Kehidupan Aril

Almamater Universitas Syiah Kuala

Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

Senam Massal

Senam Massal di Lapangan Tugu Universitas Syiah Kuala.

Lhok Mata Ie Beach

Pantai Lhok Mata Ie Di Banda Aceh.

Furious FC

Tim Sepakbola Mahasiswa PJKR USK Let 24.

Gunung Sibayak

Kawah Gunung Sibayak 2212 MDPL.

Muaythai

Seni Wai Kru Individu MuayThai pada Pra PORA ACEH.

POLDA ACEH

Senam Massal Bersama POLDA ACEH.

Bukit Gundul

Sabana Bukit Gundul 1972 MDPL di puncak Sipiso-piso.

Proka FC

Tim Futsal dan Sepakbola Pematangsiantar.

ROHIS SMAN 2 PEMATANGSIANTAR

Organisasi Keagamaan Islam di SMAN 2 Pematangsiantar.

Thursday, October 10, 2024

Review Seminar Journalistik


Halo semuannya, hari ini aku mengikuti seminar menulis jurnalistik yang dibawakan oleh bapak Rusmadi, SH.I dan bapak Ariful Usman S.IP. Seminar ini mengajarkan bagaimana menulis berita sesuai kaidah jurnalistik yang benar. Di awal, Pak Ariful menjelaskan pentingnya menulis di era informasi seperti sekarang, di mana berita menyebar dengan cepat dan persaingan antar media sangat ketat. Menulis dengan baik bukan hanya soal keterampilan, tapi juga tentang menyampaikan kebenaran dengan akurat.

Dalam seminar ini, kami belajar banyak hal tentang dasar-dasar dalam menulis berita. Pemateri juga menjelaskan mengapa kita perlu menulis berita. Ternyata, menulis berita memerlukan tiga hal utama: pengetahuan, keterampilan jurnalistik, dan sikap etis. Pengetahuan penting agar kita paham konteks berita yang kita tulis, sementara keterampilan jurnalistik dibutuhkan untuk menyusun informasi dengan baik. Selain itu, sikap etis adalah kunci untuk menjaga integritas dalam menyampaikan berita tanpa bias.

Pak Ariful juga menekankan pentingnya memastikan berita yang kita tulis selalu akurat. Untuk itu, kita harus selalu mengecek atau mencari tau setiap sumber berita yang kita dapat atau kita baca. Berita juga harus lengkap dan seimbang, artinya kita harus menampilkan informasi dari berbagai sudut pandang agar adil dan tidak berat sebelah. Hal ini penting agar pembaca bisa mendapatkan gambaran yang utuh dari berita yang disajikan.

Selain itu, kami membahas tentang kode etik jurnalistik. Wartawan harus jujur dalam menjalankan tugasnya. Mereka bertanggung jawab untuk mencari informasi yang benar dan menyampaikannya kepada publik. Jika kode etik ini dilanggar, wartawan bisa mendapatkan sanksi moral dan reputasinya sebagai jurnalis bisa rusak. Maka, menjaga kepercayaan publik adalah hal yang sangat penting bagi seorang jurnalis.

Sebelum seminar berakhir, Pak Ariful juga memberi tips penting: membaca adalah kunci utama untuk menjadi penulis yang baik. Dengan banyak membaca, kita bisa memperkaya pengetahuan dan memperbaiki teknik menulis kita. Aku pulang dengan semangat untuk terus membaca dan menulis, serta meningkatkan kemampuan jurnalistikku agar bisa menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi orang banyak.




Daily Activity

Hai semuanya, salam kenal! Namaku Aril Dwi Ardana, dan kalian bisa memanggilku Aril atau nama panggilan lain yang kalian suka. Aku berasal dari Pematangsiantar, sebuah kota yang terletak di Sumatera Utara. Meskipun aku tidak tinggal tepat di pusat kota, aku tetap merasa menjadi bagian dari Siantar. Banyak teman-temanku yang berasal dari luar Sumatera Utara seringkali tidak mengenal kota ini. Bahkan setelah aku menjelaskan berkali-kali, mereka masih sering menyebutnya sebagai Medan, yang memang lebih dikenal luas.

Di blog pertamaku ini, aku ingin berbagi cerita tentang pengalaman perkuliahanku. Saat ini, aku menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama di Aceh, tepatnya di Banda Aceh, yang sering disebut sebagai Kota Serambi Mekkah. Kampus tempatku menimba ilmu adalah Universitas Syiah Kuala, yang memiliki julukan “Jantong Hatee Rakyat Aceh”. Selama belajar di USK, aku merasakan banyak perubahan positif dalam diriku. Dalam waktu sekitar dua bulan di Banda Aceh, aku sudah mempelajari banyak hal baru.

Pengalaman belajar di USK tidak hanya memperkaya pengetahuanku secara akademis, tetapi juga memberikan banyak pelajaran moral yang berharga. Universitas ini dikenal memiliki dosen-dosen yang sangat berkualitas, dengan hampir semua dosennya memiliki gelar doktor atau S3. Kemampuan dan dedikasi mereka dalam mengajar benar-benar menginspirasiku untuk belajar lebih giat. Aku sendiri kuliah di jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, yang lebih dikenal sebagai jurusan olahraga dengan fokus utama untuk menjadi guru.

Di jurusan ini, kami tidak hanya diarahkan untuk menjadi guru profesional, tetapi juga dididik untuk menjadi atlet yang berprestasi. Banyak kejuaraan yang telah diraih oleh mahasiswa dari jurusan ini, baik di tingkat daerah maupun nasional. Sebagai contoh, pada PON XXI Aceh-Sumut kemarin, banyak mahasiswa dari jurusan olahraga yang berhasil meraih medali emas, perak, dan perunggu. Jika ada yang bertanya mengapa aku memilih USK, jawabannya adalah karena universitas ini memiliki reputasi yang unggul.

USK tidak hanya terkenal di Aceh, tetapi juga di kancah nasional dan internasional. Mungkin cukup sekian dulu cerita di blog pertamaku ini. Di blog berikutnya, aku berencana untuk berbagi lebih banyak tentang keseharianku selama menjalani perkuliahan dan aktivitas olahraga yang kulakukan. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku ini. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan kesuksesan di masa depan. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!



Monday, September 30, 2024

Biografi Aril Dwi Ardana

Aril Dwi Ardana
 Nama : Aril Dwi Ardana

Tempat & Tanggal Lahir : Karang Rejo, 14 Juli 2006

Asal : Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia

Anak ke : Ke-2 dari 3 bersaudara

Usia : 18 tahun

Agama : Islam

Status : Mahasiswa

Hobi : Olahraga

Cita-cita : Presiden FIFA

Pendidikan : 

 • RA Darul Hidayah (2011-2012)

 • SDN 095560 Karang Sari (2012-2018)

 • MTsN Pematangsiantar (2018-2021)

 • SMAN 2 Pematangsiantar (2021-2024) 

 • Universitas Syiah Kuala (2024-selesai)

Kewarganegaraan : WNI


Aril Dwi Ardana adalah seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala, sebuah universitas terkemuka yang terletak di Banda Aceh, Indonesia. Lahir di Karang Rejo, sebuah desa kecil di pelosok Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Simalungun, Kecamatan Gunung Maligas, pada 14 Juli 2006, Aril tumbuh dan besar dalam lingkungan pedesaan yang kaya akan nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan.

Aril terlahir dari keluarga yang sederhana namun penuh kasih sayang. Ayahnya, Suwandi Pratama, adalah seorang kuli bangunan, dan ibunya, Sutresni, adalah seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Aril memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang adik laki-laki. Keluarga mereka selalu bersyukur atas segala rezeki yang diberikan Tuhan, dan inilah yang menjadi salah satu fondasi kuat dalam kehidupan Aril.

Sejak usia dini, Aril sudah menunjukkan minat yang kuat dalam berbagai bidang, terutama seni dan olahraga. Bakatnya dalam menggambar, bermain musik, serta kecintaannya terhadap sepak bola sudah terlihat sejak ia masih kecil. Meskipun memiliki bakat di beberapa bidang, Aril akhirnya memilih untuk fokus dan menekuni sepak bola. Minatnya pada olahraga ini bukan sekadar hobi, tetapi juga jalan untuk meraih cita-citanya menjadi Presiden FIFA.

Perjalanan karir Aril di dunia sepak bola dimulai ketika ia berusia 8 tahun. Saat itu, ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) di daerahnya, di mana ia mulai menunjukkan potensi yang luar biasa. Ketekunan dan semangatnya dalam berlatih membuat beberapa pelatih tertarik untuk mengajak Aril bermain dan berkarir di luar desanya. Pada usia 13 tahun, ia mulai bermain bersama tim-tim dari luar kabupaten dan kota, serta mengikuti berbagai kejuaraan baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.

Pada usia 16 tahun, Aril mencapai titik penting dalam karirnya dengan mengikuti kejuaraan nasional FOSSBI. Meskipun ia gagal meraih gelar juara, pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran berharga dan semakin memperkuat tekadnya untuk terus maju.

Selain berprestasi di bidang olahraga, Aril juga tidak melupakan pendidikan akademiknya. Ia dikenal sebagai siswa yang tekun dan berprestasi di sekolah, aktif dalam berbagai organisasi seperti Pramuka, Rohis, dan ekstrakurikuler futsal. Kecintaannya pada seni juga terlihat dari partisipasinya dalam kegiatan musik, seni qasidah, dan MTQ. Di lingkungan masyarakat, Aril aktif dalam organisasi Remaja Masjid, kepemudaan di kecamatannya, serta organisasi seni di kampung halamannya.

Cita-cita Aril untuk menjadi Presiden FIFA bukanlah sekadar mimpi kosong. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, ia sangat tekun belajar selama di SMA, hingga berhasil menjadi salah satu siswa eligibel di SMAN 2 Pematangsiantar. Meskipun sempat mengalami kegagalan saat ditolak oleh Universitas Negeri Medan, Aril tidak menyerah. Usahanya akhirnya terbayar ketika ia diterima di Universitas Syiah Kuala, yang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia.

Motivasi terbesar Aril datang dari kedua orang tuanya, yang telah berjuang keras untuk membesarkan dirinya dan kedua saudaranya. Ia bertekad untuk merubah nasib keluarganya dan mewujudkan impian besarnya. Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Aril memulai
langkah-langkah penting menuju masa depan yang ia impikan.