Kehidupan Aril

Cerita

Monday, June 8, 2026

15: QUIZ DAN SIMULASI UAS

QUIZ DAN SIMULASI UAS DENGAN BAPAK DR. MUHAMMAD IQBAL

Hari itu, suasana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan terasa sedikit berbeda. Matahari siang yang terik mulai bergeser ke arah barat ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani yang biasanya terlihat santai setelah waktu istirahat siang kini tampak lebih serius. Mereka satu per satu memasuki ruang kuliah sambil membawa laptop, buku catatan, serta berbagai materi yang telah dipelajari selama satu semester.

Hari itu merupakan jadwal perkuliahan bersama Pak Dr. Muhammad Iqbal, dosen yang dikenal tegas, kritis, namun sangat peduli terhadap perkembangan mahasiswanya. Sejak beberapa hari sebelumnya, beliau telah menginformasikan bahwa pertemuan kali ini akan diisi dengan quiz sekaligus simulasi Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi-materi penting yang telah dipelajari.

Ketika seluruh mahasiswa telah berada di dalam kelas, Pak Iqbal memasuki ruangan tepat pukul 14.00 WIB. Beliau mengenakan kemeja biru muda yang rapi dan membawa beberapa lembar berkas serta laptop. Suasana kelas yang sebelumnya masih dipenuhi obrolan perlahan menjadi hening.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh mahasiswa serempak.

Pak Iqbal kemudian meletakkan berkas di atas meja dan menyalakan proyektor. Setelah memastikan semua mahasiswa siap mengikuti perkuliahan, beliau membuka kegiatan dengan memberikan motivasi.

"Hari ini kita akan melaksanakan simulasi UAS. Jangan anggap ini sebagai sesuatu yang menakutkan. Anggaplah ini sebagai kesempatan untuk melihat sejauh mana pemahaman kalian terhadap materi yang telah dipelajari selama satu semester. Saya ingin melihat cara berpikir kalian, bukan hanya kemampuan menghafal."

Kalimat tersebut membuat sebagian mahasiswa yang awalnya tegang mulai merasa lebih tenang. Namun demikian, mereka tetap mempersiapkan diri karena mengetahui bahwa pertanyaan dari Pak Iqbal sering kali menuntut analisis yang mendalam.

 

Materi 1: Modifikasi Sarana dan Prasarana dalam Pembelajaran PJOK

Quiz pertama dimulai dengan materi mengenai modifikasi sarana dan prasarana dalam pembelajaran PJOK.

Pak Iqbal menampilkan sebuah foto sekolah yang memiliki lapangan sempit dan fasilitas olahraga yang terbatas. Beliau kemudian memberikan pertanyaan kepada seluruh mahasiswa.

"Jika kalian menjadi guru PJOK di sekolah tersebut, bagaimana cara kalian tetap melaksanakan pembelajaran yang efektif?"

Suasana kelas mulai hidup. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk menjawab.

Salah seorang mahasiswa menjelaskan bahwa guru dapat melakukan modifikasi alat dan fasilitas agar pembelajaran tetap berjalan. Misalnya, menggunakan kardus sebagai bet tenis meja, membuat bola kasti dari kertas bekas yang dibungkus lakban, atau menggunakan tali tambang kecil sebagai alat skipping.

Pak Iqbal mengangguk sambil menuliskan poin-poin penting di papan tulis.

"Bagus. Seorang guru PJOK harus kreatif. Keterbatasan sarana bukan alasan untuk tidak mengajar. Justru di situlah kemampuan inovasi seorang guru diuji."

Beliau kemudian memberikan contoh pengalaman beberapa sekolah di daerah terpencil yang mampu melaksanakan pembelajaran PJOK dengan baik meskipun memiliki fasilitas yang sangat sederhana.

Diskusi berlangsung cukup lama. Mahasiswa tidak hanya membahas contoh alat yang dimodifikasi, tetapi juga alasan pedagogis di balik modifikasi tersebut, seperti faktor keamanan, kesesuaian usia peserta didik, efektivitas pembelajaran, dan efisiensi biaya.

Pada sesi ini, mahasiswa mulai menyadari bahwa modifikasi sarana dan prasarana bukan hanya tentang mengganti alat yang mahal dengan alat sederhana, tetapi juga merupakan strategi pembelajaran untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

 

Materi 2: Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dan Tujuan Pembelajaran (TP)

Setelah quiz pertama selesai, Pak Iqbal melanjutkan simulasi dengan materi yang dianggap cukup menantang oleh sebagian mahasiswa, yaitu CP, ATP, dan TP.

Beliau menampilkan sebuah dokumen Kurikulum Merdeka di layar proyektor.

"Siapa yang bisa menjelaskan hubungan antara CP, ATP, dan TP?"

Beberapa mahasiswa saling berpandangan. Meskipun mereka pernah mempelajari materi tersebut, menjelaskannya secara runtut ternyata tidak mudah.

Pak Iqbal kemudian menunjuk salah seorang mahasiswa untuk menjawab.

Mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada akhir fase pembelajaran. Dari CP tersebut kemudian disusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sebagai urutan logis pembelajaran yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, ATP diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih spesifik untuk setiap pertemuan.

"Jawaban yang bagus," ujar Pak Iqbal.

Beliau kemudian memberikan studi kasus mengenai pembelajaran senam irama di SMA. Mahasiswa diminta menyusun CP menjadi ATP dan mengembangkannya menjadi beberapa TP yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

Kegiatan ini membuat mahasiswa berpikir secara sistematis. Mereka harus mampu menghubungkan capaian yang bersifat umum dengan tujuan pembelajaran yang lebih konkret dan terukur.

Diskusi berlangsung hingga hampir satu jam. Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya dan mendapatkan masukan langsung dari Pak Iqbal.

 

Materi 3: Perbandingan Standar Penilaian Kurikulum Merdeka dengan Negara Lain

Menjelang pukul 15.30 WIB, simulasi memasuki materi ketiga, yaitu perbandingan standar penilaian Kurikulum Merdeka dengan negara lain.

Materi ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik karena melibatkan perspektif internasional.

Pak Iqbal membuka pembahasan dengan pertanyaan sederhana.

"Mengapa Indonesia perlu mempelajari sistem penilaian negara lain?"

Mahasiswa mulai mengemukakan berbagai pendapat. Ada yang menjawab untuk mencari inspirasi, ada yang mengatakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Pak Iqbal kemudian menjelaskan berbagai sistem penilaian yang digunakan di beberapa negara seperti Finlandia, Jepang, Singapura, dan Australia.

Beliau menjelaskan bahwa Finlandia lebih menekankan perkembangan peserta didik secara holistik dan tidak terlalu bergantung pada ujian standar. Jepang lebih menonjolkan pembentukan karakter dan kedisiplinan, sedangkan Singapura dikenal dengan sistem asesmen yang sangat terstruktur.

Mahasiswa kemudian diminta membandingkan sistem tersebut dengan Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di Indonesia.

Diskusi menjadi semakin menarik ketika beberapa mahasiswa menyampaikan kritik dan saran terhadap sistem penilaian yang ada. Pak Iqbal memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan menyampaikan argumen berdasarkan referensi ilmiah.

Dari sesi ini, mahasiswa memahami bahwa penilaian bukan sekadar memberikan angka, tetapi merupakan alat untuk membantu perkembangan peserta didik secara berkelanjutan.

 

Materi 4: Modul Ajar

Memasuki pukul 16.00 WIB, pembahasan berlanjut pada materi Modul Ajar.

Pak Iqbal membagikan contoh modul ajar PJOK yang telah disusun sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Setiap mahasiswa diminta menganalisis struktur dan isi modul tersebut.

Mahasiswa mempelajari berbagai komponen yang terdapat di dalamnya, mulai dari identitas modul, kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, sarana dan prasarana, model pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, hingga asesmen.

Pak Iqbal menjelaskan bahwa modul ajar merupakan panduan yang sangat penting bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.

"Guru yang baik bukan hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu merancang pembelajaran dengan baik melalui modul ajar yang sistematis dan terarah."

Beliau kemudian memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan modul yang sedang mereka analisis.

Mahasiswa terlihat sangat aktif dalam berdiskusi. Beberapa memberikan saran mengenai variasi aktivitas pembelajaran, sementara yang lain mengusulkan pengembangan instrumen asesmen yang lebih komprehensif.

 

Materi 5: Asesmen PJOK

Menjelang akhir perkuliahan, Pak Iqbal memasuki materi terakhir, yaitu Asesmen PJOK.

Beliau menjelaskan bahwa asesmen dalam PJOK memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan mata pelajaran lainnya karena harus mencakup tiga ranah utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Mahasiswa kemudian diberikan sebuah skenario pembelajaran senam lantai. Mereka diminta menyusun instrumen asesmen yang sesuai untuk mengukur kemampuan peserta didik.

Beberapa kelompok membuat rubrik penilaian keterampilan gerak. Kelompok lainnya menyusun lembar observasi sikap dan kerja sama. Ada juga yang merancang asesmen formatif berbasis refleksi diri peserta didik.

Pak Iqbal mengamati setiap kelompok dengan seksama. Sesekali beliau memberikan pertanyaan lanjutan untuk menguji kedalaman pemahaman mahasiswa.

Dari sesi tersebut, mahasiswa belajar bahwa asesmen bukan hanya dilakukan di akhir pembelajaran, tetapi juga selama proses pembelajaran berlangsung.

 

Penutup Simulasi UAS

Waktu menunjukkan pukul 15.45 WIB ketika seluruh rangkaian quiz dan simulasi UAS selesai dilaksanakan. Meskipun lelah, mahasiswa merasa mendapatkan banyak pengalaman dan pemahaman baru.

Sebelum mengakhiri perkuliahan, Pak Iqbal memberikan pesan kepada seluruh mahasiswa.

"Sebagai calon guru PJOK, kalian harus memahami konsep, mampu menerapkannya, dan mampu menyesuaikannya dengan kondisi nyata di sekolah. Dunia pendidikan selalu berkembang, sehingga kalian juga harus terus belajar dan beradaptasi."

Seluruh mahasiswa menyimak dengan penuh perhatian.

Setelah doa penutup dibacakan, perkuliahan pun berakhir. Mahasiswa keluar dari kelas dengan membawa banyak catatan dan pengalaman berharga. Simulasi UAS yang dimulai pukul 14.00 WIB itu bukan hanya menjadi latihan menghadapi ujian akhir semester, tetapi juga menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman mengenai modifikasi sarana dan prasarana PJOK, CP-ATP-TP, perbandingan standar penilaian Kurikulum Merdeka dengan negara lain, modul ajar, serta asesmen PJOK, yang kelak akan menjadi bekal penting ketika mereka terjun sebagai pendidik profesional di dunia pendidikan

 

0 comments:

Post a Comment