QUIZ DAN SIMULASI UAS DENGAN BAPAK DR. MUHAMMAD IQBAL
Hari itu, suasana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan terasa
sedikit berbeda. Matahari siang yang terik mulai bergeser ke arah barat ketika
jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Jasmani yang biasanya terlihat santai setelah waktu istirahat siang
kini tampak lebih serius. Mereka satu per satu memasuki ruang kuliah sambil
membawa laptop, buku catatan, serta berbagai materi yang telah dipelajari
selama satu semester.
Hari itu merupakan jadwal perkuliahan bersama Pak Dr. Muhammad
Iqbal, dosen yang dikenal tegas, kritis, namun sangat peduli terhadap
perkembangan mahasiswanya. Sejak beberapa hari sebelumnya, beliau telah
menginformasikan bahwa pertemuan kali ini akan diisi dengan quiz sekaligus
simulasi Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mengukur pemahaman mahasiswa
terhadap materi-materi penting yang telah dipelajari.
Ketika seluruh mahasiswa telah berada di dalam kelas, Pak Iqbal
memasuki ruangan tepat pukul 14.00 WIB. Beliau mengenakan kemeja biru muda yang
rapi dan membawa beberapa lembar berkas serta laptop. Suasana kelas yang
sebelumnya masih dipenuhi obrolan perlahan menjadi hening.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab
seluruh mahasiswa serempak.
Pak Iqbal kemudian meletakkan berkas di atas meja dan menyalakan
proyektor. Setelah memastikan semua mahasiswa siap mengikuti perkuliahan,
beliau membuka kegiatan dengan memberikan motivasi.
"Hari ini kita akan melaksanakan simulasi UAS. Jangan anggap
ini sebagai sesuatu yang menakutkan. Anggaplah ini sebagai kesempatan untuk
melihat sejauh mana pemahaman kalian terhadap materi yang telah dipelajari
selama satu semester. Saya ingin melihat cara berpikir kalian, bukan hanya
kemampuan menghafal."
Kalimat tersebut membuat sebagian mahasiswa yang awalnya tegang
mulai merasa lebih tenang. Namun demikian, mereka tetap mempersiapkan diri
karena mengetahui bahwa pertanyaan dari Pak Iqbal sering kali menuntut analisis
yang mendalam.
Materi 1: Modifikasi Sarana dan Prasarana dalam Pembelajaran PJOK
Quiz pertama dimulai dengan materi mengenai modifikasi sarana
dan prasarana dalam pembelajaran PJOK.
Pak Iqbal menampilkan sebuah foto sekolah yang memiliki lapangan
sempit dan fasilitas olahraga yang terbatas. Beliau kemudian memberikan
pertanyaan kepada seluruh mahasiswa.
"Jika kalian menjadi guru PJOK di sekolah tersebut, bagaimana
cara kalian tetap melaksanakan pembelajaran yang efektif?"
Suasana kelas mulai hidup. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan
untuk menjawab.
Salah seorang mahasiswa menjelaskan bahwa guru dapat melakukan
modifikasi alat dan fasilitas agar pembelajaran tetap berjalan. Misalnya,
menggunakan kardus sebagai bet tenis meja, membuat bola kasti dari kertas bekas
yang dibungkus lakban, atau menggunakan tali tambang kecil sebagai alat
skipping.
Pak Iqbal mengangguk sambil menuliskan poin-poin penting di papan
tulis.
"Bagus. Seorang guru PJOK harus kreatif. Keterbatasan sarana
bukan alasan untuk tidak mengajar. Justru di situlah kemampuan inovasi seorang
guru diuji."
Beliau kemudian memberikan contoh pengalaman beberapa sekolah di
daerah terpencil yang mampu melaksanakan pembelajaran PJOK dengan baik meskipun
memiliki fasilitas yang sangat sederhana.
Diskusi berlangsung cukup lama. Mahasiswa tidak hanya membahas
contoh alat yang dimodifikasi, tetapi juga alasan pedagogis di balik modifikasi
tersebut, seperti faktor keamanan, kesesuaian usia peserta didik, efektivitas
pembelajaran, dan efisiensi biaya.
Pada sesi ini, mahasiswa mulai menyadari bahwa modifikasi sarana
dan prasarana bukan hanya tentang mengganti alat yang mahal dengan alat
sederhana, tetapi juga merupakan strategi pembelajaran untuk menciptakan
pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Materi 2: Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran
(ATP), dan Tujuan Pembelajaran (TP)
Setelah quiz pertama selesai, Pak Iqbal melanjutkan simulasi dengan
materi yang dianggap cukup menantang oleh sebagian mahasiswa, yaitu CP, ATP,
dan TP.
Beliau menampilkan sebuah dokumen Kurikulum Merdeka di layar
proyektor.
"Siapa yang bisa menjelaskan hubungan antara CP, ATP, dan
TP?"
Beberapa mahasiswa saling berpandangan. Meskipun mereka pernah
mempelajari materi tersebut, menjelaskannya secara runtut ternyata tidak mudah.
Pak Iqbal kemudian menunjuk salah seorang mahasiswa untuk menjawab.
Mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa Capaian Pembelajaran (CP)
merupakan kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada akhir fase
pembelajaran. Dari CP tersebut kemudian disusun Alur Tujuan Pembelajaran
(ATP) sebagai urutan logis pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Selanjutnya, ATP diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih
spesifik untuk setiap pertemuan.
"Jawaban yang bagus," ujar Pak Iqbal.
Beliau kemudian memberikan studi kasus mengenai pembelajaran senam
irama di SMA. Mahasiswa diminta menyusun CP menjadi ATP dan mengembangkannya
menjadi beberapa TP yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
Kegiatan ini membuat mahasiswa berpikir secara sistematis. Mereka
harus mampu menghubungkan capaian yang bersifat umum dengan tujuan pembelajaran
yang lebih konkret dan terukur.
Diskusi berlangsung hingga hampir satu jam. Setiap kelompok
mempresentasikan hasil pekerjaannya dan mendapatkan masukan langsung dari Pak
Iqbal.
Materi 3: Perbandingan Standar Penilaian Kurikulum Merdeka dengan
Negara Lain
Menjelang pukul 15.30 WIB, simulasi memasuki materi ketiga, yaitu perbandingan
standar penilaian Kurikulum Merdeka dengan negara lain.
Materi ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik karena
melibatkan perspektif internasional.
Pak Iqbal membuka pembahasan dengan pertanyaan sederhana.
"Mengapa Indonesia perlu mempelajari sistem penilaian negara
lain?"
Mahasiswa mulai mengemukakan berbagai pendapat. Ada yang menjawab
untuk mencari inspirasi, ada yang mengatakan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan nasional.
Pak Iqbal kemudian menjelaskan berbagai sistem penilaian yang
digunakan di beberapa negara seperti Finlandia, Jepang, Singapura, dan
Australia.
Beliau menjelaskan bahwa Finlandia lebih menekankan perkembangan
peserta didik secara holistik dan tidak terlalu bergantung pada ujian standar.
Jepang lebih menonjolkan pembentukan karakter dan kedisiplinan, sedangkan
Singapura dikenal dengan sistem asesmen yang sangat terstruktur.
Mahasiswa kemudian diminta membandingkan sistem tersebut dengan
Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di Indonesia.
Diskusi menjadi semakin menarik ketika beberapa mahasiswa
menyampaikan kritik dan saran terhadap sistem penilaian yang ada. Pak Iqbal
memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan menyampaikan argumen
berdasarkan referensi ilmiah.
Dari sesi ini, mahasiswa memahami bahwa penilaian bukan sekadar
memberikan angka, tetapi merupakan alat untuk membantu perkembangan peserta
didik secara berkelanjutan.
Materi 4: Modul Ajar
Memasuki pukul 16.00 WIB, pembahasan berlanjut pada materi Modul
Ajar.
Pak Iqbal membagikan contoh modul ajar PJOK yang telah disusun
sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Setiap mahasiswa diminta menganalisis struktur
dan isi modul tersebut.
Mahasiswa mempelajari berbagai komponen yang terdapat di dalamnya,
mulai dari identitas modul, kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, sarana
dan prasarana, model pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, hingga
asesmen.
Pak Iqbal menjelaskan bahwa modul ajar merupakan panduan yang
sangat penting bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.
"Guru yang baik bukan hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu
merancang pembelajaran dengan baik melalui modul ajar yang sistematis dan
terarah."
Beliau kemudian memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan modul yang sedang mereka analisis.
Mahasiswa terlihat sangat aktif dalam berdiskusi. Beberapa
memberikan saran mengenai variasi aktivitas pembelajaran, sementara yang lain
mengusulkan pengembangan instrumen asesmen yang lebih komprehensif.
Materi 5: Asesmen PJOK
Menjelang akhir perkuliahan, Pak Iqbal memasuki materi terakhir,
yaitu Asesmen PJOK.
Beliau menjelaskan bahwa asesmen dalam PJOK memiliki karakteristik
yang berbeda dibandingkan mata pelajaran lainnya karena harus mencakup tiga
ranah utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Mahasiswa kemudian diberikan sebuah skenario pembelajaran senam
lantai. Mereka diminta menyusun instrumen asesmen yang sesuai untuk mengukur
kemampuan peserta didik.
Beberapa kelompok membuat rubrik penilaian keterampilan gerak.
Kelompok lainnya menyusun lembar observasi sikap dan kerja sama. Ada juga yang
merancang asesmen formatif berbasis refleksi diri peserta didik.
Pak Iqbal mengamati setiap kelompok dengan seksama. Sesekali beliau
memberikan pertanyaan lanjutan untuk menguji kedalaman pemahaman mahasiswa.
Dari sesi tersebut, mahasiswa belajar bahwa asesmen bukan hanya
dilakukan di akhir pembelajaran, tetapi juga selama proses pembelajaran
berlangsung.
Penutup Simulasi UAS
Waktu menunjukkan pukul 15.45 WIB ketika seluruh rangkaian
quiz dan simulasi UAS selesai dilaksanakan. Meskipun lelah, mahasiswa merasa
mendapatkan banyak pengalaman dan pemahaman baru.
Sebelum mengakhiri perkuliahan, Pak Iqbal memberikan pesan kepada
seluruh mahasiswa.
"Sebagai calon guru PJOK, kalian harus memahami konsep, mampu
menerapkannya, dan mampu menyesuaikannya dengan kondisi nyata di sekolah. Dunia
pendidikan selalu berkembang, sehingga kalian juga harus terus belajar dan
beradaptasi."
Seluruh mahasiswa menyimak dengan penuh perhatian.
Setelah doa penutup dibacakan, perkuliahan pun berakhir. Mahasiswa
keluar dari kelas dengan membawa banyak catatan dan pengalaman berharga.
Simulasi UAS yang dimulai pukul 14.00 WIB itu bukan hanya menjadi
latihan menghadapi ujian akhir semester, tetapi juga menjadi sarana untuk
memperdalam pemahaman mengenai modifikasi sarana dan prasarana PJOK,
CP-ATP-TP, perbandingan standar penilaian Kurikulum Merdeka dengan negara lain,
modul ajar, serta asesmen PJOK, yang kelak akan menjadi bekal penting
ketika mereka terjun sebagai pendidik profesional di dunia pendidikan

0 comments:
Post a Comment