4.3       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan jalan cepat, lari,

lompat dan lempar untuk menghasilkan gerak yang efektif*

3.4       Menganalisis keterampilan gerak seni dan olahraga beladiri untuk menghasilkan gerak yang efektif**

4.4       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan gerak seni dan olahraga beladiri untuk

menghasilkan gerak yang efektif **

3.5       Menganalisis konsep latihan dan pengukuran komponen kebugaran jasmani terkait kesehatan (daya tahan, kekuatan, komposisi tubuh, dan kelenturan) menggunakan instrumen terstandar

4.5       Mempraktikkan hasil analisis konsep latihan dan pengukuran komponen kebugaran jasmani terkait kesehatan (daya tahan, kekuatan, komposisi tubuh, dan kelenturan) menggunakan

instrumen terstandar

3.6       Menganalisis keterampilan rangkaian gerak sederhana dalam aktivitas spesifik senam lantai

4.6       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan rangkaian gerak sederhana dalam aktivitas spesifik

senam lantai

3.7       Menganalisis gerak rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan) dalam

aktivitas gerak berirama

4.7       Mempratikkan hasil analisis gerak rangkaian langkah dan ayunan lengan mengikuti irama (ketukan)

dalam aktivitas gerak berirama

3.8       Menganalisis keterampilan satu

gaya renang***

4.8       Mempraktikkan hasil analisis

keterampilan satu gaya renang ***

3.9       Memahami konsep dan prinsip pergaulan yang sehat antar remaja dan menjaga diri dari kehamilan

pada usia sekolah

4.9       Mempresentasikan konsep dan prinsip pergaulan yang sehat antar remaja dan menjaga diri dari

kehamilan pada usia sekolah

3.10     Menganalisis berbagai peraturan perundangan serta konsekuensi hukum bagi para pengguna dan pengedar narkotika, psikotropika, zat-zat aditif (NAPZA) dan obat

berbahaya lainnya

4.10     Mempresentasikan berbagai peraturan perundangan serta konsekuensi hukum bagi para pengguna dan pengedar narkotika,

psikotropika, zat-zat aditif (NAPZA) dan obat berbahaya lainnya


KELAS: XI

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

4.         Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Menganalisis keterampilan gerak salah satu permainan bola besar serta menyusun rencana perbaikan*

4.1       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan gerak salah satu

permainan bola besar serta menyusun rencana perbaikan*

3.2       Menganalisis keterampilan gerak salah satu permainan bola kecil serta menyusun rencana perbaikan*

4.2 Mempraktikkan hasil analisis keterampilan gerak salah satu permainan bola kecil serta

menyusun rencana perbaikan*

3.3       Menganalisis keterampilan jalan, lari, lompat, dan lempar untuk menghasilkan gerak yang efektif serta menyusun rencana perbaikan*

4.3       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan jalan, lari, lompat, dan lempar untuk menghasilkan gerak yang efektif serta menyusun rencana perbaikan *


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.4       Menganalisis strategi dalam pertarungan bayangan (shadow fighting) olahraga beladiri untuk menghasilkan gerak yang efektif**

4.4       Mempraktikkan hasil analisis strategi dalam pertarungan bayangan (shadow fighting) olahraga beladiri untuk

menghasilkan gerak yang efektif **

3.5       Menganalisis konsep latihan dan pengukuran komponen kebugaran jasmani terkait keterampilan (kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi) menggunakan instrumen terstandar

4.5       Mempraktikkan hasil analisis konsep latihan dan pengukuran komponen kebugaran jasmani terkait keterampilan (kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi) menggunakan

instrumen terstandar

3.6       Menganalisis berbagai keterampilan rangkaian gerak yang lebih

kompleks dalam aktivitas spesifik senam lantai

4.6       Mempraktikkan hasil analisis berbagai keterampilan rangkaian

gerak yang lebih kompleks dalam aktivitas spesifik senam lantai

3.7       Menganalisis sistematika latihan (gerak pemanasan, inti latihan, dan pendinginan) dalam aktivitas gerak

berirama

4.7       Mempraktikkan hasil sistematika latihan (gerak pemanasan, inti latihan, dan pendinginan) dalam

aktivitas gerak berirama

3.8       Menganalisis keterampilan dua gaya renang ***

4.8       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan dua gaya renang***

3.9       Menganalisis manfaat jangka panjang dari partisipasi dalam

aktivitas fisik secara teratur

4.9       Mempresentasikan manfaat jangka panjang dari partisipasi dalam

aktivitas fisik secara teratur

3.10     Menganalisis bahaya, cara

penularan, dan cara mencegah HIV/AIDS

4.10     Mempresentasikan hasil analisis bahaya, cara penularan, dan cara

mencegah HIV/AIDS


KELAS: XII

 

Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler.

 

Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu, “Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaitu, “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

 

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

 

Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut ini.

 

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

3.         Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

4.         Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.1       Merancang pola penyerangan dan pertahanan salah satu permainan

bola besar*

4.1       Mempraktikkan hasil rancangan pola penyerangan dan pertahanan

salah satu permainan bola besar*

3.2       Merancang pola penyerangan dan pertahanan salah satu permainan

bola kecil *

4.2       Mempraktikkan hasil rancangan pola penyerangan dan pertahanan

salah satu permainan bola kecil*

3.3       Merancang simulasi perlombaan jalan cepat, lari, lompat dan lempar yang disusun sesuai peraturan*

4.3       Mempraktikkan hasil rancangan simulasi perlombaan jalan cepat, lari, lompat dan lempar yang disusun sesuai peraturan*


KOMPETENSI DASAR

KOMPETENSI DASAR

3.4       Merancang pola penyerangan dan pertahanan dalam olahraga beladiri yang disusun sesuai peraturan permainan**

4.4       Mempraktikkan hasil rancangan pola penyerangan dan pertahanan dalam olahraga beladiri yang disusun sesuai peraturan

permainan**

3.5       Merancang program latihan untuk meningkatkan derajat kebugaran jasmani terkait kesehatan dan keterampilan secara pribadi

4.5       Mempraktikkan hasil rancangan program latihan untuk meningkatkan derajat kebugaran jasmani terkait kesehatan dan

keterampilan secara pribadi

3.6       Merancang beberapa pola

rangkaian keterampilan senam lantai

4.6       Mempraktikkan hasil rancang

beberapa pola rangkaian keterampilan senam lantai

3.7       Merancang sistematika latihan (gerak pemanasan, inti latihan, dan pendinginan) dalam aktivitas gerak

berirama

4.7       Merancang sistematika latihan (gerak pemanasan, inti latihan, dan pendinginan) dalam aktivitas gerak

berirama

3.8       Menganalisis keterampilan dua gaya renang untuk keterampilan penyelamatan diri, dan tindakan pertolongan kegawatdaruratan di air dengan menggunakan alat bantu

4.8       Mempraktikkan hasil analisis keterampilan dua gaya renang untuk keterampilan penyelamatan diri, dan tindakan pertolongan kegawatdaruratan di air dengan menggunakan alat bantu

3.9       Menganalisis langkah-langkah melindungi diri dan orang lain dari Penyakit Menular Seksual (PMS)

4.9       Mempresentasikan hasil analisis langkah-langkah melindungi diri

dan orang lain dari Penyakit Menular Seksual (PMS)

 

Keterangan:

*)  Untuk kompetensi dasar permainan bola besar dan permainan bola kecil dapat dipilih sesuai dengan sarana prasarana yang tersedia. (Dan dipastikan Guru tidak mengajarkan pada salah satu pembelajaran yang diminati oleh gurunya melainkan diminati oleh siswanya agar siswa tidak terpaksa dan PJOK menjadi momok bagi siswanya)

**) Pembelajaran aktifitas beladiri selain pencaksilat dapat juga aktifitas beladiri lainnya (karate, yudo, taekondo, dll) disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Olahraga beladiri pencaksilat mulai diajarkan pada kelas IV dikarenakan karakterisrtik psikis anak kelas I. II dan III belum cukup untuk menerima aktifitas pembelajaran beladiri.

***) Pembelajaran aktifitas air boleh dilaksanakan sesuai dengan kondisi, jikalau tidak bisa dilaksanakan digantikan dengan aktifitas fisik lainnya yang terdapat di lingkup mater


 


H A L A M A N

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2018

TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT JENDERAL


1 2